Maria Montessori Dan Perannya Bagi Pendidikan

Reading Time: 4 minutes

Sebagian besar dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata “Montessori”. Apalagi sebagai orang tua, kita pasti sering mendengar lembaga pendidikan yang membawa kata “Montessori” baik dari label nama, kurikulum atau metode yang dipakainya dalam mengajar anak. Tapi apakah Parents tau apa sebenarnya Montessori itu? Siapa pencetusnya dan mengapa Montessori ini begitu terkenal? Untuk pemahaman yang lebih baik, yuk simak artikel ini!

Maria Montessori

Montessori merupakan seorang pendidik, ilmuwan dan juga dokter. Montessori lahir di Chiaravalle, Italia pada tanggal 31 Agustus 1870. Meski lahir di Italia, Montessori mengenyam pendidikan di sebuah sekolah dasar di Roma. Montessori kemudian melanjutkan pendidikan menengah ke sekolah menengah teknik Regia Scuola Tecnica Michelangelo Buonarroti. Ia lulus tahun 1886 dengan nilai yang baik dan melanjutkan pendidikan ke Institut teknik Regio Istituto Tecnico Leonardo da Vinci. Disini ia mempelajari bahasa italia, matematika, sejarah, geografi, geometri dan menggambar ornamen, fisika, kimia, botani, zoologi, serta dua bahasa asing. Ia mahir dalam ilmu alam dan matematika khususnya.

Karena mahir di bidang ilmu alam dan matematika, Montessori memutuskan untuk kuliah kedokteran. Montessori kemudian mengajukan permohonan kepada Profesor Kedokteran Klinis di Universitas Roma, Guido Baccelli. Namun ia tidak mendapat dukungan.Tahun 1980, ia kemudian mendaftar program Diploma Ilmu Alam di Universitas Roma dan mendapat sertifikat pada tahun 1982. Dengan sertifikat ini dan kemampuan pendukung yang dimilikinya yaitu bahasa Italia dan Latin, ia kemudian memenuhi kualifikasi untuk masuk program Kedokteran pada tahun 1983. Montessori lulu dari Universitas Roma pada tahun 1986 sebagai dokter medis dan kemudian bekerja di rumah sakit universitas tersebut dan membuka praktik pribadinya.

Latar Belakang Metode Montessori

Saat menjadi seorang dokter, Maria Montessori melakukan banyak pengamatan di Klinik Psikiatri Universitas Roma. Dari kasus yang ia temukan, ia akhirnya sadar bahwa anak yang mengalami kesulitan atau keterlambatan dalam perkembangan adalah karena kurangnya lingkungan yang mendukung, anak – anak bosan karena tidak adanya media yang bervariasi dan tidak ruangan yang tidak nyaman bagi anak.

Dari kondisi ini, Montessori tergerak untuk membantu anak – anak tersebut melalui lingkungan yang menyenangkan. Ia yakin bahwa kondisi lingkungan baik ruang dan material penting bagi perkembangan intelektual dan sosial anak. Pada tahun 1900, Montessori mendirikan sekolah untuk anak – anak yang memiliki kesulitan belajar di Roma. Dari hasil didikannya, ia berhasil membantu hasil belajar anak – anak tersebut jauh lebih baik. Ia kemudian terus mengembangkan metodenya dan kini sudah dipakai oleh berbagai sekolah di seluruh dunia. Metode ini dikenal dengan sebutan metode Montessori.

Metode Montessori

Metode Montessori berfokus pada pengembangan diri anak secara holistik, dengan cara memberikan kebebasan pada anak untuk bereksplorasi di lingkungannya. Mulai dari perkembangan kognitif, sosial, dan fisik sesuai usianya. Prinsip utama dalam metode ini adalah “pembelajaran mandiri” dimana Montessori percaya bahwa anak belajar secara efektif ketika diberi pengalaman langsung dari lingkungannya.

Montessori mengembangkan berbagai media yang dirancang untuk memberikan stimulasi terhadap setiap panca indera anak dan mengembangkan keterampilan anak.Tak hanya fokus pada akademik, metode Montessori juga berfokus pada pengembangan sosial – emosional anak. Montessori percaya bahwa pendidikan merupakan sarana untuk membantu anak dalam mencapai potensi yang dimiliki secara optimal, menghargai individualitas dan keunikan setiap anak. Meski konsepnya adalah “pembelajaran mandiri”, bukan berarti gurus lepas tangan terhadap anak. Guru tetap bertugas menjadi pembimbing dan fasilitator bagi anak untuk memperoleh pengetahuannya.

Prinsip panduan metode Montessori adalah:

  1. Menghormati Pilihan Anak (Respect for the Child)
    Montessori percaya anak – anak harus dihormati. Rasa hormat ditunjukkan dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk membuat pilihan, melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri, dan belajar untuk diri mereka sendiri. Guru menjadi model yang menunjukkan sikap menghargai semua siswa, dan harus belajar mengamati tanpa menghakimi.
  2. Anak Menyerap Pengalaman yang diperoleh dari sekitarnya (The Absorbent Mind) Prinsip Montessori adalah anak belajar dari pengalaman di sekitar mereka. Melalui indera yang dimiliki anak, maka anak akan menyerap informasi yang berguna untuk mereka. 
  3. Periode Sensitif (Sensitive Periods)
    Montessori meyakini bahwa ada periode tertentu dimana anak lebih siap untuk mempelajari keterampilan tertentu. Periode ini dikenal sebagai periode sensitif. Melalui observasi, guru Montessori harus mengidentifikasi periode-periode sensitif pada siswa mereka dan menyediakan sumber daya bagi anak-anak untuk berkembang selama masa ini.
  4. Lingkungan Belajar yang Disesuaikan (Sensitive Periods)
    Metode Montessori menyatakan bahwa anak belajar lebih optimal di lingkungan yang telah disiapkan untuk memungkikan mereka melakukan aktivitas sendiri. Lingkungan belajar harus mengutamakan kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi pada aktivitas pilihan mereka. Guru harus menyediakan lingkungan belajar yang mampu memberikan pengalaman untuk pemerolehan pengetahuan anak.
  5. Pendidikan Mandiri (Independence and Discovery)
    Metode Montessori percaya bahwa anak mampu membangun pengetahuannya sendiri. Dalam metode ini, guru menjadi penyedia lingkungan, inspirasi, bimbingan dan dorongan bagi anak – anak untuk mendidik atau membentuk pengetahuan mereka sendiri. Namun tak hanya penyedia, guru juga bertugas membimbing dan mengarahkan anak ketika anak merasa kesulitan dalam melakukan aktivitas dalam membangun pengetahuan mereka sendiri.

Kegigihan dari Maria montessori di masa lampau memberi dampak besar bagi pendidikan di masa sekarang. Banyaknya lembaga pendidikan yang kini memakai metode Montessori memberikan akses bagi anak – anak untuk merasakan manfaat dari metode tersebut. 

Kamil, Nurhusni., Asriyani, Solatiyah. (2023). Analisis Penerapan Metode Montessori Pada Aspek Kemandirian Anak melalui Kegiatan Pembelajaran Practical Life. Jurnal Buah hati, 10(1), 1-7.

Masyrofah. (2017). Model Pembelajaran Montessori Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2(2), 105 – 116

Montessori Northwest. “Montessori Education”. Diakses tanggal 11 Juli 2023. https://montessori-nw.org/about-montessori-education

Sainte Anastasie. “Siapakah Maria Montessori?”. Diakses pada tanggal 11 Juli 2023. https://id.sainte-anastasie.org/articles/biografas/quin-fue-maria-montessori-biografa-de-esta-educadora-y-pedagoga.html 

Sapientia Montessori. “Guide to Montessori Teaching”. Diakses pada tanggal 11 Juli 2023. https://sapientiamontessori.com/montessori/about-montessori/#PRINCIPLES-OF-MONTESSORI-BASED-EDUCATION 

Supply Desk. “Pedagogy Profile: the Montessori Method”. Diakses pada tanggal 11 Juli 2023. https://www.supplydesk.co.uk/resource/pedagogy-profile-montessori-method/ 

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop