Butet Manurung, “Ibu Guru Hutan”

Reading Time: 3 minutes

“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, begitulah bunyi Pasal 31 ayat 1. Namun pada kenyataannya tak semua warga negara memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan apalagi bagi mereka yang tinggal di pedalaman. Kondisi ini menggerakkan hati Saur Marlina Manurung atau yang biasa dikenal dengan Butet Manurung untuk memberikan layanan pendidikan bagi mereka yang tidak bisa mengakses pendidikan di pedalaman melalui “Sokola Rimba”.

 

Butet Manurung

Butet manurung yang juga dikenal sebagai sosok Ibu guru dari hutan merupakan wanita kelahiran 21 Februari 1972. Butet merupakan sarjana Antropologi dan Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung. Tak hanya itu, Butet meraih gelar S2 di bidang Antropologi Terapan dan Pembangunan Partisipatif di Australian National University, Canberra. Butet juga pernah mengikuti kursus Global Leadership and Public Policy di Harvard Kennedy School, Universitas Harvard, USA.

Butet bergabung dengan sebuah proyek konservasi LSM Warsi di Bukit Duabelas Jambi pada tahun 1999. Butet ditugaskan untuk masuk ke hutan untuk menemui para Orang Rimba. Tak mudah bagi Butet melakukan pendekatan sekaligus meneliti kebutuhan mereka. Dibutuhkan kurang lebih 7 bulan bagi Butet untuk mendapatkan kepercayaan Orang Rimba. 

Butet menemukan bahwa Orang Rimba sering kehilangan lahan akibat ketidaktahuan mereka akan baca tulis. Mereka disodori kertas dan diminta cap jempol tanpa mengetahui isi dari kertas itu adalah persetujuan penjualan lahan. Orang yang hendak mengambil lahan ini mengatakan bahwa isi dari kertas itu adalah penghargaan bagi Orang Rimba karena sudah menjaga hutan. Karena kejadian ini, Orang Rimba menganggap orang luar musuh yang akan merebut dan merusak wilayah mereka.

Dari kondisi ini, Butet terdorong untuk membuka “Sokola Rimba” untuk memberikan layanan pendidikan bagi Orang Rimba. Meski bukan berlatar belakang sebagai pendidik, namun Butet belajar untuk menjadi guru agar dapat mengajar para Orang Rimba di pedalaman Jambi.

“Sokola Rimba”

Butet merupakan salah satu pendiri dari Sokola Rimba yang memberikan pendidikan kepada Orang Rimba dengan pendekatan antropologis. Sokola Rimba didirikan pada tahun 2003 dengan proses yang tidak mudah. Butet melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan ikut tinggal di hutan bersama anak didiknya. Ia belajar pola hidup, kondisi dan adat dan bahasa yang dipakai Orang Rimba sebelum melakukan pengajaran. Butet belajar hidup layaknya mereka seperti memakai sarung berkemban, berburu dan memakan apa yang Orang Rimba konsumsi seperti kancil, ular hingga kelelawar. 

Hal ini dilakukan agar Butet mendapat kepercayaan sebelum memberikan pengajaran bagi Orang Rimba. Setelah mendapat kepercayaan, Butet mulai mengajarkan calistung secara perlahan. Butet juga memainkan alat tulis bagi anak – anak di sana. Materi pendidikan yang diberikan oleh Butet adalah mengedepankan masalah yang dihadapi Orang Rimba, tentang hubungan dengan alam, pencipta, dan manusia. Program Sokola Rimba harus relevan dengan keseharian Orang Rimba, termasuk dalam upaya pengkaderan untuk membantu Orang Rimba mencari solusi atas konflik-konflik lahan dan hutan. Melalui pendidikan, Orang Rimba diharapkan mampu mempertahankan hak-hak mereka.

Butet melihat kondisi ini sangat perlu diperhatikan, ia berpikir ini hanya masih satu suku saja. Bagaimana suku – suku lainnya yang tidak mendapatkan akses pendidikan? Dari kekhawatiran ini, Sokola Rimba berkembang untuk memberikan layanan pendidikan bagi komunitas adat yang tinggal di pedalaman, dan kini Sokola Rimba dapat menjangkau 17 komunitas adat di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Flores, Halmahera, Bulukumba (Sulawesi), Pulau Besar dan Gunung Egon, Aceh, Yogyakarta, Makassar, Klanten, dan Sumba. 

Setelah 18 tahun, Sokola Rimba berubah menjadi Sokola Institute dan menjangkau anak – anak di seluruh suku pedalaman, tak hanya anak – anak di hutan tetapi anak – anak pesisir juga ikut dijangkau oleh Sokola Institute.

Dari hasil kegigihannya, Butet menerima berbagai penghargaan baik Nasional maupun Internasional seperti Man and Biosphere UNESCO (2011), Hero of Asia TIME Magazine (2004), Ashoka Fellow (2006), Asia Young Leader (2007), Young Global Leader (2009), Ernst and Young Indonesian Social Entrepreneur of the Year (2012), dan Asia Nobel Prize Ramon Magsaysay Award (2014).

Pengalaman mengajar Butet juga diangkat dalam sebuah film yang disutradarai Riri Riza yang berjudul “Sokola Rimba”. Film ini juga mendapat banyak penghargaan seperti Piala Maya (2013), Environmental Film Festival in the Nation’s Capital, USA (2014), Cinemasia Film Festival, Netherland (2014), 9th Indonesian Film Festival, Melbourne & Sydney, Australia (2014), dan CINEMAGS Readers Choice Award (2014).

Dari Butet Manurung kita belajar bahwa pendidikan sangat penting untuk dapat mempertahankan hak – hak kita dengan benar. Seperti kata pepatah “semua guru, semua murid”, kita semua bertanggung jawab dalam mengoptimalkan pendidikan di Indonesia. Mari kita sama – sama menjadi pelopor pendidikan untuk kemajuan bangsa kita.

Sumber 

Halim, Muhammad. “Kisah Butet Manurung: Ibu Guru dari Hutan yang Jadi Pahlawan Pendidikan”. Diakses pada tanggal 20 Juni 2023. https://edoo.id/2023/02/kisah-butet-manurung-ibu-guru-dari-hutan-yang-jadi-pahlawan-pendidikan/ 

Purba, Prihardani. “Mimpi Butet Manurung untuk Masyarakat Adat di Indonesia”. Diakses pada tanggal 20 Juni 2023. https://www.dw.com/id/mimpi-butet-manurung-untuk-masyarakat-adat-di-indonesia/a-59406373 

Thiara, Claressa., Anggia, Shalli. “Butet Manurung, Sosok di Balik Inspirasi Sokola Rimba”. Diakses pada tanggal 20 Juni 2023. https://mediapijar.com/2021/11/butet-manurung-sosok-dibalik-inspirasi-sokola-rimba/

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop