Perkembangan Bahasa Balita: Tahapan & Cara Orang Tua Mendukungnya

Reading Time: 5 minutes

Perkembangan bahasa balita merupakan proses belajar anak untuk berkomunikasi, mulai dari suara ocehan sederhana hingga mampu menyusun kalimat dengan tepat untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya. Proses ini melibatkan kemampuan mendengar, meniru, mengingat hingga menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.

Proses ini berlangsung secara bertahap dan setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda. Namun, para orang tua perlu tahu apa saja tahapan yang dilalui anak dalam perkembangan bahasanya agar mampu mendukungnya dengan optimal.

Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa Balita

Ada beberapa tahap yang dilalui oleh balita dalam perjalanan perkembangan bahasanya, yaitu:

Tahapan

Keterangan

The Pre-Linguistic Stage 

(Tahap Pra-Linguistik): 0-12 bulan

  • Pada tahap ini bayi akan mulai berkomunikasi lewat tangisan, ocehan (cooing), dan babbling.
  • Bayi pada usia 6-8 minggu akan mulai mengoceh dengan mengeluarkan suara mirip huruf vokal seperti “aaa” atau “ooo”
  • Pada usia 6 bulan, bayi akan mulai mengoceh dengan kombinasi konsonan-vokal berulang (babbling), seperti “ba-ba”, “da-da”.
  • Tujuan dari tahapan ini adalah melatih organ bicara, mendorong anak bereksperimen dengan pita suara, serta mengenalkan bahwa suara bisa dipakai untuk berinteraksi dengan orang lain.

The Single-Word Stage

(Tahap Kata Tunggal):

12-18 bulan

  • Pada tahap ini, anak mulai mengucapkan kata tunggal pertama yang jelas, biasanya nama benda atau orang yang dekat dengannya seperti “mama”, “papa” atau “bola”, “buku”.
  • Kosakata akan mulai berkembang pesat meski terbatas pada kata benda maupun nama orang dekat di sekitarnya.
  • Anak mulai memahami lebih banyak kata daripada yang bisa diucapkannya.

The Two-Word Stage

(Tahap Dua Kata):

18-24 bulan

  • Anak mulai menyusun kata menjadi frasa sederhana, misalnya “mau susu,” “mau kue,” atau “main bola”.
  • Hal ini menandai pemahaman awal tentang tata bahasa dan hubungan antar kata.
  • Anak sudah mampu mengekspresikan keinginan dan perasaannya lebih jelas.

Telegraphic Stage (Tahap Kalimat Telegrafik):

24-30 bulan

  • Anak mulai menyusun 3 kata atau lebih, tapi hanya menggunakan kata inti (kata benda, kata kerja, kata sifat). Kata kecil seperti “di”, “ke”, “yang”, atau imbuhan sering dihilangkan. Contoh: “adik tidur kasur”, “mau makan nasi”, “aku main bola”

The Multi-Word Stage (Tahap Kalimat Panjang / Multikata):

2.5 – 5 tahun

  • Kalimat anak makin panjang dan jelas, menggunakan kata sambung, kata depan, atau bentuk jamak. Contoh “Aku mau main di taman sama mama”, “Itu punya aku dan adik”, “Kemarin aku pergi ke sekolah”.
  • Bisa bercerita singkat tentang pengalaman sehari-hari.

Strategi Orang Tua dalam Mendukung Perkembangan Bahasa Anak

Strategi orang tua dalam mendukung perkembangan bahasa balita sangat penting karena kemampuan bahasa merupakan dasar bagi keterampilan komunikasi, berpikir, dan belajar anak di masa depan. Berikut beberapa strategi yang dapat orang tua terapkan:

  1. Menciptakan Lingkungan yang Kaya Bahasa
    Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Lingkungan ini tidak hanya berarti banyak kata yang didengar anak, tetapi juga suasana yang mendorong mereka untuk berinteraksi, bertanya, dan mengekspresikan diri. Anak yang terbiasa mendengar kosakata beragam sejak dini akan lebih cepat menguasai kata-kata baru dan memahami cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
    Cara yang bisa dilakukan:


    Contoh: Saat mencuci piring, Anda bisa berkata, “Mama sedang mencuci piring dengan sabun, lihat busanya banyak sekali.”
  2. Menciptakan Lingkungan yang Kaya Bahasa
    Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Lingkungan ini tidak hanya berarti banyak kata yang didengar anak, tetapi juga suasana yang mendorong mereka untuk berinteraksi, bertanya, dan mengekspresikan diri. Anak yang terbiasa mendengar kosakata beragam sejak dini akan lebih cepat menguasai kata-kata baru dan memahami cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
    Cara yang bisa dilakukan:

    • Ajak anak mengobrol, meskipun mereka belum bisa menjawab.
    • Bacakan buku dengan suara lantang.
    • Beri penamaan pada benda di sekitar rumah, misalnya: “Ini gelas”, “Itu kursi” sambil menunjuk benda,
    • Gunakan bahasa dalam rutinitas harian, seperti saat memasak atau membersihkan.
    Contoh: Saat mencuci piring, Anda bisa berkata, “Mama sedang mencuci piring dengan sabun, lihat busanya banyak sekali.”
  3. Membaca Bersama Setiap Hari
    Membaca juga merupakan strategi efektif dalam mendorong perkembangan bahasa anak. Membaca bersama balita jauh lebih efektif jika dilakukan secara interaktif, bukan sekadar membacakan teks.
    • Ajukan pertanyaan sederhana: “Mana kucingnya?” atau “Apa warna bajunya?”
    • Dorong anak menunjuk gambar: ini membantu mereka menghubungkan kata dengan visual.
    • Diskusikan cerita: meskipun sederhana, tanyakan pendapat anak, misalnya “Menurut kamu, kelinci ini sedang apa?”
    Kegiatan membaca seperti ini tidak hanya memperluas kosakata, tetapi juga mengajarkan anak memahami alur cerita, mengembangkan imajinasi, serta melatih kemampuan mengekspresikan pikiran dan perasaan.
  4. Menggunakan Lagu dan Sajak (Rhymes)
    Menggunakan lagu dan sajak (Rhymes) dapat mendukung perkembangan bahasa anak dengan menyenangkan. Orang tua dapat:
    • Menyanyikan lagu anak-anak dengan pengulangan kata atau rima sederhana.
    • Menggunakan gerakan tubuh seperti bertepuk tangan atau menari mengikuti lagu untuk memperkuat ingatan.
    • Mengulang lagu yang sama secara rutin agar anak familiar dengan bunyi kata dan pola kata maupun kalimat.
  5. Belajar melalui Bermain
    Dunia bermain adalah sarana alami untuk belajar bahasa. Saat anak bermain, mereka lebih santai dan mudah menyerap kosakata baru. Contohnya:
    • Bermain balok: sebutkan warna, bentuk, dan ukuran balok sambil menyusunnya.
    • Bermain peran (pretend play): misalnya pura-pura menjadi dokter, guru, atau penjual. Orang tua bisa menambahkan kosakata baru sesuai peran.
    • Menggunakan mainan edukatif: puzzle, kartu gambar, atau boneka bisa menjadi media untuk mengenalkan kata dan konsep baru.
    Dengan bermain, anak belajar tanpa merasa dipaksa. Mereka lebih mudah menyerap kosakata baru ketika aktivitasnya menyenangkan.
  6. Dorong Percapakan Dua Arah
    Aktivitas rutin sehari-hari dapat menjadi kesempatan alami untuk mengembangkan bahasa anak. Misalnya:
    • Saat memasak: Ceritakan langkah yang dilakukan, misalnya, “Ibu sedang mencuci beras, lalu memasukkannya ke panci.”
    • Saat makan: ajak anak menyebut nama makanan, warna, atau rasa.
    • Saat perjalanan: tunjukkan benda di sekitar seperti “Lihat, ada bus besar warna kuning.”
    Kebiasaan ini tidak hanya memperkaya kosakata anak, tetapi juga meningkatkan keterampilan kognitif serta sosial mereka secara keseluruhan, termasuk keterampilan berkomunikasi seperti kemampuan untuk meminta, menolak, menyampaikan pendapat, maupun mengekspresikan perasaan dengan lebih tepat.
  7. Dorong Percapakan Dua Arah
    Selain memperkenalkan kosakata, penting bagi orang tua untuk memberi ruang agar anak berani menggunakan bahasa.
    • Tirukan ocehan anak: Jika anak ber-oceh atau babbling, tirukan kembali dengan ekspresi senang. Ini membuat anak merasa usaha komunikasinya dihargai.
    • Perluas kata yang mereka ucapkan: Jika anak mengatakan “kucing,” balas dengan, “Iya, itu kucing putih yang sedang tidur.” Cara ini memperkenalkan kalimat lebih panjang.
    • Ajukan pertanyaan sederhana: Gunakan pertanyaan terbuka, seperti “Kamu mau makan apa?” agar anak terdorong menggunakan lebih banyak kata.
    Ajukan pertanyaan sederhana: Gunakan pertanyaan terbuka, seperti “Kamu mau makan apa?” agar anak terdorong menggunakan lebih banyak kata.
  8. Bersabar dan Berikan Dukungan Positif
    Setiap anak memiliki kecepatan belajar bahasa yang berbeda. Orang tua perlu memberikan dukungan tanpa tekanan.
    • Rayakan usaha kecil: Walau ucapannya belum jelas, tunjukkan apresiasi. Misalnya, anak berkata “wawa” untuk air, balas dengan, “Iya, kamu mau minum air, ya?”
    • Jangan terlalu sering mengoreksi: Alih-alih langsung membetulkan, ulangi kata yang benar dalam kalimat penuh sehingga anak menirunya secara alami.
    • Bangun rasa percaya diri: Dengan pujian dan dukungan, anak akan lebih bersemangat mencoba berbicara lagi.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menciptakan lingkungan yang kaya bahasa di rumah. Mulailah dari hal-hal sederhana hari ini: deskripsikan apa yang Anda lakukan, rayakan setiap kata baru yang anak ucapkan, dan berikan dukungan penuh semangat. Dengan konsistensi dan kesabaran, orang tua tidak hanya membantu anak berbicara lebih baik, tetapi juga membangun rasa percaya diri, keterampilan sosial, dan fondasi kuat untuk keberhasilan mereka di masa depan.

Sumber:

Byington, T. A., & Kim, Y. (n.d.). Toddler Language Development [Fact sheet FS-14-07]. University of Nevada Cooperative Extension. Diambil 6 Januari 2025, dari https://extension.unr.edu/publication.aspx?PubID=2469 Extension | University of Nevada, Reno

Innovative Learning Center. (2024, 29 Oktober). Understanding the stages of language development in children. Diambil 6 Januari 2025, dari https://innovativelearningcenter.co.id/en/understanding-the-stages-of-language-development-in-children/ innovativelearningcenter.co.id

Raising Children Network. (2023, 19 Desember). Language development: children 0-8 years. Diambil 6 Januari 2025, dari https://raisingchildren.net.au/babies/development/language-development/language-development-0-8

Raising Children Network. (2023, 19 Desember). Language development: 1-2 years. Diambil 6 Januari 2025, dari https://raisingchildren.net.au/toddlers/development/language-development/language-1-2-years Raising Children Network

Study.com. (n.d.). Stages of Language Development | Overview & Activities. Diambil 6 Januari 2025, dari https://study.com/learn/lesson/stages-language-development-overview-chart.html study.com

Add Your Heading Text Here

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop