Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Reading Time: 3 minutes

Sub Topik:

Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk dan mengarahkan perkembangan suatu bangsa menjadi lebih baik. Di Indonesia, salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan adalah Ki Hajar Dewantara. Beliau merupakan seorang tokoh pendidikan yang berjuang untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi rakyat Indonesia. 

Artikel ini akan membahas lebih dalam profil Ki Hajar Dewantara serta peranannya yang besar dalam pendidikan Indonesia.

Profil Ki Hajar Dewantara

Lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga seorang wartawan, penyair, dan aktivis sosial yang meninggalkan jejak berharga dalam sejarah pendidikan Indonesia. Oleh karena itu setiap tanggal 2 Mei diperingati hari pendidikan sebagai penghargaan akan perjuangan dan kebebasan semua rakyat Indonesia dalam mengenyam pendidikan.

Ki Hajar Dewantara mengawali pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School) Yogyakarta, lalu melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), yang kemudian dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun ia tidak menyelesaikan pendidikannya karena alasan kesehatan. 

Beberapa tahun kemudian Ki Hajar Dewantara kemudian melanjutkan studinya di Belanda. Di sana, ia bergabung dengan “Perhimpunan Indonesia”, sebuah kelompok mahasiswa Indonesia. Di sana, ia meneliti tentang pendidikan dan filsafat. Setelah kembali ke Indonesia, ia bekerja sebagai guru di sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Pada tahun 1922, ia mendirikan “Taman Siswa”, yang menjadi landasan perkembangan pendidikan Nasional Indonesia.

Peran Ki Hajar Dewantara bagi Indonesia

Ki Hajar Dewantara memiliki peran yang besar dalam pendidikan Indonesia, maka tak heran jika ia disebut dengan “Bapak Pendidikan Indonesia”. Beliau juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan pertama di Indonesia pada tahun 1956 karena dedikasinya kepada pendidikan Indonesia.

  1. Mendirikan “Taman Siswa”
    Salah satu kontribusi terbesar Ki Hajar Dewantara adalah “Taman Siswa.” Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 juli 1922 di Yogyakarta. Sekolah Taman Siswa pertama kali didirikan dengan nama “National Onderwijs Institut Taman Siswa”, yang kemudian berubah menjadi Taman Siswa. Nama Taman Siswa sendiri berasal dari kata “Taman” yang berarti tempat bermain atau tempat belajar dan kata “Siswa” yang berarti Murid.

    Konsep dasar dalam sekolah Taman Siswa guru dikenal sebagai Patrap Triloka. Konsep ini dikembangkan oleh Dewantara setelah ia mempelajari sistem pendidikan yang diperkenalkan oleh Maria Montessori di Italia dan Rabindranath Tagore di India dan Benggala.

    Patrap Triloka memiliki unsur-unsur yang sering kita dengarr yaitu:
    1. Ing ngarsa sung tulada: “(yang) di depan memberi teladan”
    2. Ing madya mangun karsa: “(yang) di tengah membangun kemauan/inisiatif”
    3. Tut wuri handayani: “dari belakang mendukung”
  2. Perjuangan Melawan Kolonialisme
    Ki Hajar Dewantara adalah aktivis yang gigih dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa untuk melawan penjajahan di Indonesia. Model perjuangan Taman Siswa tidak melawan lewat jalur politik melainkan Taman Siswa didirikan untuk menentang penjajahan melalui pendidikan dan kebudayaan. Tujuan terakhir Taman Siswa adalah memperoleh kemerdekaan Indonesia, yang dicapai pada tahun 1945.
  3. Pendidikan untuk Semua
    Ki Hajar Dewantara juga dikenal sebagai pelopor pendidikan yang inklusif. Ia berjuang agar pendidikan dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk yang berasal dari lapisan masyarakat yang kurang mampu dan mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Pendidikan tidak boleh menjadi hak yang terbatas bagi segelintir orang.
  4. Pengembangan Bahasa dan Budaya
    Beliau menggagas penggunaan bahasa Indonesia dalam pendidikan dan mempromosikan kesenian serta budaya Indonesia dalam kurikulum. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat identitas nasional dan membangun kebanggaan akan warisan budaya.

Warisan dan Pengaruh Ki Hajar Dewantara

Meskipun Ki Hajar Dewantara meninggal pada tahun 1959, warisan yang ditinggalkan untuk dunia pendidikan Indonesia masih bertahan dan berdampak hingga hari ini. Seiring berjalannya waktu, Taman Siswa telah berkembang menjadi jaringan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Selain itu, gagasan pendidikan holistik yang dipromosikan oleh Ki Hajar Dewantara terus menjadi dasar untuk pengembangan kurikulum dan pendekatan pendidikan di Indonesia.  Ada 6 Inspirasi Pembelajaran dari Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu:

  1. Menerapkan Teori TRIKON (kontinu, konsentris dan konvergen)
  2. Menumbuhkan Daya Cipta (Kognitif), Daya Rasa (Afektif) dan Daya Karsa (Psikomotor)
  3. Metode Sistem Among (metode pengajaran sesuai dengan asih, asah dan asuh)
  4. Pendidikan Harus Relevan dengan Kehidupan
  5. Pengembangan Pendidikan Selaras dengan Nilai Budaya
  6. Membentuk Pribadi yang Mandiri

Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara tidak hanya menjadi pionir dalam pendidikan Indonesia, tetapi juga merupakan salah satu arsitek transformasi sosial dan budaya yang terjadi dalam sejarah negara ini. Dia telah memberikan fondasi yang kuat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia melalui perjuangannya dan pemikirannya. Warisan ini akan dikenang dan dihargai oleh generasi-generasi mendatang.

Sumber:

Kejar Cita. “6 Inspirasi Pembelajaran dari Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara”. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2023. https://blog.kejarcita.id/6-inspirasi-pembelajaran-dari-konsep-pendidikan-ki-hajar-dewantara/ 

Kids Grid. “Organisasi Taman Siswa: Sejarah Berdiri, Ajaran, dan Perkembangannya”. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2023. https://kids.grid.id/read/473661702/organisasi-taman-siswa-sejarah-berdiri-ajaran-dan-perkembangannya

Museum Kebangkitan Nasional. “Sekolah Taman Siswa: Pendidikan untuk Kebangsaan dan Jiwa Merdeka”. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2023. https://muskitnas.net/2022/05/02/sekolah-taman-siswa-pendidikan-untuk-kebangsaan-dan-jiwa-merdeka/ 

Riyanti,dkk, Dwi. (2022). Pendidikan Berbasis Budaya Nasional Warisan Ki Hajar Dewantara. EDUKATIF, 4(1), 345-354.

Sugiarta, I. M., dkk. (2019). Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara (Tokoh Timur). Jurnal Filsafat Indonesia, 2(3), 124-136.

Wiryopranoto, S., dkk. (2017). Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Dari Politik ke Pendidikan.  Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop