Bukan Orang Tua Kandung, Tapi Tetap Rumah: Peran Pengasuh Pengganti dalam Membangun Rasa Aman & Percaya Diri Anak

Reading Time: 7 minutes

Mom & Dad, tidak semua anak tumbuh dengan orang tua kandung mereka. Ada anak yang diasuh oleh kakek-nenek, keluarga besar, atau pengasuh lain karena berbagai keadaan seperti orang tua meninggal, bekerja jauh, perceraian, maupun kondisi keluarga lainnya yang membuat anak harus terpisah dari orang tua kandung.

Di Indonesia, situasi ini bukan hal yang asing. UNICEF Indonesia mencatat 25.430 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya akibat COVID-19 dan sebagian besar saat ini diasuh oleh anggota keluarga perempuan dari keluarga besar. Kondisi seperti ini menuntut pemahaman ekstra agar anak tetap tumbuh sehat secara emosional dan sosial meski tidak diasuh oleh orang tua kandung.

Karena itu, bagi Mom & Dad yang saat ini berperan sebagai pengasuh pengganti atau orang tua sambung, memahami dunia anak menjadi langkah yang sangat penting. Dengan pendekatan yang tepat, anak tetap bisa merasa aman, dicintai, dan tumbuh dengan baik meski berada dalam struktur keluarga yang berbeda.

Memahami Anak dengan Pengasuh Pengganti

Pengasuhan oleh pengganti (kinship care atau alternative caregiving) adalah kondisi ketika anak tidak diasuh langsung oleh orang tua kandungnya, melainkan oleh anggota keluarga lain atau pengasuh terpercaya (seperti kakek-nenek atau keluarga terdekat). Pengasuhan pengganti terjadi ketika orang tua kandung tidak bisa merawat anak secara langsung, misalnya karena orang tua bekerja jauh, mengalami perceraian, sakit berat, atau meninggal dunia.

Dalam situasi seperti ini, meskipun sosok orang tua biologis berjarak atau bahkan tidak ada, kebutuhan dasar anak tetap sama: kasih sayang, rasa aman, dan ikatan (attachment) yang kuat. Teori kelekatan (attachment) menyatakan bahwa anak membentuk ikatan aman saat pengasuhnya selalu responsif terhadap kebutuhannya dan kelekatan aman ini berdampak positif pada perkembangan anak selanjutnya.

Dengan kata lain, meski diasuh oleh kakek-nenek atau pengasuh lain, anak tetap butuh perhatian hangat, konsistensi, dan kehadiran emosional. Tantangan yang mungkin timbul adalah perbedaan pola asuh antargenerasi, energi pengasuh yang lebih terbatas, atau kebiasaan asuh lama yang kurang sesuai dengan kebutuhan anak masa kini. Namun, jika pengasuh mampu belajar dan bekerja sama, dukungan ini justru bisa sangat positif untuk anak.

Dampak Kehilangan Sosok Orang Tua pada Anak

Kehilangan sosok orang tua atau perubahan besar dalam pengasuhan sering memunculkan reaksi emosional yang campur aduk. Reaksi emosional yang umumnya anak rasakan seperti:

  • Sedih atau merasa kehilangan;
  • Bingung (“Kenapa aku tidak tinggal dengan orang tua?”);
  • Marah atau kecewa;
  • Merasa ditolak atau tidak diinginkan.

Perasaan ini bisa muncul dalam bentuk perilaku, seperti:

  • Menarik diri;
  • Mudah marah atau agresif;
  • Sulit percaya pada orang lain;
  • Menjadi sangat bergantung atau justru sangat mandiri secara ekstrem.

Dalam jangka pendek, reaksi emosi dan tingkah laku ini wajar terjadi karena mereka berusaha memahami perubahan besar dalam hidupnya. Namun, tanpa penanganan yang baik, dalam jangka panjang anak berisiko mengalami kecemasan, depresi, masalah harga diri, hingga gangguan emosional yang lebih serius.

Penelitian bahkan menyebutkan bahwa anak-anak yang kehilangan orang tua di usia dini rentan mengalami kecemasan dan depresi yang berkelanjutan. Itulah sebabnya respons lingkungan sangat penting. Anak butuh dukungan penuh dan pengertian agar bisa mengatasi duka dan tumbuh kuat kembali.

Cara Menjelaskan Kondisi Keluarga Kepada Anak

Anak berhak tahu situasi keluarga mereka, dengan cara yang sesuai dengan usianya. Komunikasikan dengan jujur dan sederhana, jangan beri penjelasan yang berbelit dan menyalahkan pihak mana pun.

Kita bisa menjelaskan kepada anak: 

Situasi

Usia 2 – 5 tahun

6 Tahun ke Atas

Catatan Penting

Orang tua bekerja jauh/ tidak tinggal bersama

  • “Ayah sedang bekerja di tempat yang jauh dulu.”
  • “Sekarang kamu tinggal sama nenek, ya. Nenek sayang kamu.”
  • “Kadang orang dewasa harus tinggal terpisah karena pekerjaan, tapi Ayah dan Bunda tetap sayang kamu.”

Tekankan bahwa hubungan tetap ada meski jarak jauh.

Perceraian orang tua

  • “Ayah dan Bunda sekarang tinggal di rumah yang berbeda, tapi kami tetap sayang kamu.”
  • “Ayah dan Bunda memutuskan tidak tinggal bersama, tapi itu bukan karena kamu. Kamu tetap anak kami dan kami sama-sama menyayangimu.”

Sebaiknya disampaikan bersama oleh kedua orang tua jika memungkinkan.

Orang tua sakit/tidak bisa mengasuh sementara

  • “Bunda lagi sakit, jadi sementara kamu dijaga paman.”
  • “Bunda sedang sakit dan butuh waktu untuk sembuh, jadi sekarang kamu diasuh dulu oleh keluarga.”

Beri pemahaman bahwa ini bersifat sementara (jika memang demikian).

Orang tua meninggal dunia

  • “Ayah sudah meninggal. Artinya tubuh Ayah sudah tidak bisa bernapas atau kembali lagi.”
  • “Kita tidak bisa bertemu Ayah lagi, tapi kita tetap bisa mengingat dan menyayanginya.”
  • “Ayah meninggal karena sakit. Tubuhnya sudah tidak bisa bekerja lagi, jadi Ayah tidak bisa kembali.”
  • “Kita semua sedih, dan itu wajar. Kamu boleh merasa apa saja.”

Hindari istilah seperti “tidur lama” atau “pergi jauh” karena bisa membingungkan.


Hindari berbohong atau menyembunyikan kebenaran. Jika anak akhirnya tahu jawaban sebenarnya dari orang lain, kepercayaan mereka bisa runtuh. Keterbukaan yang lembut dan empati dalam menjelaskan akan sangat membantu anak memahami keadaan tanpa trauma berkepanjangan.

Peran Pengasuh Pengganti: Menjadi Rumah yang Aman bagi Anak

Sebagai pengasuh pengganti, kakek-nenek atau anggota keluarga lainnya memiliki peran kunci dalam menggantikan fungsi orang tua kandung. Mereka bukan sekadar “menjaga”, tapi juga menjadi sosok utama yang menggantikan kehadiran orang tua untuk menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan arah dalam kehidupan anak.

Beberapa peran pengasuh pengganti bagi anak:

  1. Memberi Kasih Sayang dan Stabilitas
    Anak membutuhkan lebih dari sekadar perawatan fisik; mereka membutuhkan kehangatan emosional. Kehadiran yang konsisten, perhatian kecil, rutinitas harian, maupun quality time akan membantu anak merasa aman, diterima, dan tidak sendirian.
  2. Menjadi Figur yang Konsisten dan Dapat Dipercaya
    Anak perlu tahu bahwa ada figur dewasa yang selalu ada untuknya. Jadilah pendengar yang baik, tepati janji kepada anak, dan tawarkan pelukan atau kata-kata menenangkan ketika mereka membutuhkan. Konsisten hadir di sini sangat berpengaruh: apabila anak merasa kehidupannya dapat diprediksi (misalnya tahu rutinitas harian, siapa yang menjemput, kapan waktu bermain), ia lebih mudah merasa tenang.
  3. Mengasuh, Mendidik, dan Memberi Batasan
    Peran pengasuh tidak berhenti pada memberi kasih sayang, tapi juga:
    • Mengajarkan nilai dan perilaku;
    • Menetapkan aturan yang jelas;
    • Memberikan arahan dengan cara yang sehat.
    Pendekatan yang paling efektif adalah pola asuh hangat juga tegas (otoritatif), di mana anak tetap merasa dicintai, tapi juga memahami batasan. Penelitian menunjukkan gaya asuh otoritatif (kasih sayang + batasan) paling efektif membantu perkembangan anak. Tantangannya, perbedaan generasi kadang membuat kakek-nenek atau pengasuh pengganti perlu belajar metode baru (misalnya, mendisiplinkan tanpa kekerasan).
  4. Menjadi “Jembatan Emosi” Anak
    Sering kali anak menyimpan banyak perasaan yang tidak terucap, seperti rindu, bingung, bahkan marah pada kondisi keluarganya. Pengasuh pengganti bisa berperan sebagai:
    • Tempat anak bercerita tanpa takut dihakimi;
    • Orang yang membantu menamai perasaan anak (“Kamu lagi kangen ya?”);
    • Pendamping saat anak mengalami kesedihan atau kehilangan.
    Ini penting agar emosi anak tidak dipendam dan berkembang menjadi masalah di kemudian hari.
  5. Bekerja Sama dengan Orang Tua Kandung (Jika Masih Ada)
    Jika orang tua kandung masih hidup, penting untuk tetap melibatkan mereka dalam kehidupan anak, misalnya melalui:
    • Telepon atau video call;
    • Kunjungan rutin;
    • Komunikasi yang terbuka.
    Tujuannya agar anak:
    • Tetap merasa memiliki kedua orang tuanya;
    • Tidak bingung atau merasa harus memilih salah satu pihak.
    Anak akan jauh lebih kuat ketika ia merasakan dukungan dari semua orang dewasa di sekitarnya, bukan justru terjebak dalam konflik.

Peran pengasuh pengganti sangat bermakna bagi anak. Dengan kasih sayang yang konsisten, kehadiran yang dapat diandalkan, serta bimbingan yang hangat dan tegas, anak tetap bisa tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan kuat menghadapi kehidupan.

Membangun Rasa Aman & Percaya Diri Pada Anak yang Diasuh oleh Pengasuh Pengganti

Di balik berbagai kondisi keluarga yang mungkin berbeda, ada satu hal yang tetap menjadi fondasi utama bagi tumbuh kembang anak: rasa aman. Anak yang merasa dicintai, dilindungi, dan diterima apa adanya akan lebih percaya diri dalam menjalani hari-harinya. Rasa aman ini menjadi dasar agar anak tumbuh bahagia, tangguh, dan mampu menjalin hubungan sosial yang sehat.

Agar lebih mudah diterapkan, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

  1. Menciptakan Rutinitas yang Konsisten
    Rutinitas sederhana, seperti jadwal makan, tidur, belajar, dan bermain yang teratur sangat membantu anak merasa aman. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi setiap harinya, ia merasa hidupnya lebih stabil dan dapat diprediksi. Dari sinilah rasa tenang dan kepercayaan terhadap lingkungan mulai tumbuh.
  2. Memberikan Respon yang Hangat dan Dapat Diprediksi
    Anak membutuhkan figur dewasa yang hadir secara emosional. Saat anak sedih, marah, atau butuh perhatian, tanggapi dengan tenang dan penuh kasih. Pelukan, senyuman, atau sekadar mendengarkan cerita anak bisa menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti. Kehadiran yang konsisten tidak membuat anak merasa sendiri.
  3. Memvalidasi Perasaan Anak
    Penting untuk memahami bahwa semua emosi anak itu valid. Ketika anak merasa sedih, kecewa, atau marah, dengarkan tanpa menghakimi. Ucapkan kalimat sederhana, seperti “Nenek paham kamu sedang sedih.”

    Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan lebih mudah belajar mengelola emosinya dengan sehat.

  4. Menghargai Usaha, Bukan Hanya Hasil
    Fokuslah pada proses yang dilakukan anak, bukan hanya hasil akhirnya. Apresiasi keberanian, usaha, dan kerja kerasnya. Misalnya, “Wah, kamu sudah berusaha keras, hebat sekali!”


    Hal ini membantu anak membangun rasa percaya diri dan memahami bahwa dirinya berharga, apa pun hasilnya.
  5. Menumbuhkan Keyakinan Bahwa Anak Tetap Berharga
    Dalam kondisi keluarga apa pun, penting bagi anak untuk merasa bahwa dirinya dicintai dan diterima. Pastikan anak memahami bahwa situasi keluarga tidak mengurangi nilai dirinya. Anak yang merasa berharga akan lebih kuat menghadapi tantangan hidup.

Setiap anak berhak tumbuh dalam rasa aman, dicintai, dan dihargai, apa pun bentuk keluarganya. Jika saat ini Anda menjalani peran sebagai pengasuh pengganti, mungkin ada lelah yang tidak selalu terlihat, ada ragu yang kadang muncul diam-diam. Perasaan itu sangat manusiawi. Namun percayalah, kehadiran Anda sudah berarti sangat besar bagi anak. Di saat hidup mereka berubah, Andalah yang menjadi tempat mereka kembali merasa aman.

Tidak harus sempurna untuk menjadi pengasuh yang berarti.

Cukup hadir, cukup peduli, dan terus mencoba memahami. Setiap pelukan, setiap kesabaran saat menghadapi emosi anak, setiap waktu yang Anda luangkan, semua itu sedang membangun fondasi kuat dalam hati mereka. Mungkin hasilnya tidak selalu terlihat hari ini, tapi suatu saat nanti, anak akan tumbuh dengan membawa rasa aman dan cinta yang Anda tanamkan!

Sumber:

Alodokter. (2025, 2 Januari). Dampak psikologis yang dialami anak broken home. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.alodokter.com/risiko-yang-dialami-anak-broken-home

American Academy of Pediatrics. (2016, 1 Desember). Helping children and families deal with divorce and separation. Pediatrics, 138(6), e20163020. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.doi.org/10.1542/peds.2016-3020   

American Association for Marriage and Family Therapy (AAMFT). (n.d.). Grandparents raising grandchildren. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.aamft.org/AAMFT/Consumer_Updates/grandparents.aspx

Bernstein, J. (2013, 20 September). Five easy, powerful ways to validate your child’s feelings. Psychology Today. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.psychologytoday.com/us/blog/liking-the-child-you-love/201309/five-easy-powerful-ways-validate-your-childs-feelings

Brenner, H. (2022, 22 Februari). How losing a parent affects young children. Psychology Today. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.psychologytoday.com/us/blog/experimentations/202202/how-losing-a-parent-affects-young-children

Child Welfare Information Gateway. (2018). Kinship caregivers and the child welfare system. U.S. Department of Health & Human Services. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.childwelfare.gov/resources/kinship-care-and-child-welfare-system/ 

Divecha, D. (2017, 3 Februari). How to cultivate a secure attachment with your child. Greater Good Science Center. Diakses pada 01 Mei 2026. https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_to_cultivate_a_secure_attachment_with_your_child

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. (2023, 12 Mei). PSdK UGM bersama Yayasan Save The Children Indonesia soroti pola asuh anak di Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Diakses pada 01 Mei 2026. https://fisipol.ugm.ac.id/psdk-ugm-bersama-yayasan-save-the-children-indonesia-soroti-pola-asuh-anak-di-indonesia

Kelekatan dalam perkembangan anak. (2015). Tarbawiyah, 12(2). Diakses pada 01 Mei 2026. https://e-journal.metrouniv.ac.id/tarbawiyah/article/download/479/264/847

Seku, S., Meka, M., Meo Maku, K. R., & Ita, E. (2026). Peran pola asuh orang tua pengganti terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini di TK Satu Atap Lebijaga. Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 10(3). Diakses pada 01 Mei 2026. https://sejurnal.com/pub/index.php/jim/article/view/145

UNICEF (United Nations Children’s Fund). (n.d.). How to communicate effectively with your young child. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.unicef.org/parenting/child-care/9-tips-for-better-communication

Weinberger Law Group. (n.d.). How to raise a secure child—even in a bad divorce. Diakses pada 01 Mei 2026. https://www.weinbergerlawgroup.com/blog/newjersey-child-parenting-issues/raise-secure-child-even-bad-divorce

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop