Anak Terlalu Sering Nonton Video Pendek? Waspadai Dampak Brain Rot sejak Dini!

Reading Time: 7 minutes

Mom & Dad, pernahkah melihat anak terus-menerus menonton video pendek tanpa henti dari satu klip ke klip lain, seolah tidak ada jeda? Fenomena ini makin sering terjadi di era digital, dimana anak-anak terpapar konten instan hampir setiap hari.

Istilah “brain rot” belakangan digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika otak terlalu sering menerima stimulasi cepat namun dangkal hingga akhirnya menjadi kurang aktif dalam berpikir mendalam. Dengan meningkatnya screen time anak dan maraknya konten singkat yang tidak selalu edukatif, penting bagi kita untuk memahami dampaknya.

Artikel ini akan membantu Mom & Dad melihat apa itu “brain rot”, bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan otak anak, serta langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

Apa Itu Brain Rot?

Secara sederhana, istilah brain rot digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa lelah secara mental dan mengalami penurunan fokus atau kemampuan berpikir akibat terlalu lama mengonsumsi konten yang kurang berkualitas.

Konten seperti ini biasanya memiliki ciri:

  • Durasi sangat singkat;
  • Perubahan visual cepat dan berulang;
  • Alur dangkal, minim narasi atau pemahaman;
  • Lebih fokus pada hiburan instan daripada pembelajaran.

Menariknya, konten seperti ini memang sengaja dibuat sangat menarik, meskipun tidak memberikan nilai yang nyata. Pada orang dewasa, brain rot sering muncul dari kebiasaan scrolling.

Pada anak usia dini bentuknya sedikit berbeda, namun polanya sama. Dalam keseharian anak, hal ini bisa terlihat, seperti:

  • Menonton video yang sama berulang-ulang tanpa bosan: Anak terus meminta video yang sama karena terbiasa dengan pola yang familiar dan instan.
  • Sering berpindah tontonan dengan cepat: Belum selesai satu video, sudah ingin ganti ke video lain yang lebih menarik.
  • Lebih memilih layar daripada bermain aktif: Mainan, buku, atau aktivitas fisik jadi kurang menarik dibandingkan gadget.
  • Menjadi gelisah saat tidak ada tontonan: Anak mudah rewel atau bosan ketika tidak memegang gadget.
  • Meniru konten tanpa memahami makna: Misalnya meniru gaya bicara, suara, atau gerakan dari video tanpa benar-benar mengerti konteksnya.
  • Sulit fokus pada aktivitas sederhana: Seperti mendengarkan cerita, menyusun balok, atau menggambar.
  • Sering meminta “lagi, lagi, lagi”: Ini tanda anak terbiasa dengan stimulasi cepat dan instan yang terus berulang.

Mom & Dad, penting untuk dipahami bahwa ini bukan karena anak “manja” atau “tidak bisa diam”, melainkan karena otak mereka sedang beradaptasi dengan jenis stimulasi yang mereka terima setiap hari.

Mengapa Anak Menonton Video Pendek, seperti Instagram Reels, YouTube Shorts, maupun Video TikTok?

Mom & Dad, mungkin di satu sisi kita merasa khawatir, tapi di sisi lain juga bingung.

Kenapa ya anak bisa betah sekali menonton konten video pendek, seperti Instagram Reels, YouTube Shorts, maupun video TikTok?

Sejak lahir, otak anak memang tertarik pada hal-hal yang bergerak, berwarna cerah, dan berubah dengan cepat.

Konten video pendek dengan suara, animasi, dan transisi cepat sangat menarik bagi anak dibandingkan dengan buku atau permainan yang butuh proses lebih lama untuk dinikmati. Di era sekarang, konten seperti ini sangat mudah diakses melalui YouTube Shorts, TikTok, dan Instagram Reels. Platform-platform ini memang dirancang untuk menyajikan video secara cepat sehingga anak bisa berpindah dari satu tontonan ke tontonan lain tanpa jeda.

Setiap kali anak menonton sesuatu yang menyenangkan, tubuhnya melepaskan dopamin yang membuat mereka merasa senang dan ingin mengulang pengalaman itu lagi. Jadi ketika anak meminta lagi dan lagi untuk menonton video pendek itu, sebenarnya itu adalah respons alami otak yang sedang menikmati sensasi tersebut.

Tanpa disadari, aktivitas menonton ini juga bersifat pasif. Anak hanya menerima stimulasi tanpa perlu berpikir, berimajinasi, atau berinteraksi. Berbeda dengan bermain, membaca, atau mendengarkan cerita yang melibatkan proses aktif, konten instan cenderung “memberi semuanya secara langsung”. Bagi orang dewasa saja ini bisa membuat “lupa waktu”, apalagi bagi anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi Mom & Dad memantau screen time dan konten yang dikonsumsi oleh anak.

Apa yang Terjadi ketika Anak Terlalu Sering Menonton Konten yang Rendah Kualitasnya?

Mom & Dad, jika kebiasaan menonton konten instan dan berkualitas rendah terjadi secara terus-menerus, dampaknya tidak hanya terlihat pada perilaku sehari-hari, tetapi juga pada berbagai aspek perkembangan anak. Beberapa dampak yang mungkin terjadi:

  1. Rentang Perhatian Menurun
    Anak yang terbiasa dengan video singkat dan cepat akan “terlatih” untuk berpindah fokus dalam hitungan detik. Akibatnya, saat harus duduk membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru, mereka jadi cepat kehilangan fokus.

    Contohnya, baru beberapa menit membaca, anak sudah gelisah, ingin berhenti, atau mencari hal lain yang lebih “seru”.
  2. Kemampuan Berpikir Kritis Melemah
    Konten pendek biasanya tidak memberi ruang bagi anak untuk berpikir mendalam. Anak hanya menerima informasi secara instan tanpa diajak memahami “mengapa” atau “bagaimana”. Lama-kelamaan, anak jadi kurang terbiasa untuk bertanya, menganalisis, dan menghubungkan satu informasi dengan yang lain.

     

    Misalnya, setelah menonton sesuatu, anak hanya ingat potongan adegan, tapi sulit menjelaskan makna atau ceritanya.
  3. Cenderung Tidak Sabar dan Sulit Mengendalikan Diri
    Konten instan membuat anak terbiasa mendapatkan kesenangan dengan cepat. Otak mereka jadi “menuntut” hal yang serba cepat juga di dunia nyata. Akibatnya, anak bisa:
    • Tidak sabar menunggu;
    • Mudah frustrasi saat keinginannya tidak langsung terpenuhi;
    • Lebih sering merengek atau tantrum.

    Contoh sederhana: saat diminta menunggu giliran atau menyelesaikan tugas, anak cepat menyerah, dan ingin langsung pindah ke hal yang lebih menyenangkan.

  4. Minat Belajar Menurun
    Belajar pada dasarnya membutuhkan proses yang tidak instan, seperti mulai dari proses mengamati, mendengar, memahami, mencoba bahkan kadang harus gagal terlebih dulu. Tapi jika anak terbiasa dengan hiburan yang serba cepat, aktivitas belajar jadi terasa “terlalu lambat” dan kurang menarik. Mom & Dad mungkin akan melihat:
    • Anak lebih memilih gadget daripada buku;
    • Enggan mengerjakan tugas;
    • Cepat bosan saat belajar.

    Ini bisa terjadi karena anak terbiasa mendapatkan sesuatu dengan instan sehingga merasa malas atau sulit ketika dihadapkan dengan kegiatan belajar yang harus melalui banyak proses.

  5. Gangguan Perilaku Sehari-Hari
    Anak yang terlalu sering terpapar konten berkualitas rendah bisa menunjukkan perubahan perilaku, seperti:
    • Mudah bosan, sebentar-sebentar ganti aktivitas;
    • Cepat marah saat gadget diambil  seolah “kehilangan sesuatu”;
    • Kurang tertarik bermain offline, seperti bermain di luar, menggambar, atau berimajinasi;
    • Sulit menikmati hal sederhana, misalnya mendengarkan cerita atau bermain bersama keluarga.

    Tanda-tanda ini merupakan sinyal bahwa otak anak sedang terbiasa dengan stimulasi cepat dan perlu dibantu untuk kembali seimbang.

Strategi Pencegahan Brain Rot pada Anak

Mom & Dad, screen time bukan sesuatu yang harus dihapus total dari kehidupan anak. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelolanya dengan bijak agar anak tidak terkena brain rot. Ada beberapa langkah yang dapat Mom & Dad lakukan untuk mencegah kondisi ini terjadi pada anak:

  1. Pilih Konten yang Berkualitas, Bukan Sekadar Menghibur
    Tidak semua tontonan itu sama. Cobalah lebih selektif dalam memilih konten untuk anak.
    Konten yang baik biasanya:
    • Mengandung nilai edukasi (belajar huruf, angka, sains sederhana);
    • Mendorong kreativitas (menggambar, membuat sesuatu);
    • Mengajarkan nilai sosial dan emosi (berbagi, empati).

    Mom & Dad bisa mulai dengan menonton terlebih dahulu atau membaca ulasan sebelum memberikannya kepada anak. Tujuannya bukan membatasi secara kaku, tapi memastikan anak mendapatkan asupan “nutrisi digital” yang sehat.

  2. Dampingi Anak saat Menonton (Co-Viewing)

    Anak butuh teman saat menonton, yaitu Mom & Dad. Ketika kita hadir, tontonan berubah dari aktivitas pasif menjadi pengalaman belajar. Cobalah sesekali duduk bersama anak dan ikut menonton.

    Berikan komentar sederhana, seperti: “Wah, dia lagi ngapain ya?”, “Menurut adek, kenapa dia sedih?”. Pendampingan seperti ini membantu anak belajar memahami cerita, emosi, dan sebab-akibat, bukan sekadar melihat gambar bergerak.

  3. Waspadai “Autoplay Trap” dan Algoritma
    Sekarang, banyak platform menggunakan fitur autoplay dan algoritma yang terus menyesuaikan konten dengan preferensi anak. Tanpa disadari, satu video bisa berlanjut ke puluhan video lain. Masalahnya, anak belum punya kontrol diri yang kuat untuk berhenti.

    Yang bisa Mom & Dad lakukan:
    • Matikan fitur autoplay jika memungkinkan;
    • Gunakan playlist yang sudah dipilih sebelumnya;
    • Batasi platform tertentu, bukan hanya durasi.

    Dengan begitu, anak tidak “terseret” oleh alur konten yang tidak kita kendalikan.

  4. Tetapkan Screen Time yang Sehat
    Setiap keluarga bisa punya aturan yang berbeda, tapi prinsipnya tetap sama, yaitu jangan sampai screen time mengambil alih waktu tumbuh kembang anak. Batasi screen time sesuai usia anak. Menurut rekomendasi World Health Organization (WHO) dan American Academy of Pediatrics (AAP):
    • 0 – 1 tahun: Sebaiknya tanpa screen time sama sekali (kecuali video call dengan keluarga);
    • 1 – 2 tahun: Sangat dibatasi, hanya jika benar-benar perlu dan harus dengan pendampingan;
    • 2 – 5 tahun: Maksimal sekitar 1 jam per hari, dengan konten berkualitas dan didampingi;
    • 6 tahun ke atas: Tidak ada angka pasti, tapi umumnya maksimal 1–2 jam per hari untuk hiburan, dengan tetap memperhatikan waktu tidur, aktivitas fisik, dan juga interaksi sosial.
  5. Terapkan Waktu Bebas Layar (Screen-Free Time)
    Sediakan momen khusus tanpa gadget setiap hari. Misalnya:
    • 1 – 2 jam sebelum tidur;
    • Waktu makan bersama keluarga;
    • Hari tertentu sebagai “hari tanpa gadget”.

    Coba imbangi screen time dengan:

    • Bermain di luar (lari, naik sepeda, main pasir);
    • Aktivitas sensorik (main air, plastisin, memasak sederhana);
    • Kegiatan kreatif (melukis, membuat kerajinan).

    Aktivitas seperti ini membantu perkembangan otak yang lebih utuh, terutama untuk fokus, koordinasi, dan regulasi emosi.

  6. Biasakan Anak Dekat dengan Buku
    Membaca adalah salah satu cara terbaik untuk “menutrisi” otak anak. Berbeda dengan layar, buku mendorong anak untuk berimajinasi, berpikir lebih dalam, dan fokus lebih lama. Mom & Dad bisa mulai dari hal kecil, seperti:
    • Membacakan cerita sebelum tidur;
    • Menyediakan buku sesuai minat anak;
    • Mengajak anak ke toko buku atau perpustakaan.

    Seiring waktu, anak akan mulai melihat membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan.

  7. Gunakan Gadget sebagai Alat, Bukan “Pengasuh”
    Ini yang paling relate dengan kondisi sekarang. Gadget sering jadi “penyelamat cepat” saat orang tua sibuk. Tidak salah, tapi perlu disadari batasnya. Cobalah perlahan menggeser peran gadget:
    • Dari “penenang anak” jadi alat belajar;
    • Dari “pengalih perhatian” jadi sarana eksplorasi bersama.

    Dengan begitu, anak tetap menggunakan teknologi, tetapi tidak bergantung sepenuhnya.

  8. Jadilah Role Model dalam Penggunaan Gadget
    Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua terlalu sering memegang gadget, anak pun akan meniru. Cobalah hal sederhana, seperti:
    • Tidak bermain HP saat bersama anak;
    • Menunjukkan bahwa Mom & Dad juga membaca buku atau melakukan aktivitas offline;
    • Mengutamakan interaksi langsung dibanding layar.

    Perubahan kecil dari orang tua sering kali memberi dampak besar pada kebiasaan anak.

Mom & Dad, istilah brain rot mungkin terdengar ringan, tapi dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang jika kebiasaan anak dalam mengonsumsi konten tidak dikelola dengan baik. Paparan konten yang cepat, dangkal, dan berulang dapat memengaruhi kemampuan penting anak. Peran Mom & Dad sangat penting untuk mencegah terjadinya brain rot sejak dini.


Dengan lebih selektif memilih konten, mendampingi anak, serta membiasakan aktivitas yang merangsang berpikir, seperti membaca, bermain, dan berdiskusi, kita bisa membantu menjaga otak anak tetap aktif dan sehat. Brain rot bisa dicegah selama kita hadir dan terlibat dalam setiap proses tumbuh kembang mereka!

Sumber:

Galea C, Jones A, Ko K, Salins A, Robidoux S, Noble C and McArthur G (2025) Home-based shared book reading and developmental outcomes in young children: a systematic review with meta-analyses. Front. Lang. Sci. 4:1540562. doi: 10.3389/flang.2025.1540562

HealthyChildren.org. (n.d.). How to make a family media use plan. Diakses 30 April 2026, dari https://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/How-to-Make-a-Family-Media-Use-Plan.aspx

HealthyChildren.org. (n.d.). Why co-viewing is important: Tips to share screen time with your kids. Diakses pada 30 April 2026. https://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/why-co-viewing-is-important-tips-to-share-screen-time-with-your-kids.aspx

Oxford University Press. (2024). Brain rot named Oxford Word of the Year 2024. Diakses pada 30 April 2026. https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/

Santos, R. M. S., Mendes, C. G., Marques Miranda, D., & Romano-Silva, M. A. (2022). The Association between Screen Time and Attention in Children: A Systematic Review. Developmental neuropsychology, 47(4), 175–192. https://doi.org/10.1080/87565641.2022.2064863

Streegan, C. J. B., Lugue, J. P. A., & Morato-Espino, P. G. (2022). Effects of screen time on the development of children under 9 years old: a systematic review. Journal of Pediatric and Neonatal Individualized Medicine (JPNIM), 11(1), e110113. https://doi.org/10.7363/110113

Therapist.com. (n.d.). Brain rot: Meaning, what it feels like, and how to overcome it. Diakses pada 30 April 2026. https://therapist.com/brain-and-body/brain-rot/ 

World Health Organization (WHO). (2019). Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age. Diakses pada 30 April 2026. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550536

World Health Organization (WHO). (2019, 24 April). To grow up healthy, children need to sit less and play more. Diakses pada 30 April 2026. https://www.who.int/news/item/24-04-2019-to-grow-up-healthy-children-need-to-sit-less-and-play-more

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop