Masa liburan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh banyak anak. Jam tidur lebih banyak dan fleksibel, aktivitas lebih santai, dan waktu bermain juga lebih panjang tanpa disadari. Perubahan ini membuat rutinitas harian yang biasa mereka jalani selama sekolah menjadi lebih santai.
Ketika liburan berakhir, anak kemudian dihadapkan pada tuntutan untuk kembali ke jadwal yang terstruktur, seperti bangun pagi, siap-siap sekolah, proses belajar di sekolah, dan aktivitas lainnya.
Transisi ini bukanlah hal yang mudah bagi banyak anak dan banyak orang tua mengalami tantangan untuk mempersiapkan anak kembali ke rutinitas awal.
Tapi, Mom & Dad harus tahu bahwa ini adalah hal yang wajar dan dapat diatasi dengan berbagai tips dan trik yang akan kita ulas dalam artikel ini!
Mengapa Anak Sulit Kembali ke Rutinitas Biasa setelah Masa Libur?
Anak sulit kembali ke rutinitas biasa setelah masa liburan adalah hal yang wajar. Selama liburan, banyak rutinitas atau jadwal aktivitas anak yang berubah, seperti:
- Rutinitas tidur berubah. Anak sering tidur larut dan bangun lebih siang.
- Makan tidak teratur. Mulai dari jadwal sarapan, makan siang, dan makan malam tidak konsisten.
- Banyak stimulasi baru. Misalnya, banyak tempat liburan baru yang dikunjungi, bertemu dengan keluarga besar, hingga melakukan berbagai aktivitas berbeda yang menyenangkan, namun memicu overstimulasi. Kondisi ini bisa membuat anak lelah secara emosional dan sulit fokus kembali pada rutinitas sehari-hari setelahnya.
- Lebih banyak screen time. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton video, bermain game atau menggunakan gadget.
- Kembali ke struktur “yang terasa ketat”. Bangun pagi, sekolah/les, mengerjakan tugas, hingga jadwal makan yang disiplin membuat tubuh dan emosi harus menyesuaikan kembali.
Karena itu, saat rutinitas berubah dari fleksibel jadi terstruktur, anak mungkin terasa kehilangan kendali, terkejut secara fisik maupun emosional, dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri kembali.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Kesulitan Pasca Liburan
Beberapa tanda umum yang bisa Mom & Dad perhatikan ketika anak kesulitan kembali ke rutinitas awal (sekolah):
- Lebih rewel atau sering tantrum
- Sulit bangun pagi dan menolak untuk sekolah
- Sulit tidur malam atau sering terbangun
- Minta screen time lebih banyak dari biasanya
- Anak lebih sensitif dan mudah marah
- Menarik diri atau tampak lesu
Tanda-tanda ini kadang disebut juga sebagai post holiday blues atau sindrom pasca liburan, yaitu perasaan sedih, lesu, atau kehilangan semangat setelah liburan berakhir.
Menurut psikolog anak, post holiday blues bukanlah gangguan serius, melainkan respon emosional normal terhadap perubahan besar. Anak-anak yang sistem emosional dan kognitifnya masih dalam tahap berkembang, cenderung lebih sulit mengelola perubahan mendadak, terutama setelah periode yang penuh kesenangan dan kebebasan
Bagaimana Membantu Anak Transisi ke Rutinitas Biasa?
Mom & Dad, membantu anak kembali ke rutinitas normal atau kembali ke sekolah memang banyak tantangan. Namun, ada beberapa tips yang dapat Mom & Dad terapkan agar anak tidak merasa frustrasi ketika masa liburan berakhir!
- Kembalikan Jadwal Tidur secara Bertahap
Daripada langsung memaksa anak tidur lebih awal setelah liburan, Mom & Dad dapat memajukan jam tidur anak sekitar 15-20 menit setiap malam beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Kurangi stimulasi sebelum tidur, seperti screen time atau aktivitas yang terlalu banyak bergerak. Perubahan kecil ini memudahkan tubuh dan otak anak menyesuaikan diri sehingga tidak kaget saat kembali ke rutinitas sekolah. - Atur Ulang Screen Time secara Bertahap
Selama liburan, screen time biasanya lebih longgar. Untuk transisi, kurangi durasinya perlahan dan ganti dengan aktivitas yang lebih menenangkan, seperti membaca buku, menyusun puzzle, atau bermain kreatif bersama keluarga. Pendekatan bertahap membuat anak lebih mudah menerima aturan tanpa merasa dibatasi secara keras. - Mulai Rutinitas Sekolah Lebih Awal
Sekitar 2 – 3 hari sebelum sekolah, ajak anak kembali ke pola harian, seperti hari sekolah: bangun pagi, mandi, sarapan, dan menyiapkan tas. “Latihan kecil” ini membantu anak lebih siap saat rutinitas penuh benar-benar dimulai. - Bantu Anak Memproses Emosi
Liburan sering meninggalkan kenangan yang menyenangkan. Biarkan anak berbicara tentang hal yang membuatnya bahagia selama liburan. Beberapa cara yang bisa membantu, seperti membuat jurnal liburan, menggambar pengalaman menarik, atau bercerita tentang kenangan tersebut.
Mengulas kembali momen liburan membantu anak merasa bahwa pengalaman tersebut tetap berharga dan bermakna, meski rutinitas sekolah sudah kembali dimulai. - Jaga Ekspektasi dan Tetap Konsisten
Mom & Dad, tidak semua anak bisa langsung menyesuaikan diri dalam satu hari. Fokuslah pada konsistensi, bukan tekanan. Rutinitas yang dibangun dengan pendekatan positif akan lebih bertahan lama. Lakukan transisi yang bertahap, bukan dengan perubahan mendadak agar anak merasa aman dan siap kembali ke rutinitas sekolah. - Pastikan Anak Cukup Istirahat
Di minggu pertama sekolah, hindari jadwal yang terlalu padat. Anak yang cukup tidur, makan teratur, dan punya waktu istirahat akan lebih mudah beradaptasi secara fisik maupun emosional.
Kesalahan Umum yang Dilakukan oleh Orang Tua
Mom & Dad, tanpa disadari kadang perilaku maupun sikap kita sebagai orang tua, malah membuat anak semakin sulit kembali ke rutinitas normal. Beberapa kesalahan yang mungkin sering terjadi, seperti:
- Mengubah Jadwal secara Tiba-Tiba
Memaksa anak langsung mengikuti rutinitas sekolah seperti tidur lebih awal atau bangun pagi tanpa penyesuaian dapat membuat anak frustrasi karena fisik dan emosional mereka belum siap untuk kembali ke rutinitas sekolah. Akibatnya, anak jadi sulit tidur, rewel, atau bahkan malas sekolah. - Mendorong Anak Mengikuti Banyak Aktivitas di Minggu Pertama
Memulai minggu pertama sekolah dengan jadwal padat, seperti les tambahan atau ekstrakurikuler, dapat membuat anak merasa lelah secara fisik maupun mental. Mom & Dad harus ingat kalau anak butuh waktu untuk menyesuaikan energi dan fokusnya kembali. - Terlalu Menekan Anak secara Akademik
Menekan anak untuk mengejar materi pelajaran, nilai atau hasil tertentu tanpa masa adaptasi dapat memicu stress dan penolakan. Saat minggu pertama liburan, Mom & Dad harus fokus pada pemberian motivasi belajar daripada menekan anak untuk mengejar nilai tinggi. - Mengabaikan Emosional Anak
Anak mungkin masih membawa rasa senang, rindu, atau lelah setelah liburan. Jika perasaan ini tidak diberi ruang, anak bisa menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau kehilangan motivasi. Mendengarkan cerita anak dan memberi waktu tenang sangat membantu proses transisi. - Menganggap Rewel sebagai Sikap Manja atau Bandel
Perubahan rutinitas bisa memicu lelah emosional. Saat anak rewel, sering kali itu tanda belum siap, bukan sekadar ingin melawan. Mom & Dad harus paham kalau validasi perasaan anak lebih menenangkan daripada memarahi. - Terlalu Fokus pada Aturan, Kurang Kehangatan
Rutinitas memang penting, tapi tanpa kehangatan dan empati, anak bisa merasa rutinitas sekolah adalah hukuman. Sentuhan, pujian kecil, dan waktu bersama membantu anak merasa aman. - Kurang Konsisten antara Ayah dan Ibu
Mom & Dad, aturan yang berubah-ubah tergantung siapa yang bicara membuat anak bingung dan cenderung menolak rutinitas. Kesepakatan dan konsistensi orang tua memberi rasa aman kepada anak.
Transisi dari liburan ke rutinitas merupakan proses yang alami dan dialami banyak anak. Dengan memahami mengapa hal itu terjadi dan menerapkan langkah-langkah yang bertahap, orang tua dapat membantu anak melewati masa penyesuaian ini dengan lebih nyaman dan penuh kasih sayang.
Intinya, anak tidak sedang sulit diatur ya, Mom & Dad!
Mereka hanya sedang berproses menyesuaikan diri. Saat orang tua hadir dengan sabar, konsisten, dan empatik—rutinitas akan kembali terbentuk dengan lebih tenang dan sehat.
Sumber:
Atkins, S. (2025). Back to school: Easing the transition after summer vacation. Diakses tanggal 11 Desember 2025. https://www.gesseducation.com/europe/gess-talks/articles/back-school-easing-transition-after-summer-vacation
Alodokter. (n.d.). Tips mempersiapkan anak kembali ke sekolah setelah libur panjang. Diakses tanggal 11 Desember 2025. https://www.alodokter.com/tips-mempersiapkan-anak-kembali-ke-sekolah-setelah-libur-panjang
Hazel Health. (2025, January 12). Supporting students with the transition back to school after winter break. Diakses tanggal 11 Desember 2025. https://www.hazel.co/resources/supporting-students-with-the-transition-back-to-school-after-winter-break
National Association for the Education of Young Children (NAEYC). (2018). Ready, set, return: Helping children readjust after winter break. In Teaching Young Children. Diakses tanggal 11 Desember 2025. https://www.naeyc.org/resources/pubs/tyc/dec2018/helping-children-readjust-winter-break naeyc.org
Pennsylvania State University Thrive. (2024, Januari 9). Re-Establishing Your Child’s Routine After Vacation. Diakses tanggal 11 Desember 2025. https://thrive.psu.edu/blog/re-establishing-your-childs-routine-after-vacation/
United Family Food. (2021, May 27). Anak alami sindrom malas sekolah usai libur panjang, praktikkan siasat ini. Diakses tanggal 11 Desember 2025. https://unifam.com/blog/anak-alami-sindrom-malas-sekolah


