|
Sub Topik:
|
Sebagai orang tua yang memiliki beberapa anak, tentu Anda tahu betapa frustrasinya ketika anak-anak Anda bertengkar. Suasana rumah bisa tegang dan tak jarang membuat Anda kewalahan. Anda juga mungkin pernah bertanya-tanya mengapa anak-anak seringkali terlibat dalam pertengkaran dengan saudara-saudaranya? Mari kita gali lebih dalam mengenai fenomena ini.
Anak Bertengkar dengan Saudaranya, Apakah Kondisi Ini Wajar?
Pertengkaran antara anak dan saudara merupakan hal yang sering terjadi dalam keluarga. Apakah ini wajar? Ya, sangat wajar, terutama pada anak-anak usia dini. Pada usia ini, pertengkaran bisa menjadi cara bagi mereka untuk mengembangkan berbagai keterampilan seperti:
- Melatih Keterampilan Sosial
Melalui pertengkaran, anak-anak belajar bagaimana bernegosiasi, menyelesaikan konflik, dan memahami perspektif orang lain. Ini adalah keterampilan sosial penting yang akan berguna sepanjang hidup mereka. - Pengendalian Emosi
Anak-anak masih belajar bagaimana mengendalikan emosi mereka. Pertengkaran membantu mereka memahami batasan-batasan emosional dan belajar bagaimana merespons situasi dengan lebih baik di masa depan. - Pengembangan Identitas Diri
Konflik dengan saudara juga membantu anak-anak mengembangkan identitas mereka sendiri. Mereka belajar apa yang mereka suka, tidak suka, dan bagaimana menegaskan diri dalam lingkungan yang aman.
Mengapa Anak Bertengkar dengan Saudaranya?
Bukan tanpa alasan anak bertengkar dengan saudaranya. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan mereka beradu argumen atau bahkan sampai melakukan kekerasan fisik. Kebanyakan kakak beradik memiliki rasa iri atau persaingan pada tingkat tertentu, yang bisa memicu pertengkaran. Namun, ada juga faktor lain yang mempengaruhi frekuensi dan intensitas pertengkaran tersebut, seperti:
- Perbedaan Usia dan Tahap Perkembangan
Anak-anak yang berada dalam tahap perkembangan berbeda sering kali memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan, terutama jika salah satu anak merasa diabaikan atau tidak dipahami oleh yang lain. Selain itu, anak-anak belum memiliki keterampilan penanganan konflik, regulasi emosi dan cara bersosial yang baik sehingga dapat memicu pertengkaran dengan saudara. - Persaingan untuk Mendapatkan Perhatian
Anak-anak mungkin merasa perlu bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua atau anggota keluarga lainnya. Mereka mungkin merasa bahwa pertengkaran adalah cara untuk menarik perhatian tersebut. - Perasaan Tidak Adil
Anak-anak sangat peka terhadap keadilan. Jika mereka merasa ada perlakuan yang tidak adil, mereka bisa menjadi marah dan berkelahi dengan saudaranya untuk memperjuangkan apa yang mereka anggap sebagai hak mereka. - Temperamen Individu
Temperamen dan kepribadian setiap anak-anak dalah unik, seperti suasana hati dan kemampuan beradaptasi, berperan penting dalam dinamika hubungan mereka. Sebagai contoh, perbedaan temperamen seperti anak yang santai dan anak lain yang mudah marah bisa memicu konflik. - Anak dengan Kebutuhan Khusus atau Sakit
Anak dengan kebutuhan khusus, baik itu karena sakit atau masalah belajar/emosional, mungkin memerlukan perhatian lebih dari orang tua. Reaksi anak-anak lain bisa berasal dari keinginan mendapatkan perhatian atau kekhawatiran terhadap saudara mereka. - Meniru Orang Tua
Cara orang tua menangani konflik sangat berpengaruh bagi anak-anak. Jika mereka menyelesaikannya dengan hormat dan produktif, anak-anak cenderung meniru perilaku tersebut. Sebaliknya, jika orang tua bersikap agresif atau berteriak, anak-anak bisa saja meniru pola perilaku tersebut.

Langkah-Langkah Dalam Mengatasi Pertengkaran Anak dengan Saudaranya
Berikut adalah tindakan yang dapat Anda lakukan saat terjadi anak-anak Anda bertengkar:
- Hentikan pertengkaran sebelum tangisan dimulai. Ini bisa berarti memisahkan fisik anak-anak Anda atau mengarahkan mereka ke sudut ruangan yang berlawanan untuk tenang.
- Tetap tenang. Meskipun mungkin sulit, tetaplah tenang. Tujuannya adalah untuk meredakan situasi, bukan memperburuknya. Simpan kritik atau penjelasan hingga suasana lebih kondusif.
- Beri tahu anak-anak bahwa masalah akan dibahas setelah mereka tenang. Anak-anak sering terlalu marah untuk menerima penjelasan atau arahan saat pertengkaran sedang berlangsung. Tunggu hingga semuanya tenang sebelum membahas masalahnya, bahkan jika itu berarti menunggu sampai keesokan harinya untuk anak yang lebih besar.
- Perlakukan semua anak dengan adill, walaupun itu tidak selalu berarti perlakuan yang sama. Misalnya, Anda mungkin memiliki harapan yang berbeda untuk anak yang berusia 6 tahun dan 3 tahun.
- Hindari perbandingan negatif, seperti mengatakan “Kamu seharusnya tahu lebih baik karena kamu sudah lebih tua” atau “Kamu pembuat onar”. Hal ini bisa membuat anak merasa terluka atau kecewa.
- Identifikasi penyebab pertengkaran untuk mengambil langkah yang tepat. Misalnya, jika satu anak mendorong saudaranya dan mengambil mainannya, Anda perlu turun tangan. Mengawasi anak-anak membantu Anda memahami alasan di balik pertengkaran dan bagaimana mengatasinya.
- Terapkan aturan keluarga untuk menegaskan harapan tentang perilaku. Misalnya, aturan “Kami berbicara dengan sopan”. Ingatkan anak-anak tentang aturan tersebut dan berikan konsekuensi yang konsisten jika aturan dilanggar.
- Buatlah rencana untuk menangani pertengkaran, baik kecil maupun besar. Anda dapat membantu anak-anak menyelesaikan pertengkaran kecil bersama-sama, tetapi berikan konsekuensi untuk pertengkaran yang melibatkan kekerasan fisik atau jika pertengkaran terjadi setelah kesepakatan solusi dibuat.
Langkah-Langkah Pemecahan Masalah Setelah Anak Bertengkar
Meskipun pertengkaran adalah bagian alami dari tumbuh kembang anak-anak, bukan berarti kita harus membiarkannya berlarut-larut. Penting untuk terus melatih mereka dalam menangani konflik dengan baik. Langkah yang mungkin dapat Anda lakukan:
- Komunikasikan rencana Anda dengan anak-anak dan dorong mereka untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah.
- Minta kedua anak untuk menyampaikan pandangan mereka tentang masalah dan apa yang mereka inginkan.
- Ajak anak-anak untuk berpikir kreatif tentang cara mengatasi masalah dan nilai ide-ide yang dihasilkan.
- Evaluasi bersama ide-ide tersebut dan coba terapkan solusi yang paling bermanfaat dan realistis.
- Jika tidak ada solusi yang ditemukan, jeda sejenak dan kembali ke masalah tersebut kemudian.
Setelah membaca artikel ini, satu hal menjadi jelas: perdebatan dan konflik di antara saudara adalah bagian normal dari perkembangan mereka. Namun, sebagai orang tua, Anda memiliki peran penting dalam membantu mereka mengelola dan belajar dari konflik tersebut.
Ingatlah bahwa setiap pertengkaran adalah peluang untuk mengajar keterampilan sosial, regulasi emosi, pengembangan identitas diri, komunikasi, dan penyelesaian masalah. Dengan mempraktikkan langkah penyelesaian yang bijaksana, Anda dapat membimbing anak-anak Anda untuk menangani konflik dengan baik dan mendukung hubungan yang lebih harmonis diantara anak-anak Anda.
Sumber:
Borairi, S., Plamondon, A., Rodrigues, M., Sokolovic, N., Perlman, M., & Jenkins, J. (2023). Do Siblings Influence One Another? Unpacking Processes That Occur During Sibling Conflict. Child Development, 94(1), 110-125.
Jim., Jackson, L. “Why Do Siblings Fight So Much? The Good News and the Bad News”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2024. https://connectedfamilies.org/why-do-my-kids-fight-so-much/
Kids Health. “Sibling Rivalry”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2024. https://kidshealth.org/en/parents/sibling-rivalry.htm
Martinelli, K. “When Siblings Won’t Stop Fighting”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2024. https://childmind.org/article/when-siblings-wont-stop-fighting/
Raising Children. “Why Children And Siblings Fight”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2024. https://raisingchildren.net.au/school-age/behaviour/friends-siblings/why-children-fight#how-age-and-skills-affect-childrens-fighting-nav-title
Raising Children. “Handling Sibling Fights”. Diakses pada tanggal 14 Mei 2024. https://raisingchildren.net.au/school-age/behaviour/friends-siblings/handling-fights
Recchia, H.E., & Howe, N. (2009). Associations Between Social Understanding, Sibling Relationship Quality, And Siblings’ Conflict Strategies and Outcomes. Child Development, 80, 1564-1578.
Recchia, H., & Howe, N. (2010). When Do Siblings Compromise? Associations With Children’s Descriptions of Conflict Issues, Culpability, and Emotions. Social Development, 19(4), 838-857.


