Anak Berbohong : “Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?”

Reading Time: 5 minutes

Sub Topik:

  • Mengapa Anak Berbohong?
  • Kapan Anak-Anak Mulai Berbohong?
  • Tips untuk Orang Tua: Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Anak Berbohong
  • Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Berbohong

Tidak jarang para orang tua menemukan anaknya berbohong, khususnya pada usia balita. Namun sebagai orang tua, penting untuk memahami bahwa kebohongan pada anak sering bagian dari perkembangan alami mereka. Meskipun ini adalah hal yang wajar, orang tua tetap perlu membimbing anak untuk bersikap jujur. Dalam artikel ini, Anda akan menemukan beberapa tips yang dapat Anda untuk menghadapi anak saat berbohong.

Mengapa Anak Berbohong?

American Academy of Child & Adolescent Psychiatry mengatakan bahwa anak-anak dan orang dewasa berbohong karena alasan yang hampir sama, seperti menghindari masalah, ingin membuat kesan baik, melindungi diri maupun mencari keuntungan untuk diri sendiri.

Secara spesifik pada anak usia balita, alasan mengapa mereka sering berbohong diantaranya karena:

  • Menutupi sesuatu agar mereka tidak mendapat masalah
  • Ingin melihat reaksi orang tua/pengasuhnya
  • Takut akan hukuman
  • Ingin membuat diri mereka terlihat baik untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan
  • Anak masih dalam tahap mempelajari imajinasi dan kenyataan sehingga kebohongan yang ia buat tampak benar baginya
  • Ingin membuat kesan yang baik atau hebat di depan teman-temanya agar ia diterima di kelompok tersebut

Mengatakan kebohngan untuk melindungi atau menjaga perasaan orang lain (white lie)

Kapan Anak-Anak Mulai Berbohong?

Menariknya, kebohongan bukan perilaku yang muncul tiba-tiba. Anak-anak usia sekitar 2-3 tahun mulai mengembangkan pemahaman dasar tentang apa yang benar dan salah. Pada usia ini, anak mulai bereksperimen dengan kebohongan kecil meskpun sebenarnya mereka belum memahami konsep kebohongan sepenuhnya.

Kemudian pada usia 4-6 tahun, anak-anak biasanya mulai mengembangkan keterampilan kognitif yang lebih komplek yang memungkinkan mereka lebih pandai dalam berbohong. Mereka mulai memahami apa yang mereka katakan mempengaruhi cara berpikir atau reaksi orang lain terhadapnya. Namun, pada usia ini kebohongan mereka masih mudah dideteksi karena mereka belum cukup menjaga konsistensi dalam cerita mereka.

Pada usia balita, umumnya anak berbohong bukan karena berniat untuk menipu atau niat jjahat lainnya. Tetapi lebih kepada menghindari hukuman dan menjaga kesan baik di mata orang tua, pengasuh atau teman-temannya.

Tips untuk Orang Tua: Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Anak Berbohong

Berikut beberapa tips yang dapat Anda coba ketika anak Anda berbohong:

  1. Jangan Langsung Marah
    Ketika mengetahui anak berbohong, cobalah untuk tetap tenang. Merespons dengan kemarahan bisa membuat anak merasa takut dan berbohong lebih banyak untuk menghindari reaksi Anda. Sebaliknya, ajak anak berbicara dengan lembut dan tanyakan mengapa mereka merasa perlu berbohong.


    Contohnya ketika anak memecahkan mainan dan mengatakan “Bukan aku yang melakukannya,” jangan langsung marah. Alih-alih, katakan dengan tenang, “Oh, mainannya rusak. Kamu tahu, mainan ini bisa pecah jika dilempar. Apa kamu tahu siapa yang memecahkannya?” Dengan nada yang lembut, Anda memberi ruang bagi anak untuk merasa aman tanpa merasa dihakimi.
  2. Buat lingkungan yang aman untuk berkata jujur
    Anak-anak cenderung lebih jujur jika mereka merasa aman dan diterima. Cobalah untuk tidak memberikan hukuman yang berlebih dan berikan dorongan atau apresiasi positif ketika anak berkata jujur.


    Misalnya ketika mereka menumpahkan susu dan berbohong dengan mengatakan, “Bukan aku yang menumpahkannya!”, Anda bisa merespons dengan lembut, “Tidak apa-apa kalau tumpah. Kita bisa bersihkan bersama. Tapi lebih baik kamu bilang ke mama, supaya kita bisa segera membersihkannya.” Pendekatan ini membuat anak merasa aman untuk berkata jujur tanpa takut dimarahi.
  3. Ajari anak tentang nilai kejujuran
    Jelaskan kepada anak mengapa kejujuran itu penting. Gunakan cerita atau contoh kehidupan sehari-hari untuk menunjukkan bagaimana kejujuran membangun kepercayaan dan membuat orang merasa lebih baik. Contohnya, Anda dapat membackan buku cerita seperti “Pinokio”, “Serigala dan Biri-Biri” dan lainnya. Setelah selesai membaca, diskusikan bagaimana kebohongan membawa masalah dan bagaimana kejujuran membantu karakter dalam cerita.
  4. Berikan contoh yang baik
    Anak belajar banyak dari apa yang mereka lihat. Jika Anda berbuat kesalahan di depan anak, jangan ragu untuk mengakui kesalahan Anda. Misalnya, jika Anda secara tidak sengaja menumpahkan minuman dan anak melihat, Anda bisa mengatakan, “Ups, Mama menumpahkan jus. Seharusnya Mama lebih hati-hati. Mama akan bersihkan sekarang.” Ini menunjukkan bahwa jujur tentang kesalahan adalah hal yang baik dan normal.
  5. Berikan Kesempatan untuk Memperbaiki Kesalahan
    Alih-alih langsung memberi hukuman, cobalah memberikan anak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Contohnya jika anak Anda berbohong tentang tidak menumpahkan jus, Anda bisa mengatakan, “Oh, jus itu tumpah. Bagaimana kalau kita bersihkan bersama? Lain kali kamu bisa bilang ke ibu kalau jus tumpah, jadi kita bisa membersihkannya bersama-sama.”
  6. Berbicara tentang konsekuensi alami kebohongan
    Ajarkan anak bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Bantu mereka memahami bahwa berbohong bisa merusak kepercayaan dan membuat orang lain merasa kecewa. Dengan begitu, anak dapat belajar dari pengalaman mereka sendiri.


    Misalnya, jika anak berbohong tentang membagi mainan, katakan, “Jika kamu bilang sudah berbagi tetapi sebenarnya tidak, teman-teman bisa merasa sedih dan tidak mau bermain denganmu. Jadi, penting untuk jujur dan berbagi agar kita sama-sama senang.” Ini membantu anak memahami dampak kebohongan dan perasaan orang lain secara perlahan.

Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Berbohong

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua ketika mengetahui anak sedang berbohong:

  1. Jangan Menghukum Secara Berlebihan
    Memberikan hukuman berat ketika anak berbohong tidak akan mengajarkan mereka untuk jujur. Justru, ini bisa membuat anak merasa tertekan dan semakin sulit untuk berbicara jujur. Lebih baik ajak anak memahami mengapa berbohong itu tidak baik.
  2. Jangan Pojokkan Mereka
    Menempatkan anak dalam situasi di mana mereka merasa terpojok atau takut dapat mendorong mereka untuk berbohong. Cobalah untuk menciptakan suasana yang mendukung, di mana anak merasa aman untuk mengatakan yang sebenarnya
  3. Jangan Melabeli Anak sebagai Pembohong
    Mengatakan bahwa anak adalah seorang pembohong dapat berdampak buruk pada perkembangan emosional mereka. Anak balita masih belajar tentang kenyataan dan imajinasi. Sebaliknya, berikan dorongan positif agar mereka merasa nyaman berkata jujur.
  4. Jangan Mengabaikan Kebohongan Kecil
    Meskipun kebohongan anak terlihat sepele, penting untuk menanggapinya dengan lembut dan bijak. Hal ini akan membantu anak memahami pentingnya berkata jujur sejak dini.

Sebagai orang tua, kita memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Perilaku berbohong pada anak menjadi sebuah tugas bagi kita untuk membimbing dan bertumbuh bersama dalam sikap yang benar. Mari kita jadikan momen ini sebagai awal untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan saling percaya dengan anak-anak kita. Dengan begitu, kita dapat membantu mereka tumbuh menjadi individu yang jujur, bertanggung jawab, dan penuh integritas.

Sumber:

Arky, Beth. Why Kids Lie and What Parents Can Do About It. diakses pada tanggal 10 September 2024. https://childmind.org/article/why-kids-lie/ 

Baby Center. “Lying: Why It Happens And What To Do About It (Ages 3 To 4)”. Diakses pada tanggal 10 September 2024. https://www.babycenter.com/child/behavior/lying-why-it-happens-and-what-to-do-about-it-ages-3-to-4_65462 

Bright Horizons. “Why Do Children Lie? Understanding Child Behavior & How to Respond”. Diakses pada tanggal 10 September 2024. https://www.brighthorizons.com/resources/Article/why-children-lie-and-how-to-respond 

Broomfield, K., Robinson, E., & Robinson, W. (2002). Children’s understanding about white lies. British Journal of Developmental Psychology, 20, 47-65.

Crone, E A., Achterberg, M. (2022). Prosocial Development in Adolescence. Current Opinion in Psychology, 44, 220–225.

Huckleberry. “Age-By-Age: How To Handle Your Child’s Lying”. Diakses pada tanggal 10 September 2024. https://huckleberrycare.com/blog/age-by-age-guide-to-lying#when_do_children_start_lying 

Pregnancy Birth and Baby. “Toddlers and Lies”. Diakses pada tanggal 10 September 2024. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/toddlers-and-lies 

Raising Children. “Lies: Why Children Lie And What To Do”. Diakses pada tanggal 10 September 2024. https://raisingchildren.net.au/preschoolers/behaviour/common-concerns/lies 

Victoria Talwar, V., Lee, K. (2008). Social and Cognitive Correlates of Children’s Lying Behavior. Child Development, 79(4): 866–881.

Wangland, P., & Bussey, K. (2005). Factors that facilitate and undermine children’s beliefs about truth telling. Law and Human Behaviour, 29(6), 639-655.

What to Expect. “How to Stop a Child from Lying”. Diakses pada tanggal 10 September 2024. https://www.whattoexpect.com/toddler/behavior/lying.aspx

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop