Perkembangan bahasa balita merupakan proses belajar anak untuk berkomunikasi, mulai dari suara ocehan sederhana hingga mampu menyusun kalimat dengan tepat untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya. Proses ini melibatkan kemampuan mendengar, meniru, mengingat hingga menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang bermakna dan dapat dipahami.
Proses ini berlangsung secara bertahap dan setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda. Namun, para orang tua perlu tahu apa saja tahapan yang dilalui anak dalam perkembangan bahasanya agar mampu mendukungnya dengan optimal.
Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa Balita
Ada beberapa tahap yang dilalui oleh balita dalam perjalanan perkembangan bahasanya, yaitu:
|
Tahapan |
Keterangan |
|
The Pre-Linguistic Stage (Tahap Pra-Linguistik): 0-12 bulan |
|
|
The Single-Word Stage (Tahap Kata Tunggal): 12-18 bulan |
|
|
The Two-Word Stage (Tahap Dua Kata): 18-24 bulan |
|
|
Telegraphic Stage (Tahap Kalimat Telegrafik): 24-30 bulan |
|
|
The Multi-Word Stage (Tahap Kalimat Panjang / Multikata): 2.5 – 5 tahun |
|
Strategi Orang Tua dalam Mendukung Perkembangan Bahasa Anak
Strategi orang tua dalam mendukung perkembangan bahasa balita sangat penting karena kemampuan bahasa merupakan dasar bagi keterampilan komunikasi, berpikir, dan belajar anak di masa depan. Berikut beberapa strategi yang dapat orang tua terapkan:
- Menciptakan Lingkungan yang Kaya Bahasa
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Lingkungan ini tidak hanya berarti banyak kata yang didengar anak, tetapi juga suasana yang mendorong mereka untuk berinteraksi, bertanya, dan mengekspresikan diri. Anak yang terbiasa mendengar kosakata beragam sejak dini akan lebih cepat menguasai kata-kata baru dan memahami cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Cara yang bisa dilakukan:
Contoh: Saat mencuci piring, Anda bisa berkata, “Mama sedang mencuci piring dengan sabun, lihat busanya banyak sekali.” - Menciptakan Lingkungan yang Kaya Bahasa
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan menciptakan lingkungan yang kaya bahasa. Lingkungan ini tidak hanya berarti banyak kata yang didengar anak, tetapi juga suasana yang mendorong mereka untuk berinteraksi, bertanya, dan mengekspresikan diri. Anak yang terbiasa mendengar kosakata beragam sejak dini akan lebih cepat menguasai kata-kata baru dan memahami cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Cara yang bisa dilakukan:
- Ajak anak mengobrol, meskipun mereka belum bisa menjawab.
- Bacakan buku dengan suara lantang.
- Beri penamaan pada benda di sekitar rumah, misalnya: “Ini gelas”, “Itu kursi” sambil menunjuk benda,
- Gunakan bahasa dalam rutinitas harian, seperti saat memasak atau membersihkan.
- Membaca Bersama Setiap Hari
Membaca juga merupakan strategi efektif dalam mendorong perkembangan bahasa anak. Membaca bersama balita jauh lebih efektif jika dilakukan secara interaktif, bukan sekadar membacakan teks.
- Ajukan pertanyaan sederhana: “Mana kucingnya?” atau “Apa warna bajunya?”
- Dorong anak menunjuk gambar: ini membantu mereka menghubungkan kata dengan visual.
- Diskusikan cerita: meskipun sederhana, tanyakan pendapat anak, misalnya “Menurut kamu, kelinci ini sedang apa?”
- Menggunakan Lagu dan Sajak (Rhymes)
Menggunakan lagu dan sajak (Rhymes) dapat mendukung perkembangan bahasa anak dengan menyenangkan. Orang tua dapat:
- Menyanyikan lagu anak-anak dengan pengulangan kata atau rima sederhana.
- Menggunakan gerakan tubuh seperti bertepuk tangan atau menari mengikuti lagu untuk memperkuat ingatan.
- Mengulang lagu yang sama secara rutin agar anak familiar dengan bunyi kata dan pola kata maupun kalimat.
- Belajar melalui Bermain
Dunia bermain adalah sarana alami untuk belajar bahasa. Saat anak bermain, mereka lebih santai dan mudah menyerap kosakata baru. Contohnya:
- Bermain balok: sebutkan warna, bentuk, dan ukuran balok sambil menyusunnya.
- Bermain peran (pretend play): misalnya pura-pura menjadi dokter, guru, atau penjual. Orang tua bisa menambahkan kosakata baru sesuai peran.
- Menggunakan mainan edukatif: puzzle, kartu gambar, atau boneka bisa menjadi media untuk mengenalkan kata dan konsep baru.
- Dorong Percapakan Dua Arah
Aktivitas rutin sehari-hari dapat menjadi kesempatan alami untuk mengembangkan bahasa anak. Misalnya:
- Saat memasak: Ceritakan langkah yang dilakukan, misalnya, “Ibu sedang mencuci beras, lalu memasukkannya ke panci.”
- Saat makan: ajak anak menyebut nama makanan, warna, atau rasa.
- Saat perjalanan: tunjukkan benda di sekitar seperti “Lihat, ada bus besar warna kuning.”
- Dorong Percapakan Dua Arah
Selain memperkenalkan kosakata, penting bagi orang tua untuk memberi ruang agar anak berani menggunakan bahasa.
- Tirukan ocehan anak: Jika anak ber-oceh atau babbling, tirukan kembali dengan ekspresi senang. Ini membuat anak merasa usaha komunikasinya dihargai.
- Perluas kata yang mereka ucapkan: Jika anak mengatakan “kucing,” balas dengan, “Iya, itu kucing putih yang sedang tidur.” Cara ini memperkenalkan kalimat lebih panjang.
- Ajukan pertanyaan sederhana: Gunakan pertanyaan terbuka, seperti “Kamu mau makan apa?” agar anak terdorong menggunakan lebih banyak kata.
- Bersabar dan Berikan Dukungan Positif
Setiap anak memiliki kecepatan belajar bahasa yang berbeda. Orang tua perlu memberikan dukungan tanpa tekanan.- Rayakan usaha kecil: Walau ucapannya belum jelas, tunjukkan apresiasi. Misalnya, anak berkata “wawa” untuk air, balas dengan, “Iya, kamu mau minum air, ya?”
- Jangan terlalu sering mengoreksi: Alih-alih langsung membetulkan, ulangi kata yang benar dalam kalimat penuh sehingga anak menirunya secara alami.
- Bangun rasa percaya diri: Dengan pujian dan dukungan, anak akan lebih bersemangat mencoba berbicara lagi.
Jangan lewatkan kesempatan untuk menciptakan lingkungan yang kaya bahasa di rumah. Mulailah dari hal-hal sederhana hari ini: deskripsikan apa yang Anda lakukan, rayakan setiap kata baru yang anak ucapkan, dan berikan dukungan penuh semangat. Dengan konsistensi dan kesabaran, orang tua tidak hanya membantu anak berbicara lebih baik, tetapi juga membangun rasa percaya diri, keterampilan sosial, dan fondasi kuat untuk keberhasilan mereka di masa depan.
Sumber:
Byington, T. A., & Kim, Y. (n.d.). Toddler Language Development [Fact sheet FS-14-07]. University of Nevada Cooperative Extension. Diambil 6 Januari 2025, dari https://extension.unr.edu/publication.aspx?PubID=2469 Extension | University of Nevada, Reno
Innovative Learning Center. (2024, 29 Oktober). Understanding the stages of language development in children. Diambil 6 Januari 2025, dari https://innovativelearningcenter.co.id/en/understanding-the-stages-of-language-development-in-children/ innovativelearningcenter.co.id
Raising Children Network. (2023, 19 Desember). Language development: children 0-8 years. Diambil 6 Januari 2025, dari https://raisingchildren.net.au/babies/development/language-development/language-development-0-8
Raising Children Network. (2023, 19 Desember). Language development: 1-2 years. Diambil 6 Januari 2025, dari https://raisingchildren.net.au/toddlers/development/language-development/language-1-2-years Raising Children Network
Study.com. (n.d.). Stages of Language Development | Overview & Activities. Diambil 6 Januari 2025, dari https://study.com/learn/lesson/stages-language-development-overview-chart.html study.com


