Tips & Tricks Super Asyik untuk
Mengajarkan Konsep Perkalian pada Anak!

Cara menyenangkan untuk mengenalkan konsep perkalian.
Reading Time: 9 minutes

Bagi sebagian anak, belajar perkalian bisa terasa seperti harus mengingat banyak angka sekaligus. Padahal, sebelum menghafal, anak perlu memahami arti sebenarnya dari perkalian. Jika konsepnya sudah dipahami, mengingat hasil perkalian pun akan terasa lebih mudah. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk mulai belajar perkalian dan bagaimana cara mengajarkannya dengan menyenangkan? 

Yuk, Mom & Dad, temukan cara sederhana untuk mendampingi anak belajar perkalian tanpa membuatnya merasa terbebani!

Mengenalkan Konsep Perkalian pada Anak

Mom & Dad, secara sederhana, perkalian adalah cara untuk menghitung jumlah dari beberapa kelompok yang memiliki jumlah yang sama. Misalnya, Mom memiliki 3 piring. Di setiap piring ada 4 potong buah. Daripada menghitung satu per satu: 4 + 4 + 4 = 12, kita bisa menuliskannya dengan perkalian: 3 × 4 = 12.

Dengan konsep ini, Mom & Dad dapat membantu anak untuk melihat bahwa perkalian sebenarnya merupakan cara yang lebih singkat untuk menghitung kelompok-kelompok yang jumlahnya sama. Perkalian bukanlah sekadar simbol “x”, melainkan menggambarkan hubungan antarjumlah.

Jadi, perkalian bukan sekedar angka dikali angka. Ketika anak memahami bahwa 3 x 4 = 12, ia juga idealnya dapat menjelaskan maknanya, yaitu: “Ada 3 kelompok, setiap kelompok berisi 4, jadi totalnya 12.” Kemampuan menjelaskan seperti ini jauh lebih bermakna daripada sekadar mengetahui bahwa jawaban dari 3 x 4 = 12.

Bayangkan jika anak tidak memahami konsep perkalian ini; anak mungkin tidak akan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, ketika Mom & Dad bertanya: “Ada 5 keranjang, di dalam keranjang berisi 8 jeruk. Ada berapa total jeruk semuanya?”, anak tahu harus menggunakan konsep perkalian.

Maka lebih penting bagi Mom & Dad memastikan anak memahami konsep perkalian daripada meminta mereka menghafal tabel perkalian. Dengan memahami makna perkalian, anak akan lebih mudah menerapkannya dalam berbagai situasi dan menemukan jawabannya dengan menggunakan strategi sederhana ketika lupa hasil perkalian. Hal ini juga dapat mendukung penalaran matematika anak.

Kapan Anak Mulai Belajar Perkalian?

Mom & Dad, tidak ada satu usia yang secara mutlak menjadi “waktu yang tepat” untuk semua anak mulai belajar perkalian. Yang lebih penting adalah kesiapan dan kemampuan numerasi anak. Namun, pada pendidikan formal, biasanya konsep perkalian mulai dikenalkan saat anak kelas 2 – 3 SD, usia sekitar 7 – 9 tahun.

Ini bukan berarti Mom & Dad harus menunggu sampai anak duduk di kelas tertentu untuk mengenalkan perkalian. Justru konsepnya dapat diperkenalkan jauh lebih awal melalui permainan dan aktivitas sehari-hari, tanpa harus menyebutnya sebagai “pelajaran perkalian”.

Sebelum mulai belajar perkalian, anak sebaiknya harus memiliki kemampuan untuk:

  • Mengenali dan mengurutkan angka;
  • Menghitung benda dengan cukup konsisten;
  • Memahami bahwa angka menunjukkan jumlah;
  • Mengelompokkan benda berdasarkan karakteristik tertentu;
  • Membuat beberapa kelompok dengan jumlah yang sama;
  • Memahami penjumlahan sederhana;
  • Serta mulai memahami pola dan hubungan antar bilangan.

Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan fondasi penting bagi perkembangan numerasi dan penalaran matematika anak. Ingat, Mom & Dad, kemampuan-kemampuan tersebut tidak harus muncul sekaligus. Anak dapat terus mengembangkannya melalui latihan sehari-hari.

Jadi, Mom & Dad tidak perlu terburu-buru hanya karena anak seusianya sudah mulai belajar tabel perkalian. Kesiapan anak lebih penting daripada sekadar usia.

Menghafal tabel perkalian tidak akan membuat anak memahami konsep perkalian seutuhnya.

Bagaimana Cara Mengajarkan Konsep Perkalian pada Anak?

Mom & Dad, mengajarkan perkalian pada anak tentu memiliki tantangan tersendiri. Para Mom & Dad mungkin bingung harus mulai dari mana dan tidak jarang juga malah langsung meminta anak menghafal tabel perkalian. Perlu Mom & Dad pahami, cara ini bisa membuat anak tidak memahami konsep perkalian seutuhnya, tapi hanya mengingat hasil dari angka-angka perkalian yang ia hafal.

Untuk itu, Mom & Dad dapat mulai mengajarkan konsep perkalian pada anak dengan cara yang sederhana dan bermakna bagi anak, seperti:

1. Memulai dari Benda Konkret yang Ada di Sekitar Anak
Mom & Dad dapat menggunakan benda di sekitar anak, seperti Lego, balok, kancing, baut, atau mainan anak. Misalnya, Mom & Dad memiliki 3 piring yang masing-masing di dalamnya berisi 4 buah kancing. Ajak anak untuk menghitung:
  • Ada berapa kancing di piring pertama?
  • Kalau di piring kedua juga 4, lalu di piring ketiga ada 4, total semuanya jadi berapa?
Biarkan anak menghitung dengan cara yang mereka pahami. Anak akan menemukan bahwa: 4 + 4 + 4 = 12.

Setelah itu, Mom & Dad dapat mengenalkan bahwa tiga kelompok yang masing-masing berisi empat benda juga dapat dituliskan dalam bentuk perkalian: 3 × 4 = 12.

Dengan cara ini, anak tidak hanya menghafal angka dan simbol perkalian, tapi juga memahami apa yang sebenarnya sedang dihitung. Benda konkret di sekitar anak membantu mereka melihat hubungan antara jumlah benda, kelompok, penjumlahan berulang, dan perkalian.
Contoh yang dapat Mom & Dad lakukan:

Menggunakan stik es krim

Menggunakan stik es krim

Menggunakan Playdough dan Lego

2. Kenalkan Perkalian sebagai Penjumlahan Berulang
Setelah anak memahami kelompok, Mom & Dad dapat menunjukkan hubungan antara penjumlahan dan perkalian. Misal:

4 + 4 + 4 = 12  sama dengan 3 x 4 = 12

Jelaskan bahwa 3 × 4 berarti ada 3 kelompok dan setiap kelompok berisi 4. Jadi, daripada menuliskan 4 + 4 + 4, kita dapat menggunakan perkalian sebagai cara yang lebih singkat. Tidak perlu langsung memberikan banyak soal. Gunakan situasi yang dekat dengan kehidupan anak, misalnya: “Ada 4 piring. Setiap piring berisi 3 biskuit. Ada berapa biskuit semuanya?”

Ajak anak menemukan jawabannya dengan menggambar kelompok, menjumlahkan 3 + 3 + 3 + 3, lalu menghubungkannya dengan 4 × 3 = 12. Dengan cara ini, anak memahami bahwa perkalian adalah bentuk singkat dari penjumlahan berulang, bukan sekadar simbol atau hafalan.
3. Menggunakan Susunan Baris dan Kolom agar Anak Dapat Melihat Konsep Perkalian secara Visual
Ada cara lain yang juga membantu anak melihat perkalian secara visual, yaitu menggunakan susunan baris dan kolom (array). Misalnya, Mom & Dad meminta anak menyusun 12 Lego menjadi: 3 baris, masing-masing 4 Lego. Anak dapat melihat bentuk seperti ini:

● ● ● ●

● ● ● ●

● ● ● ●

Kemudian tanyakan:
  • “Ada berapa baris?”
  • “Ada berapa Lego di setiap baris?”
  • “Jadi semuanya berapa?”
Dari susunan tersebut, anak dapat melihat bahwa 3 baris × 4 Lego = 12 Lego, atau 3 × 4 = 12. Dengan array , perkalian menjadi lebih mudah dipahami karena anak dapat melihat hubungan antara jumlah kelompok, isi setiap kelompok, dan jumlah keseluruhan.
Contoh aktivitas yang dapat Mom & Dad lakukan:
4. Menggunakan Garis Bilangan
Mom & Dad, perkalian juga dapat diperkenalkan melalui lompatan yang sama pada garis bilangan. Misalnya, untuk memahami 3 × 4, kita bisa membuat garis bilangan:
Kemudian katakan kepada anak: “Kita melompat 3 kali. Setiap lompatan sebanyak 4.” Dari sini, anak dapat melihat bahwa 3 × 4 = 12. Cara ini membantu anak memahami bahwa perkalian menunjukkan penambahan jumlah yang sama secara berulang.
Contoh aktivitas yang dapat Mom & Dad lakukan:
5. Gunakan Lagu, Gerakan, Gambar, dan Media Visual agar Pembelajaran Lebih Menyenangkan
Perkalian tidak harus selalu menggunakan buku latihan. Mom & Dad bisa menggunakan lagu, tepuk tangan, gerakan tubuh, kartu angka, gambar, atau permainan sederhana. Misalnya, saat belajar kelipatan 2, anak dapat melompat setiap kali menyebut: 2, 4, 6, 8, 10…

Atau Mom & Dad dapat menggunakan lagu untuk membantu anak memahami perkalian.

Contoh lagu yang dapat Mom & Dad pakai:

Mengenal Perkalian

Now Playing

    Learn Multiplication

    Mom & Dad juga bisa menggunakan gerakan melompat pada garis bilangan. Untuk 3 × 4, anak melompat tiga kali, dengan jarak empat angka setiap lompatan: 0 → 4 → 8 → 12.

    Dengan cara ini, anak tidak hanya menghafal bahwa 3 × 4 = 12, tapi juga mulai memahami mengapa hasilnya 12. Gambar, benda konkret, dan representasi visual membantu anak menghubungkan pengalaman nyata dengan simbol matematika.

    Jadi, Mom & Dad tidak perlu mencari media belajar yang mahal atau aktivitas yang rumit. Benda di rumah, gambar sederhana, atau garis bilangan sudah cukup.

    Yang terpenting adalah membantu anak melihat bahwa simbol perkalian “×” memiliki makna: ada sejumlah kelompok dengan jumlah yang sama.

    6. Menggunakan Permainan Sederhana
    Mom & Dad bisa mencoba beberapa permainan berikut di rumah untuk mengajarkan konsep perkalian pada anak:
    Permainan Cara Melakukan
    Roll & Multiply Siapkan dua dadu. Ajak anak melempar kedua dadu. Jika muncul 3 dan 4, tanyakan, “Kalau ada 3 kelompok dan setiap kelompok berisi 4, ada berapa semuanya?” Anak menghitung dan menemukan 3 × 4 = 12. Ulangi dengan angka yang berbeda.
    Build the Array Siapkan Lego, balok, tutup botol, biji-bijian, atau benda lainnya. Minta anak menyusun 3 baris dengan 4 benda di setiap baris. Tanyakan, “Ada berapa baris? Setiap baris berisi berapa?” Kemudian hitung bersama hingga menemukan 3 × 4 = 12. Susunan baris dan kolom ini disebut array dan membantu anak melihat perkalian secara lebih nyata.
    Multiplication Bingo Buat kartu berisi hasil perkalian, misalnya 6, 8, 10, 12, dan 15. Mom & Dad menyebutkan soal, misalnya 3 × 4. Anak menghitung jawabannya lalu mencari dan menandai angka 12. Lanjutkan dengan soal lainnya hingga mendapatkan pola atau garis yang disepakati.
    Multiplication Treasure Hunt Buat beberapa kartu berisi soal perkalian dan sembunyikan di tempat yang aman di rumah. Berikan kartu pertama kepada anak. Setelah menjawab dengan benar, berikan petunjuk untuk menemukan kartu berikutnya. Misalnya, “Cari kartu berikutnya di tempat penyimpanan buku.” Anak terus bermain hingga menemukan semua kartu.
    7. Hubungkan Perkalian dengan Kehidupan Sehari-hari
    Perkalian akan terasa lebih mudah dipahami ketika anak menemukan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Mom & Dad tidak perlu selalu membuat situasi belajar yang khusus. Saat makan, bermain, berbelanja, atau melihat benda yang tersusun rapi, momen tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan perkalian. Misalnya:
    Situasi Sehari-hari Pertanyaan untuk Anak
    Makanan “Ada 3 bungkus biskuit. Setiap bungkus berisi 4 biskuit. Berapa semuanya?”
    Mainan “Ada 4 kelompok mobil-mobilan. Setiap kelompok berisi 3 mobil. Berapa semuanya?”
    Berbelanja “Ayah membeli 5 kantong permen. Setiap kantong berisi 2 permen. Berapa semuanya?”
    Baris dan kolom “Ada 3 baris kursi. Setiap baris ada 4 kursi. Berapa jumlah semuanya?”
    Dari contoh-contoh tersebut, Mom & Dad dapat membantu anak melihat pola bahwa perkalian digunakan ketika ada beberapa kelompok dengan jumlah yang sama. Anak tidak hanya mendapatkan jawaban, tapi juga mulai memahami cerita di balik perkalian.

    Dengan demikian, perkalian tidak lagi terasa sebagai angka yang harus dihafalkan, tapi sebagai cara yang lebih sederhana untuk menghitung sesuatu yang memang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
    Orang tua harus memberikan pemahaman perkalian sebagai dasar anak memahami.

    Haruskah Anak Menghafal Tabel Perkalian?

    Mom & Dad mungkin pernah berpikir, “Kalau anak sudah mulai belajar perkalian, bukankah akhirnya harus hafal tabel perkalian?”.

    Jawabannya:

    Iya, hafalan tetap bermanfaat, tapi bukan berarti anak perlu langsung dipaksa menghafal seluruh tabel perkalian.

    Dalam belajar matematika, ada perbedaan antara memahami konsep dan mengingat fakta perkalian. Anak yang memahami bahwa 3 × 4 berarti 3 kelompok yang masing-masing berisi 4 memiliki dasar pemahaman yang berbeda dengan anak yang hanya mengingat bahwa “3 × 4 = 12”. Jadi, hafalan bukanlah musuh dalam belajar matematika. Yang perlu diperhatikan adalah kapan dan bagaimana hafalan digunakan.

    Mom & Dad tidak perlu meminta anak menghafalkan tabel 1-10 sekaligus. Mulailah sedikit demi sedikit dan manfaatkan pola yang sudah dipahami anak. Misalnya: 

    • Mulai dari perkalian yang lebih mudah dikenali, seperti ×2, ×5, dan ×10;
    • Gunakan pola dan hubungan antarperkalian, bukan hanya mengulang hasil;
    • Gunakan flash card dalam waktu singkat sebagai permainan mengingat;
    • Nyanyikan atau ucapkan fakta perkalian dengan ritme yang menyenangkan;
    • Ajak anak bermain kuis sederhana atau permainan mencari pasangan soal dan jawaban;
    • Gunakan latihan singkat secara berkala daripada meminta anak menghafal dalam waktu lama.

    Tujuan belajar perkalian bukan sekadar membuat anak mampu menjawab 3 x 4 = 12. Lebih dari itu, kita ingin anak juga memiliki pemahaman: “Saya tahu bahwa 3 × 4 berarti ada 3 kelompok berisi 4, dan kalau saya lupa hasilnya, saya punya beberapa cara untuk menemukannya.”

    Jadi, Mom & Dad tidak perlu memilih antara pemahaman dan hafalan. Keduanya memiliki tempat dalam proses belajar. Pemahaman memberikan dasar, sedangkan hafalan yang dibangun secara bertahap membantu anak menjadi lebih lancar.

    Dan mungkin, inilah sudut pandang yang perlu kita ubah: anak tidak harus hafal terlebih dahulu agar dianggap pandai matematika. Justru ketika anak memahami apa yang sedang ia lakukan, hafalan akan perlahan menjadi lebih mudah melekat dan bermakna.

    Sumber:

    3P Learning. (2020, 9 November). The best way to teach multiplication: 5 simple steps. Diakses pada 4 September 2026. https://www.3plearning.com/blog/best-way-to-teach-multiplication/

    Best Brains Cooksville. (2026, 21 Agustus). Should kids memorize multiplication tables? Diakses pada 4 September 2026. https://bestbrains.com/ca-en/mississauga-cooksville/article/should-kids-memorize-multiplication-tables

    Cheeseman, J., Downton, A., Roche, A., & Ferguson, S. (2020). Investigating young students’ multiplicative thinking: The 12 little ducks problem. The Journal of Mathematical Behavior, 60, 100817. Diakses pada 4 September 2026. https://doi.org/10.1016/j.jmathb.2020.100817

    DoodleLearning. (2024, Mei). How to teach multiplication: Tips from a maths tutor. Diakses pada 4 September 2026. https://doodlelearning.com/maths/skills/multiplication/how-to-teach-multiplication

    DoodleLearning. (n.d.). Why are times tables important? Diakses pada 4 September 2026. https://doodlelearning.com/maths/skills/multiplication/why-learning-times-tables-is-important

    İlhan, A. (2021). The impact of game-based, modeling, and collaborative learning methods on the achievements, motivations, and visual mathematical literacy perceptions. SAGE Open, 11(1), 1–17. Diakses pada 4 September 2026. https://doi.org/10.1177/21582440211003567

    Malola, M. (2020). The use of arrays in the learning of multiplication word problems in primary school. African Educational Research Journal, 8(3), 432–441. Diakses pada 4 September 2026. https://www.netjournals.org/z_AERJ_20_033.html

    Montero, M. (n.d.). The complete guide to teaching multiplication and division. Teaching with a Mountain View. Diakses pada 4 September 2026. https://teachingwithamountainview.com/teaching-multiplication-and-division/

    Prodigy. (2025, 1 September). When should kids start learning multiplication? A grade-by-grade guide. Diakses pada 4 September 2026. https://www.prodigygame.com/main-en/blog/when-should-kids-start-learning-multiplication-a-grade-by-grade-guide

    Shelley Gray. (2018, 27 Maret). Four ways to represent multiplication. Diakses pada 4 September 2026. https://shelleygrayteaching.com/represent-multiplication/

    Twinkl. (n.d.). How to teach children multiplication. Diakses pada 4 September 2026. https://www.twinkl.com/blog/how-to-teach-children-multiplication

    Understood. (n.d.). When do kids learn multiplication and division? Diakses pada 4 September 2026. https://www.understood.org/en/articles/when-do-kids-learn-multiplication-and-division

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Small knowledge is a great danger

    Close Welcome Bar
    0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop