Pangan Lokal untuk Melengkapi Gizi Anak sejak Dini

Reading Time: 7 minutes

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program unggulan pemerintah hingga 4 tahun ke depan. Program ini dirancang sebagai bagian dari upaya nasional dalam meningkatkan gizi anak bangsa.

Pelaksanaan agenda ini memberikan kesadaran bagi kita bahwa pemenuhan gizi sangat penting untuk membentuk generasi yang lebih sehat, aktif, dan juga cerdas.

Tahukah Mom & Dad?

Pemenuhan gizi anak yang seimbang harus dimulai dari rumah terlebih dahulu. Oleh karena itu, peran Mom & Dad menjadi kunci dalam pemenuhan gizi seimbang anak. 

Salah satu rahasia penting dalam pembiasaan gizi seimbang adalah dengan mengenalkan pangan lokal yang beragam dan bergizi. Lebih lengkapnya, mari kita simak bersama artikel ini!

Pentingnya Makanan Bergizi bagi Perkembangan Anak

Makanan bergizi bukan sekadar makanan mahal atau impor, melainkan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang seimbang. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa pola makan yang bergizi seimbang akan membantu:

  • Mendukung pertumbuhan fisik dan otak anak.
  • Meningkatkan daya tahan tubuh anak agar tidak mudah sakit.
  • Membantu anak berkonsentrasi sehingga proses belajar lebih optimal.

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan bahwa prevalensi stunting Indonesia tahun 2024 adalah 19,8%. Angka ini lebih rendah 0,3% poin dari target prevalensi stunting yang ditetapkan untuk tahun 2024 yaitu 20,1%. Ini artinya angka stunting atau kekurangan gizi kronis di Indonesia masih perlu perhatian khusus dan harus segera ditangani.

Mom & Dad, dampak dari kekurangan gizi pada anak tidak boleh disepelekan. Dilansir dari UNICEF Indonesia, anak yang mengalami kekurangan gizi akan:

  • Mengalami gangguan pertumbuhan fisik, termasuk tinggi badan, hingga risiko stunting.
  • Kekebalan atau sistem imunitas tubuh rendah, membuat anak mudah sakit dan lebih sulit untuk sembuh.
  • Mengganggu perkembangan otak, menurunkan konsentrasi dan kemampuan belajar, hingga produktivitas di masa depan.
  • Meningkatkan risiko penyakit diabetes dan jantung saat dewasa.
  • Meningkatkan risiko kematian, hingga 12 kali lebih tinggi dibanding anak bergizi baik.

Pengenalan Pangan Lokal bagi Anak

Pangan lokal adalah bahan makanan yang dihasilkan, diolah, dan dikonsumsi oleh masyarakat lokal (setempat). Contohnya, tempe, tahu, ikan kembung, daun kelor, labu, ubi, singkong, jagung, dan lainnya. Pangan lokal mudah diperoleh, cenderung lebih murah, dan kaya akan nutrisi alami.

Pangan lokal dapat dikenalkan pada anak sejak masa MP-ASI, mulai usia 6 bulan ke atas. Pada tahap ini, anak akan belajar mengenal berbagai rasa dan juga tekstur makanan. 

Mengapa mengenalkan bahan pangan lokal penting dan bermanfaat bagi anak?

  • Pangan lokal lebih segar dan mengandung nutrisi alami, serta bebas bahan pengawet.
  • Kandungan gizi pangan lokal seringkali lebih tinggi dibanding makanan olahan atau impor.
  • Dapat menumbuhkan rasa cinta anak terhadap makanan khas Indonesia.

Tantangan: Mengapa Anak Sering Menolak Makanan Lokal?

Mom & Dad, pernahkah anak kita menolak makanan sehat yang disajikan, tapi justru lahap menyantap camilan instan atau makanan kemasan? 

Fenomena ini terjadi bukan karena anak tidak suka makanan sehat semata. Ada beberapa faktor yang membuat anak menolak makanan bergizi dari bahan pangan lokal, seperti:

  1. Food Neophobia (Takut Mencoba Makanan Baru)
    Anak-anak secara alami bisa takut mencoba makanan baru, terutama di usia 18 – 24 bulan. Kondisi ini dikenal dengan food neophobia. Anak mungkin menolak bukan karena tidak suka rasanya, tapi karena tidak familiar dengan bentuk, tekstur, warna dan aromanya.
  2. Pola Asuh dan Contoh dari Orang Tua
    Anak belajar dengan meniru. Saat Mom & Dad menunjukkan sikap positif saat makan sayur, buah, dan makanan lokal, anak akan lebih mudah tertarik untuk mencoba. Sebaliknya, jika orang tua memaksa, anak bisa menganggap makan sehat sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan.
  3. Penyajian Monoton dan Kurang Menarik
    Makanan lokal sering disajikan dengan cara yang sama, seperti direbus atau digoreng polos tanpa variasi bentuk atau rasa. Dengan sedikit kreativitas, bahan sederhana seperti singkong atau ubi, sebenarnya bisa jadi sajian yang menarik nafsu makan anak.
  4. Paparan yang Terbatas terhadap Pangan Lokal
    Anak-anak sekarang lebih sering melihat makanan instan, nugget, atau sereal dalam kemasan berwarna cerah dibanding bahan alami seperti ubi atau tempe. Paparan yang terbatas akan pangan lokal dapat membuat anak kurang tertarik dan sudah terbiasa dengan pangan olahan.

Cara Mengenalkan Pangan Lokal kepada Anak sejak Dini

Mengenalkan pangan lokal kepada anak kita tidak selalu mudah. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan agar anak mengenal dan menyukainya sejak dini:

  1. Mulai Kenalkan Pangan Lokal sejak MP-ASI
    Perkenalkan bahan pangan lokal saat anak mulai diberi MP-ASI (6 bulan ke atas). Misalnya:

    • Bubur halus dari ubi jalar atau labu kuning
    • Protein nabati dari tempe yang dihaluskan
    • Sayuran hijau lokal seperti daun kelor
    Disarankan untuk menyajikan makanan dengan rasa alami tanpa tambahan gula atau garam sebelum anak usia 1 tahun.
  2. Terapkan Prinsip Repeated Exposure
    Penelitian menunjukkan anak perlu melihat dan mencoba makanan baru sekitar 8 – 15 kali sebelum benar-benar menerimanya. Anak butuh terbiasa dengan makanan baru, baik dari rasa, tekstur, dan aromanya. Jangan menyerah hanya karena anak menolak di percobaan pertama ya, Mom & Dad!
  3. Kreatif dalam Penyajian Makanan
    Kreasikan pangan lokal agar lebih menarik minat anak. Misalnya:
    1. Ubi ungu kukus berbentuk bintang
    2. Bola-bola tempe kukus dengan keju parut
    3. Sup bening daun kelor dengan mie jagung
    Atau Mom & Dad, dapat menyajikan makanan dan camilan dengan hiasan atau tempat makan yang unik dan menarik perhatian anak.
  4. Latih Sensorik Anak sejak Dini
    Melatih kemampuan sensorik anak melalui sentuhan, penciuman, dan rasa, dapat membantu mereka lebih terbuka terhadap berbagai jenis makanan. Anak yang terbiasa memegang, mencium, dan merasakan beragam tekstur makanan akan lebih mudah menerima makanan baru. Penelitian menunjukkan bahwa stimulasi sensori sejak dini dapat menurunkan keengganan anak terhadap makanan baru dan meningkatkan penerimaan terhadap tekstur dan rasa.


    Tips melatih sensorik di rumah:

    • Biarkan anak memegang bahan makanan mentah seperti ubi, sayur, atau jagung untuk merasakan teksturnya.
    • Ajak anak menebak bau rempah-rempah lokal seperti serai, jahe, atau daun jeruk agar anak terbiasa dengan berbagai aroma.
    • Izinkan anak makan dengan tangan agar bisa mengenal tekstur lembut, kenyal, atau renyah.
    • Bermain pasir, tepung, atau tanah liat untuk melatih rasa “berantakan” di tangan.
    • Bermain air hangat dan dingin untuk mengenal sensasi suhu.
  5. Libatkan Anak dalam Proses Membuat Makanan
    Ajak anak ikut berperan di dapur, misalnya memilih bahan, mencuci sayur, atau mengaduk adonan. Kegiatan sederhana ini tidak hanya melatih motorik halus dan kemandirian, tapi juga membuat anak lebih akrab dengan makanan yang disiapkannya. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang terlibat dalam proses memasak cenderung lebih mau mencoba dan menikmati makanan sehat.

Contoh Menu Bahan Pangan Lokal

  1. Bubur Singkong Isi Ikan dan Ayam dengan Saus Jeruk (Usia 6 – 8 Bulan): 3 Porsi
     

    Bahan: 

    • 75 gr singkong putih, rebus, dan haluskan
    • 15 gr (2 sdm) daging ikan kembung cincang halus
    • 15 gr daging ayam cincang rebus
    • 250 ml air kaldu ayam
    • 5 gr (1 sdt) minyak kelapa
    • 20 gr (2 sdm) bayam segar, potong halus

    Bumbu:

    • 1 lembar daun salam
    • 1 batang sereh
    • 1 siung bawang merah
    • 1 siung bawang putih

    Buah:

    • 100 gr (3 buah kecil) jeruk manis diambil sarinya

    Cara Membuat

    • Tumis bumbu halus, lalu masukkan daun salam dan sereh.
    • Tambahkan air kaldu, masukkan singkong putih, daging ikan, daging ayam cincang rebus, aduk-aduk hingga setengah matang.
    • Masukkan daun bayam, aduk hingga matang. Jika airnya mengental dapat ditambahkan air matang.
    • Angkat, lalu saring halus atau diblender.
    • Sebelum disajikan tambahkan saus jeruk.
  2. Nasi Tim Ikan Tuna Telur Puyuh (Usia 9 – 11 Bulan): 3 Porsi
     

    Bahan: 

    • 115 gr (12 sdm) nasi putih
    • 30 gr (1 potong kecil) ikan tuna segar, haluskan
    • 30 gr (3 butir) telur puyuh
    • 15 gr (1 potong besar) wortel
    • 10 gr (1 buah sedang) tomat
    • 7.5 gr (1.5 sdt) minyak kelapa
    •  75 cc (1/3 gelas belimbing) kaldu ayam
    • 50 gr (1/2 potong) pepaya, haluskan

    Buah: 

    • 180 gr (1 potong besar) semangka

    Cara Membuat

    • Masukkan nasi, ikan tuna, telur puyuh, minyak kelapa ke dalam mangkok tim
    • Tambahkan air kaldu
    • Masukkan wortel dan tomat, tim hingga matang
    • Angkat, sajikan dengan saus pepaya.
Untuk informasi lebih lengkapnya, Mom & Dad dapat mengunduh Buku Resep Makanan Lokal untuk usia 6 bulan hingga 5 tahun; yang disusun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan dilengkapi pemaparan gizi setiap menu. 
 
Temukan bukunya melalui tombol download berikut!

Mom & Dad, memperkenalkan pangan lokal bukan sekadar urusan dapur. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan, karakter, dan kebanggaan anak terhadap budaya Indonesia. Melalui kebiasaan sederhana di rumah, Mom & Dad berperan penting dalam menumbuhkan generasi yang sehat, bebas stunting, cerdas, dan bangga terhadap pangan ibu pertiwi.

Sumber:

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025, Mei 27). Capaian SSGI 2024 Ungkap Tren Positif. Diakses pada tanggal 01 November 2025 dari  https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/capaian-ssgi-2024-ungkap-tren-positif/ badankebijakan.kemkes.go.id+2Kementerian Kesehatan Republik Indonesia+2

Birch, L. L., & Fisher, J. O. (1998). Development of eating behaviors among children and adolescents. Pediatrics, 101(3), 539–549. https://doi.org/10.1542/peds.101.3.539  

Coulthard, H., & Sealy, A. (2017). Play with your food! Sensory play is associated with tasting of fruits and vegetables in preschool children. Appetite, 113, 84-90. https://doi.org/10.1016/j.appet.2017.02.003

Dovey, T. M., Staples, P. A., Gibson, E. L., & Halford, J. C. G. (2008). Food neophobia and ‘picky/fussy’ eating in children: A review. Appetite, 50(2-3), 181-193. https://doi.org/10.1016/j.appet.2007.09.009

Stunting.go.id. (2025, Mei 28). Prevalensi stunting Indonesia turun ke 19,8%. Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia. Diakses pada tanggal 01 November 2025 dari  https://stunting.go.id/prevalensi-stunting-indonesia-turun-ke-198/

UNICEF Indonesia. (2023, 5 September). Wasting (Gizi Kurang Dan Gizi Buruk) Dan Dampaknya Pada Anak. Diakses pada tanggal 01 November 2025 dari  https://www.unicef.org/indonesia/id/gizi/artikel/dampak-wasting-pada-anak 

Wardle, J., Cooke, L. J., Gibson, E. L., Sapochnik, M., Sheiham, A., & Lawson, M. (2003). Increasing children’s acceptance of vegetables: A randomized trial of parent-led exposure. Appetite, 40(2), 155-162. https://doi.org/10.1016/S0195-6663(02)00135-6

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop