Mengasuh Generasi Beta di Era AI:
Pola Asuh seperti Apa yang Dibutuhkan Mereka?

Generasi Beta lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan AI dan teknologi.
Reading Time: 8 minutes

Setiap generasi tumbuh dengan tantangannya sendiri, begitu pula Generasi Beta yang akan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan AI dan teknologi. Bagi mereka, teknologi mungkin akan menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lalu, apakah pola asuh yang selama ini kita kenal masih relevan untuk mendampingi mereka?

Untuk mengetahuinya, mari kita simak bersama artikel ini ya, Mom & Dad!

Mengenal Generasi Beta

Mom & Dad, istilah Generasi Beta diperkenalkan oleh Mark McCrindle, seorang pakar demografi dan analis sosial asal Australia, untuk merujuk pada anak-anak yang lahir pada rentang tahun 2025 hingga 2039.

Jika Generasi Alpha tumbuh bersama internet, smartphone, dan media sosial, Generasi Beta diperkirakan akan tumbuh dalam dunia yang semakin terintegrasi dengan AI, perangkat pintar, dan otomatisasi. Teknologi bukan lagi sekadar alat yang digunakan, tapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mom & Dad, AI sebenarnya sudah dekat dengan kehidupan anak-anak saat ini, mulai dari mesin pencari, rekomendasi konten, aplikasi belajar, hingga chatbot. Karena itu, UNICEF menekankan pentingnya membekali anak bukan hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tapi juga dengan literasi digital dan AI, berpikir kritis, kreativitas, serta kesadaran akan keamanan dan hak di ruang digital.

Maka, tantangan Mom & Dad bukanlah menjauhkan anak dari teknologi. Yang lebih penting adalah mendampingi mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan bijak, tetap kritis, kreatif, aman, dan tidak kehilangan kemampuan untuk terhubung dengan sesama.

Konektivitas dan interaksi Gen Beta yang erat dengan AI memunculkan tantangan-tantangan yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Apa yang akan Menjadi Tantangan Generasi Beta?

Mom & Dad, tumbuh di tengah teknologi yang semakin canggih tentu membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan baru bagi anak. Beberapa tantangan yang mungkin dialami oleh Gen Beta:

  1. Misinformasi dan Sering Terpapar Konten Palsu
    Kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, dan video yang semakin menyerupai konten nyata berpotensi membuat Gen Beta kesulitan membedakan informasi yang asli dan yang palsu. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, bias, atau menyesatkan. UNICEF juga menyoroti bahwa anak-anak lebih rentan terhadap misinformasi karena kemampuan kognitif mereka masih berkembang.

  2. Jawaban Instan Membuat Anak Menyepelekan Proses Belajar 
    Bayangkan anak sedang mengerjakan soal yang sulit. Sebelum mencoba, ia langsung bertanya kepada AI. Jawaban muncul. Masalah selesai dan praktis. Namun, proses belajar, mulai dari mencoba, melakukan kesalahan, hingga menemukan solusi, merupakan bagian penting dalam pembelajaran.

    UNICEF juga menyoroti kekhawatiran bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat membuat anak “mengalihkan” proses belajarnya kepada teknologi sehingga kesempatan untuk mengalami productive struggle berkurang. Tantangan orang tua bukan melarang anak menggunakan AI. Tantangannya adalah memastikan AI tidak mengambil alih kesempatan anak untuk berpikir.

  3. Ketergantungan pada Teknologi
    Mom & Dad, teknologi dapat membantu proses belajar, tapi penggunaan yang tidak terarah dapat membuat anak terlalu bergantung pada perangkat untuk mencari jawaban atau menyelesaikan masalah. Jika teknologi dapat memberikan rekomendasi tentang apa yang harus ditonton, dibaca, dibeli, bahkan dilakukan, anak bisa terbiasa mengikuti saran tanpa banyak mempertimbangkan pilihannya sendiri dan nantinya akan mengalami ketergantungan pada teknologi. 

    UNICEF juga menekankan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran perlu disertai pendampingan agar tidak menggeser kemampuan berpikir kritis anak.

  4. Menurunnya Kemampuan Sosial dan Empati
    Waktu yang terlalu banyak di dunia digital dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung. Padahal, kemampuan berkomunikasi, memahami perasaan orang lain, dan bekerja sama perlu dilatih melalui hubungan yang nyata. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media yang berlebihan dapat memengaruhi secara negatif perkembangan kognitif dan emosional anak, misalnya, kemampuan berbahasa, literasi, dan empati dapat terganggu.

  5. Terancamnya Privasi dan Keamanan Digital Anak
    Sejak kecil, Gen Beta dihadapkan pada isu privasi: data pribadi mudah terekam, dan risiko predator online semakin besar. Anak meninggalkan jejak digital melalui foto, unggahan, komentar, aplikasi, dan berbagai perangkat yang terhubung ke internet. Risiko yang perlu diperhatikan mencakup penyalahgunaan data pribadi, cyberbullying, konten berbahaya, hingga eksploitasi online.

Jadi, tantangan terbesar Gen Beta mungkin bukan hidup berdampingan dengan teknologi. Tantangannya adalah tetap menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki empati dan kemampuan sosial, mampu mengambil keputusan sendiri, dan menjaga keamanan digital yang dimulai sejak dini.

Generasi Beta membutuhkan pola asuh yang diberikan ruang untuk mengeksplorasi lingkungan.

Apa Jenis Pola Asuh yang Cocok untuk Generasi Beta?

Ketika membicarakan pola asuh, Mom & Dad mungkin sudah mengenal empat gaya yang umum dibahas: otoritatif, otoriter, permisif, dan abai. Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat dari dua hal: seberapa hangat dan responsif orang tua terhadap anak, serta seberapa jelas batas dan tuntutan yang diberikan.

Pola asuh otoritatif ditandai dengan responsivitas yang tinggi sekaligus batas yang jelas.

Pola asuh otoriter cenderung tinggi dalam tuntutan, tapi rendah dalam responsivitas.

Pola asuh permisif lebih hangat, tapi minim batasan.

Pola asuh abai ditandai dengan rendahnya respons terhadap kebutuhan dan kehidupan anak.

Untuk memahami berbagai jenis pola asuh lebih lengkap, Mom & Dad dapat mengakses artikel berikut:

Langkah pertama dalam mengasuh anak adalah menyepakati pola asuh yang akan diterapkan.

Memahami Pola Asuh Anak: “Apa Pola Asuh yang Ideal untuk Gen Alpha?”

Masih bingung mengenai pola asuh yang ingin diterapkan pada anak-anak kita? Yuk, pahami 4 jenis pola asuh anak terlebih dahulu!

Dalam menghadapi tantangan Generasi Beta, pola asuh otoritatif dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk dipertimbangkan. Pola asuh ini memadukan kehangatan, komunikasi dua arah, dan batasan yang konsisten. Anak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengeksplorasi lingkungan, sekaligus dibimbing untuk memahami aturan serta konsekuensi dari tindakannya.

Pendekatan tersebut dapat membantu Mom & Dad mendampingi anak dalam mengembangkan kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis, termasuk ketika berhadapan dengan teknologi digital. Namun, pola asuh bukanlah pendekatan yang dapat diterapkan secara kaku. Kebutuhan anak, tahap perkembangan, dan kondisi keluarga tetap perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan cara pengasuhan yang tepat.

Seperti Apa Pola Asuh Otoritatif untuk Generasi Beta?

Gen Beta tumbuh di tengah lingkungan yang semakin dekat dengan teknologi, informasi, dan perubahan yang cepat. Karena itu, dalam menerapkan pola asuh otoritatif, Mom & Dad dapat memberikan kehangatan sekaligus batasan yang jelas untuk membantu anak mengambil keputusan dalam setiap aktivitas yang melibatkan teknologi.

Berikut beberapa prinsip yang dapat diterapkan Mom & Dad dalam kehidupan sehari-hari:

Prinsip

Seperti Apa Penerapannya pada Generasi Beta?

Hangat & responsif

  • Mom & Dad menunjukkan kasih sayang, empati, dan perhatian terhadap perasaan anak.
  • Dengarkan pertanyaan, pendapat, serta keluhannya tanpa langsung menghakimi. Anak perlu merasa didengar dan dihargai, meskipun keinginannya tidak selalu harus dituruti.

Tegas dengan batasan

  • Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten, misalnya mengenai durasi penggunaan gawai, akses internet, serta jenis konten yang boleh diakses.
  • Jelaskan alasan di balik aturan tersebut agar anak memahami bahwa batasan dibuat untuk membimbing dan melindunginya, bukan sekadar melarang.

Memberikan ruang untuk mandiri

  • Berikan kesempatan kepada anak untuk membuat pilihan sederhana, mencoba hal baru, menyelesaikan masalah, dan belajar dari kesalahan sesuai dengan usianya.
  • Misalnya, membiarkan anak memilih aktivitas bermain atau mencoba menyelesaikan tugas sebelum Mom & Dad memberikan bantuan.

Mengajarkan cara berpikir kritis

  • Ajak anak untuk tidak sekadar menerima informasi, termasuk yang berasal dari internet dan teknologi AI.
  • Dorong anak untuk bertanya, mencari alasan, membandingkan sumber informasi, serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan agar mampu menilai informasi secara lebih kritis.

Membimbing, bukan sekadar memerintah

  • Libatkan anak dalam percakapan mengenai aturan dan keputusan yang sesuai dengan usianya.
  • Berikan penjelasan, dengarkan sudut pandangnya, dan bantu anak memahami konsekuensi dari pilihannya. Dengan demikian, anak belajar bertanggung jawab, bukan hanya patuh karena takut dihukum.

Pada akhirnya, menjadi orang tua bagi Gen Beta bukan tentang mengatur setiap langkah anak. Mom & Dad dapat menjadi tempat bagi anak untuk merasa aman bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan, sekaligus tetap belajar memahami batasan dan konsekuensinya. Tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak patuh, tapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir, memilih, dan bertanggung jawab.

ola asuh otoritatif menetapkan aturan dan batasan yang jelas sehingga anak belajar menjadi bertanggung jawab.

Bagaimana Menerapkan Pola Asuh Otoritatif di Era AI?

Mom & Dad, menerapkan pola asuh otoritatif di era AI berarti tetap hadir sebagai pembimbing saat anak berinteraksi dengan teknologi. Alih-alih langsung melarang atau membiarkan anak menggunakan AI tanpa pendampingan, Mom & Dad dapat menjadikan berbagai situasi tersebut sebagai kesempatan untuk membangun rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab anak.

Situasi yang mungkin dihadapi Gen Beta

Cara menerapkan pola asuh otoritatif

Contoh respons Mom & Dad

Saat anak bertanya kepada AI

  • Bangun rasa ingin tahu, bukan sekadar menerima jawaban.
  • Ketika anak bertanya kepada AI, manfaatkan kesempatan ini untuk melatih kemampuan berpikir kritis. AI dapat membantu menjelaskan sesuatu, tapi jawabannya tetap perlu diperiksa. 
  • Ajak anak membandingkan informasi dengan buku, sumber terpercaya, atau penjelasan guru.

“AI memberikan jawaban, ya. Menurut kamu, bagaimana kita bisa memastikan jawabannya benar? Yuk, kita cari tahu dari sumber lain.”

Saat anak meminta AI mengerjakan sesuatu untuknya

  • Ajarkan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. 
  • Anak boleh menggunakan AI untuk mendapatkan ide, penjelasan, atau petunjuk, tapi tetap perlu memahami dan mengerjakan bagiannya sendiri.

“Kita boleh meminta AI membantu menjelaskan. Tapi coba kamu pikirkan dulu jawabannya. Setelah itu, kita lihat apakah penjelasan AI membantu.”

Saat anak meminta menggunakan gadget atau AI

  • Tetapkan batasan yang jelas dengan alasan yang dapat dipahami.
  • Daripada hanya menjawab “boleh” atau “tidak boleh”, ajak anak menyepakati aturan penggunaan gadget. 
  • Tentukan kapan perangkat boleh digunakan, berapa lama, untuk tujuan apa, dan jenis konten yang sesuai. 
  • Aturan juga perlu mempertimbangkan waktu tidur, waktu belajar, waktu bermain aktif, serta interaksi keluarga.

“Kamu boleh menggunakan tablet untuk belajar setelah makan. Setelah itu, kita simpan dulu supaya kamu punya waktu bermain dan beristirahat.”

Saat anak mengalami kesulitan

  • Jangan buru-buru memberikan solusi, termasuk meminta AI menyelesaikannya. 
  • Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba, berpikir, dan membuat kesalahan sebelum meminta bantuan.

“Sebelum kita tanyakan kepada AI, menurut kamu jawabannya apa? Coba dulu dengan caramu sendiri.”

Saat anak ingin mengambil keputusan

  • Bantu anak menggunakan AI sebagai bahan pertimbangan, bukan penentu keputusan. 
  • Ajak anak menyampaikan pendapatnya terlebih dahulu, kemudian gunakan AI untuk mencari informasi atau melihat pilihan yang tersedia.

“AI bisa memberikan beberapa pilihan, tapi menurut kamu sendiri, mana yang paling cocok? Kenapa kamu memilih itu?”

Saat anak menggunakan AI untuk membuat sesuatu

  • Dorong kreativitas tanpa menghilangkan peran anak dalam prosesnya. 
  • AI dapat membantu membuat gambar, cerita, ide, atau proyek, tapi anak tetap perlu menentukan ide, memberikan arahan, dan memahami hasil yang dibuat.

“AI bisa membantu membuat gambarnya. Kalau menurut kamu, apa yang ingin kamu tambahkan supaya hasilnya sesuai dengan idemu?”

Saat anak menemukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman di internet

  • Bangun rasa aman untuk bercerita. Anak perlu tahu bahwa ia tidak akan langsung dimarahi ketika menemukan konten, percakapan, atau pengalaman digital yang membingungkan atau menakutkan.

“Kalau kamu menemukan sesuatu yang membuatmu bingung atau tidak nyaman, kamu boleh langsung cerita kepada Mom & Dad. Kita cari tahu bersama.”

Saat anak ingin membagikan sesuatu secara online

  • Ajarkan privasi dan tanggung jawab digital sejak dini. Bantu anak memahami bahwa tidak semua informasi, foto, atau cerita perlu dibagikan kepada orang lain.

“Sebelum membagikannya, yuk kita pikirkan. Apakah informasi ini aman kalau dilihat banyak orang? Apa yang mungkin terjadi setelah kita mengunggahnya?”

Dunia Gen Beta mungkin akan dipenuhi teknologi yang semakin pintar, tapi pola asuh tetap memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana anak menggunakannya. Mom & Dad tidak perlu selalu memiliki semua jawaban. Cukup hadir sebagai pendamping yang mau mendengarkan, berdiskusi, memberi batasan, dan memberi anak kesempatan untuk belajar dari pengalamannya.

Sebab, di tengah perkembangan AI yang begitu cepat, anak tetap membutuhkan orang tua untuk membantunya memahami bukan hanya “apa” yang bisa dilakukan teknologi, tapi juga “bagaimana” dan “kapan” menggunakannya dengan bijak.

Sumber:

BBC. (n.d.). Generation Beta. Diakses pada 14 September 2026. https://www.bbc.co.uk/bitesize/articles/zprmrmn

Hungry Brain. (n.d.). The real challenge for Gen Beta. Diakses pada 14 September 2026. https://hungrybrain.in/blogs/news/the-real-challenge-for-gen-beta

MAKUKU. (n.d.). Generation Beta. Diakses 14 September 2026. https://makuku.co.id/en/article/infant/generation-beta

McCrindle. (n.d.). Generation Beta: The complete guide. Diakses pada 14 September 2026. https://mccrindle.com.au/article/generation-beta-the-complete-guide/

PMF IAS. (n.d.). Generation Beta. Diakses pada 14 September 2026. https://www.pmfias.com/generation-beta/

UNESCO. (n.d.). Guidance for generative AI in education and research. Diakses pada 14 September 2026. https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research 

UNICEF. (n.d.). Parenting in the AI age: How to approach AI with children. Diakses pada 14 September 2026. https://www.unicef.org/parenting/digital-parenting/how-approach-ai-children

Vet, R. (n.d.). The future of parenting: The impact of AI on raising Gen Beta. Diakses pada 14 September 2026. https://ryanvet.com/collide/the-future-of-parenting-the-impact-of-ai-on-raising-gen-beta/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop