|
Sub Topik:
|
Sebagai orang tua, melihat anak memukul diri sendiri merupakan suatu kondisi yang mengkhawatirkan dan membingungkan. Meskipun begitu, penting bagi orang tua untuk memahami alasan dibalik dari munculnya perilaku ini dan bagaimana meresponnya dengan tepat. Banyak faktor yang menjadi pemicu munculnya perilaku ini. Lebih lanjut, mari simak uraian berikut.
Mengapa Anak Balita Memukul Dirinya Sendiri?
Anak-anak dapat memukul diri sendiri karena berbagai alasan, dan mencoba memahami penyebab di balik perilaku ini juga bisa sangat sulit bagi orang tua. Berikut adalah beberapa alasan umum mengapa perilaku ini muncul:
- Kurangnya Keterampilan Komunikasi Anak
Balita sedang mengembangkan keterampilan bahasa mereka dan mungkin kesulitan mengungkapkan perasaan, kebutuhan, atau frustrasi secara verbal. Memukul diri sendiri bisa menjadi cara mereka untuk menyampaikan rasa tidak nyaman ketika mereka tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat. Ini adalah bentuk ekspresi emosi yang intens seperti marah, frustrasi, atau bahkan sedih. - Merasa Frustasi
Balita yang tidak memiliki toleransi tinggi terhadap frustrasi mungkin memukul diri sendiri untuk mengekspresikan kekesalan. Jika Anda melihat hal ini terjadi, perhatikan pemicu yang menyebabkan amukan tersebut. Mungkin Anda menolak sesuatu yang sangat diinginkan anak Anda, atau mungkin mereka terlalu lelah, lapar, maupun merasa sakit. - Stres dan Kecemasan
Stres dan kecemasan bisa memicu agresi yang diarahkan pada diri sendiri. Anak-anak yang tidak bisa mengidentifikasi atau mengelola stres mungkin mengekspresikannya sebagai kemarahan, yang mengarah pada memukul, menggaruk, atau menggigit diri sendiri. - Overstimulasi atau Kelebihan Rangsangan Sensorik
Overstimulasi atau kelebihan rangsangan sensorik terjadi ketika anak kewalahan oleh masukan sensorik seperti suara, cahaya, bau, tekstur, dan gerakan. Anak-anak yang mengalami hal ini bisa memukul diri sendiri untuk mengatur kebutuhan sensorik mereka. Misalnya, seorang anak berusia 3 tahun yang mengunjungi taman hiburan untuk pertama kalinya mungkin merasa kewalahan oleh kebisingan dan kerumunan. Karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya, ia mulai memukul kepalanya. - Adanya Gangguan Perkembangan maupun Disabilitas
Anak-anak dengan ADHD atau autisme cendrung mengalami kesulitan dalam mengatur emosi mereka. Anak-anak dengan kondisi ini mungkin memukul diri sendiri ketika emosi mereka menjadi terlalu berlebihan karena kesulitan mengatur diri. - Mencari Perhatian
Balita sering mempelajari perilaku yang memancing reaksi orang tua. Beberapa anak memukul diri sendiri untuk mendapatkan perhatian dari orang dewasa, karena menyadari bahwa perilaku ini menarik perhatian orang tua, meskipun negatif. - Merasa Tertekan atau Kewalahan:
Anak-anak mungkin merasa tertekan atau kewalahan ketika ada perubahan signifikan dalam rutinitas atau lingkungan mereka, seperti pindah rumah, perubahan di sekolah, atau perpisahan dengan orang tua. - Meniru Perilaku
Anak-anak belajar dengan mengamati dan meniru tindakan orang di sekitar mereka. Jika mereka telah melihat orang lain, termasuk orang dewasa atau teman sebaya, memukul diri sendiri atau menunjukkan perilaku agresif, mereka mungkin meniru tindakan ini tanpa sepenuhnya memahami implikasinya. - Kurang Tidur
Kurang tidur bisa menyebabkan anak-anak menjadi lebih mudah kewalahan dan meningkatkan kemungkinan mereka untuk memukul diri sendiri. - Mengatasi Perasaan Negatif
Anak-anak mungkin memukul diri sendiri karena merasa kesepian, tidak berharga, atau kosong, atau ingin menghukum diri sendiri atas sesuatu yang mereka anggap mengerikan yang telah mereka lakukan. - Mengekspresikan Rasa Gembira
Balita umumnya energik dan ingin tahu, tetapi kadang mereka bisa terlalu bersemangat dan tidak tahu bagaimana mengekspresikan diri dengan benar. Mereka mungkin memukul atau membenturkan kepala saat gembira, mirip dengan orang dewasa yang bertepuk tangan atau melompat saat senang.
Cara Mengatasi Perilaku Memukul Diri Sendiri pada Balita
Berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengatasi perilaku memukul diri sendiri pada balita:
- Tetap Tenang
Duduk bersama anak dan tawarkan bantuan dengan tenang dan tidak menyudutkan anak. - Identifikasi Pemicu
Amati situasi atau rangsangan yang mendahului perilaku melukai diri. Pemicu bisa bervariasi dari kelebihan sensorik, frustrasi, kesulitan komunikasi, atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. - Validasi dan Alihkan
Validasi perasaan anak, bantu anak menamai emosi yang ia rasakan. Seperti “Kamu sedang marah ya?, “Kamu sedang lelah ya?”, “Kamu kelihatan frustrasi. Memukul diri itu menyakitkan. Mari kita coba remas bola ini.” - Ajarkan Keterampilan Mengatasi Masalah Alternati
- Pernapasan Dalam: Ajak anak untuk menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya beberapa detik, lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut untuk menenangkan sistem saraf.
- Aktivitas Fisik: Dorong anak untuk terlibat dalam permainan luar ruangan atau aktivitas fisik seperti berlari, olahraga, atau menari untuk melepaskan energi dan stres.
- Musik dan Gerakan: Bernyanyi atau menari bersama dapat menjadi jalan keluar yang sehat untuk emosi anak.
- Seni dan Kerajinan: Berikan bahan seni seperti kertas, krayon, atau tanah liat dan dorong anak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui seni. Anda juga dapat menggunakan buku aktivitas Kumon seperti:
- Jangan Menghukum Anak karena Perilaku Menyakiti Diri Sendiri
- Ciptakan Lingkungan Aman: Peluk anak dengan lembut dan gunakan nada yang lembut untuk menunjukkan ketidaksetujuan. Misalnya, “Ibu tahu kamu sedang mengalami emosi yang besar saat ini, tetapi Ibu tidak bisa membiarkanmu menyakiti diri sendiri. Mari kita tenangkan diri dan bicarakan hal ini.”
- Komunikasi Terbuka: Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, serta dengarkan mereka dengan penuh perhatian.
- Mencontohkan Perilaku yang Tepat
Jadilah contoh untuk cara yang tepat dalam mengekspresikan emosi. Tunjukkan kepada mereka bagaimana menangani frustrasi dan kemarahan melalui tindakan yang tenang dan terkendali. Gunakan teknik seperti pernapasan dalam atau menghitung sampai sepuluh untuk menunjukkan pengendalian diri. - Berkonsultasi dengan Profesional
Jika perilaku memukul diri sendiri berlanjut atau disertai dengan tanda-tanda lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan dengan dokter anak, psikolog anak, atau terapis okupasi. Mereka dapat memberikan penilaian menyeluruh dan menawarkan strategi serta intervensi yang sesuai.
Memahami mengapa balita memukul diri sendiri dan mengetahui cara merespons bisa membuat perbedaan besar dalam mendukung pertumbuhan mereka dan membantu mereka mengatasi emosi mereka. Dengan pendekatan yang tepat, orang tua bisa menciptakan lingkungan yang mendukung di mana balita merasa dimengerti, aman, dan dicintai. Ingatlah, kesabaran dan empati adalah kunci dalam membimbing balita melalui fase perkembangan mereka.
Sumber:
Bradley, Sarah. “Why Do Toddlers Hit Themselves in the Head?”. Diakses pada tanggal 01 Agustus 2024. https://www.healthline.com/health/childrens-health/why-does-my-toddler-hit-himself
Garoo, Rohit. “Why Do Toddlers Hit Themselves And How To Stop It?”. Diakses pada tanggal 01 Agustus 2024. https://www.momjunction.com/articles/toddler-self-harm-hitting-causes-ways-to-stop_00700813/#key-pointers
Goally. “Why Do Kids Hit Themselves”. Diakses pada tanggal 01 Agustus 2024. https://getgoally.com/blog/why-do-kids-hit-themselves/
Leach, Penelope. “My Toddler Hits and Bites Himself. What Should I Do?”. Diakses pada tanggal 01 Agustus 2024. https://www.babycenter.com/toddler/behavior/my-toddler-hits-and-bites-himself-what-should-i-do_14506
Morin, Amy. “Why Do Toddlers Hit Themselves?”. Diakses pada tanggal 01 Agustus 2024. https://www.parents.com/why-do-toddlers-hit-themselves-8643764
Parents. “Understanding Why Kids Hit Themselves: Techniques to Stop the Behavior”. Diakses pada tanggal 01 Agustus 2024. https://parents.app/parenting/connection-communication/why-do-kids-hit-themselves-and-how-can-you-help-them-stop/a/
Summers J, et al. (2017). Self-injury in autism spectrum disorder and intellectual disability: Exploring the role of reactivity to pain and sensory input. Brain Science, 7 (140), 2-16.


