Mengajarkan Anak Menjadi Upstander : Cara Mendidik Anak Berani Melawan Cyberbullying!

Reading Time: 6 minutes

Mom & Dad, internet kini sudah menjadi bagian dari keseharian anak. Mereka bisa belajar, bermain, menonton, dan berinteraksi lewat layar dalam hitungan detik. Di balik manfaat itu, ada risiko yang tidak selalu terlihat.

Salah satunya adalah cyberbullying, yaitu perundungan yang terjadi di dunia maya. 

Karena perundungan ini sering terjadi di ruang digital, perundungan ini sering luput dari perhatian orang tua sampai anak benar-benar terdampak. Itulah sebabnya Mom & Dad perlu memahami bentuk, tanda, dan cara mendampinginya sejak dini.

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Menggunakan Internet dan Media Sosial?

Untuk penggunaan internet, anak sebenarnya bisa mulai dikenalkan secara bertahap dan diawasi, misalnya untuk belajar, mencari materi sekolah, atau kegiatan edukatif. Namun, untuk media sosial dan layanan digital berisiko tinggi, Indonesia kini punya aturan yang lebih jelas melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Regulasi yang ditetapkan pada 28 Maret 2025 dan mulai berlaku pada 1 April 2025 ini menjadi dasar hukum kuat bagi negara untuk menghadirkan ruang digital yang aman, sehat, dan berkeadilan. 

Dalam aturan tersebut, anak di bawah 13 tahun hanya dapat menggunakan layanan digital berisiko rendah yang memang dirancang khusus untuk anak dan tetap memerlukan izin orang tua. Anak usia 13 – 15 tahun dapat mengakses layanan digital tertentu dengan persetujuan orang tua. Sementara itu, layanan jejaring dan media sosial dikategorikan berisiko tinggi, seperti YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, Threads, X, hingga Roblox, dan platform wajib menonaktifkan akun anak di bawah 16 tahun untuk layanan tersebut.

Aturan ini bukan dibuat untuk melarang anak mengenal teknologi. Justru tujuannya adalah melindungi mereka dari risiko, seperti konten berbahaya, eksploitasi data, penipuan online, kecanduan digital, dan tentu saja cyberbullying. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa pelindungan ini dimaksudkan agar anak punya kesiapan yang lebih baik sebelum masuk ke ruang digital yang lebih luas.

Apa Itu Cyberbullying?

Cyberbullying adalah perundungan yang terjadi melalui perangkat digital, seperti ponsel, komputer, maupun tablet. Cyberbullying dapat sering terjadi di aplikasi pesan, media sosial, forum dan gim online. Bentuknya bisa berupa pesan kasar, ancaman, komentar menghina, rumor palsu, foto atau video yang mempermalukan, hingga penyamaran akun untuk menyakiti korban. Karena jejak digital bisa bertahan lama dan mudah dibagikan, dampaknya sering terasa lebih luas daripada perundungan biasa.

Dampak cyberbullying tidak berhenti pada rasa sedih sesaat. Centers for Disease Control and Prevention menjelaskan bahwa cyberbullying dapat memicu distres sosial dan emosional, gangguan tidur, penurunan prestasi sekolah, rasa cemas, dan depresi. UNICEF juga menyoroti bahwa anak yang menjadi sasaran cyberbullying bisa merasa malu, tidak aman, kesepian, dan menarik diri dari orang lain.

Bentuk-Bentuk Cyberbullying yang Perlu Mom & Dad Kenali

Cyberbullying tidak selalu terlihat jelas atau “kasar”. Justru sering muncul dalam hal-hal yang dianggap sepele, tapi berdampak besar bagi anak.

Berikut beberapa bentuk yang perlu Mom & Dad waspadai:

  • Pesan menyakitkan atau ancaman: Chat berisi kata-kata kasar, ejekan, atau ancaman yang dikirim berulang kali.
  • Komentar jahat atau yang bersifat menghina: Komentar di unggahan, video, atau grup yang merendahkan, mempermalukan, atau menertawakan anak. 
  • Menyebarkan rumor atau gosip: Cerita yang belum tentu benar disebarkan untuk merusak reputasi atau membuat anak dijauhi teman.
  • Membagikan foto/video tanpa izin: Termasuk mengunggah momen memalukan, atau mengedit foto untuk bahan ejekan.
  • Mengucilkan dari kelompok online: Anak sengaja tidak dimasukkan ke grup, diabaikan saat diskusi, atau dikeluarkan tanpa alasan jelas.
  • Impersonation (menyamar sebagai orang lain): Menggunakan akun palsu atau mengambil alih akun anak untuk mengirim pesan buruk seolah-olah dari dirinya.
  • “Bercanda” yang berulang dan menyakitkan: Ejekan di grup atau game yang terus dilakukan dan membuat anak merasa malu atau tidak nyaman.

Untuk anak usia sekolah dasar, bentuk yang paling sering terjadi biasanya sederhana: diejek di grup, ditertawakan di chat, atau diabaikan dalam game online. Namun, Mom & Dad perlu ingat, kalau hal itu membuat anak merasa sedih, takut, atau malu berulang kali, itu bukan lagi bercanda, tapi sudah termasuk cyberbullying.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Cyberbullying

Mom & Dad, cyberbullying sering kali tidak langsung terlihat. Namun, perubahan kecil pada perilaku anak bisa menjadi tanda bahwa ia sedang mengalami sesuatu di dunia digital.

Beberapa tanda yang dapat Mom & Dad perhatikan:

  • Anak tampak cemas setelah menggunakan gadget;
  • Tiba-tiba tidak ingin menggunakan media sosial;
  • Menjadi lebih pendiam atau mudah marah;
  • Perubahan pola tidur;
  • Anak terlihat sedih setelah membaca pesan;
  • Menutup layar atau terlihat gelisah saat orang tua mendekat;
  • Menurunnya semangat sekolah atau aktivitas sehari-hari.

Jika Mom & Dad mulai melihat beberapa tanda di atas, penting untuk segera membuka ruang ngobrol yang aman agar anak merasa didengar dan tidak menghadapi masalah ini sendirian.

Cara Orang Tua Mendampingi Anak ketika Mengalami Cyberbullying

Saat anak mengalami cyberbullying, yang paling mereka butuhkan adalah rasa aman dan dukungan dari orang tua. Pendampingan yang tepat bisa membantu anak melewati situasi ini dengan lebih kuat.

Berikut langkah sederhana yang bisa Mom & Dad lakukan:

  • Dengarkan tanpa menghakimi: Biarkan anak bercerita dengan nyaman tanpa disela atau langsung dinilai.
  • Validasi perasaan anak: Tunjukkan bahwa perasaan mereka wajar dan dimengerti.
  • Jangan langsung menyalahkan: Hindari respons, seperti menyalahkan atau melarang berlebihan yang membuat anak enggan terbuka lagi.
  • Simpan bukti: Dokumentasikan pesan, akun, atau kejadian sebagai langkah antisipasi.
  • Komunikasi dengan pihak terkait: Jika melibatkan teman sekolah, segera koordinasi dengan guru atau sekolah.
  • Bangun kembali rasa percaya diri anak: Dampingi dengan penuh empati dan yakinkan bahwa mereka tidak sendirian.

Dengan respons yang tenang dan penuh empati, Mom & Dad tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tapi juga memperkuat kepercayaan anak untuk selalu terbuka di kemudian hari.

Cara Mencegah Anak Menjadi Pelaku Cyberbullying

Mencegah anak menjadi pelaku cyberbullying dimulai dari kebiasaan kecil di rumah. Anak perlu dibimbing untuk memahami apa yang mereka lakukan di dunia digital dan dampaknya bagi orang lain. 

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa Mom & Dad terapkan:

  • Ajarkan etika berkomunikasi di dunia digital: Biasakan anak menggunakan kata-kata yang sopan dan menghargai orang lain.
  • Ingatkan bahwa komentar online berdampak nyata: Apa yang ditulis bisa melukai perasaan orang lain, meskipun hanya lewat layar.
  • Latih empati sebelum mengirim pesan: Ajak anak berpikir, “Kalau aku di posisi itu, bagaimana rasanya?”
  • Biasakan berpikir sebelum mengunggah: Ajarkan anak untuk berhenti sejenak sebelum mengirim atau membagikan sesuatu.
  • Jadilah contoh yang baik: Tunjukkan penggunaan gadget dan media sosial yang positif dalam keseharian.

Dengan pembiasaan yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak, empatik, dan bertanggung jawab dalam menggunakan dunia digital.

Mengajarkan Anak Menjadi Upstander di Dunia Digital

Selain melindungi diri sendiri, anak juga perlu diajarkan untuk berani melakukan hal yang benar saat melihat orang lain dirundung. Menjadi upstander berarti tidak diam, tapi memilih untuk peduli dan bertindak dengan cara yang aman dan positif.

Berikut langkah yang bisa Mom & Dad ajarkan:

  • Tidak ikut menyebarkan komentar negatif: Ajarkan anak untuk tidak menyukai, membalas, atau membagikan konten yang menyakitkan.
  • Mendukung teman yang menjadi korban: Dorong anak mengirim pesan sederhana, seperti “Aku ada di pihak kamu.” agar korban merasa tidak sendirian. 
  • Berani berkata tidak (dengan aman): Latih anak menggunakan kalimat tegas, namun tidak memicu konflik, seperti “Jangan gitu, itu gak baik.”
  • Melaporkan perilaku yang merundung: Biasakan anak untuk segera memberi tahu orang dewasa yang dipercaya.
  • Memberikan komentar positif: Ajak anak menyebarkan kata-kata baik untuk menyeimbangkan suasana di ruang digital.
  • Tidak menjadi penonton diam: Tanamkan bahwa diam saja bisa membuat perundungan terus terjadi.
  • Gunakan aturan sederhana “3S: Stop, Save, Share”: Stop (jangan dibalas atau disebarkan), Save (simpan bukti/screenshot), Share (laporkan ke orang dewasa). Konsep ini mudah diingat anak dan praktis dilakukan.
  • Biasakan “pause sebelum respons”: Ajarkan anak untuk berhenti sejenak dan tidak langsung bereaksi saat melihat hal yang menyakitkan.
  • Pilih lingkungan digital yang sehat: Bantu anak memahami bahwa mereka boleh keluar dari grup atau menjauhi akun yang membuat tidak nyaman.

Dengan membiasakan langkah-langkah ini, anak tidak hanya belajar berani dan peduli, tapi juga tahu bagaimana bertindak dengan aman dan bijak di dunia digital.

Tips Mendampingi Anak Menggunakan Internet

  1. Bangun komunikasi terbuka tentang aktivitas anak di dunia digital;
  2. Buat aturan penggunaan gadget yang jelas dan konsisten;
  3. Kenali aplikasi dan platform yang digunakan anak;
  4. Dampingi anak saat menggunakan internet, terutama di usia dini;
  5. Ajarkan anak menjaga privasi (tidak mudah berbagi data pribadi);
  6. Batasi waktu penggunaan gadget sesuai usia;
  7. Jadilah contoh dalam penggunaan gadget yang sehat dan bijak.

Di dunia digital, setiap anak punya pilihan: menjadi penonton, pelaku, atau upstander. Mengajarkan anak untuk menjadi upstander berarti membekali mereka dengan nilai-nilai empati, keberanian, dan tanggung jawab. Anak belajar bahwa diam terhadap perundungan bisa memperpanjang masalah, sementara tindakan kecil, seperti memberi dukungan atau tidak ikut menyebarkan konten negatif, bisa membuat perbedaan besar.

Peran Mom & Dad sangat penting dalam menanamkan kebiasaan ini sejak dini, melalui contoh, komunikasi, dan pendampingan sehari-hari. Dengan begitu, anak tidak hanya merasa aman, tapi juga mampu berkontribusi menciptakan ruang digital yang lebih positif bagi semua.

Sumber:

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). About bullying. Diakses pada 16 April 2026. https://www.cdc.gov/youth-violence/about/about-bullying.html

Child Mind Institute. (n.d.). Help Kids Deal with Cyberbullying. Diakses pada 16 April 2026. https://childmind.org/article/help-kids-deal-cyberbullying/

Direktorat Jenderal Kebijakan Publik dan Media Komunikasi Digital (DJKPM) Komdigi. (n.d.). Tunaspedia Buku 1. Diakses pada 16 April 2026. https://djkpm.komdigi.go.id/assets/files/tunaspedia-buku-1.pdf

eSafety Commissioner. (n.d.). Be an Upstander. Diakses pada 16 April 2026. https://www.esafety.gov.au/young-people/be-an-upstander

Kumar, V. L., & Goldstein, M. A. (2020). Cyberbullying and Adolescents. Current pediatrics reports, 8(3), 86–92. https://doi.org/10.1007/s40124-020-00217-6 

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Diakses pada 16 April 2026. https://peraturan.bpk.go.id/Details/316698/pp-no-17-tahun-2025

STOMP Out Bullying. (n.d.). Bystanders Become Upstanders. Diakses pada 16 April 2026. https://www.stompoutbullying.org/bullying-bystanders-become-upstanders

StopBullying.gov. (n.d.). Establishing rules. Diakses pada 16 April 2026. https://www.stopbullying.gov/cyberbullying/establishing-rules 

UNICEF. (n.d.). How to stop cyberbullying. Diakses pada 16 April 2026. https://www.unicef.org/stories/how-to-stop-cyberbullying

Virtual College. (2025). Signs of Cyberbullying. Diakses pada 16 April 2026, dari https://www.virtual-college.co.uk/resources/signs-of-cyber-bullying

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop