Fenomena Fatherless di Indonesia: Memahami Dampak dan Peran Penting Ayah di Usia Balita

Reading Time: 7 minutes

Mom & Dad, istilah “fatherless” mungkin sudah tak asing lagi bagi kita belakangan ini. Fenomena fatherless menjadi salah satu perhatian serius di Indonesia. 

Dikutip dari Narasi TV, Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia dalam kasus fatherless. Angka ini menunjukkan bahwa ada banyak anak Indonesia yang tumbuh tanpa peran dan kehadiran seorang ayah dalam keseharian mereka.

Mom & Dad harus tahu bahwa sosok ayah memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Mari kita pahami bersama lebih dalam mengapa fenomena fatherless ini perlu menjadi perhatian serius bagi kita semua!

Apa Itu Fatherless?

Fatherless dapat diartikan sebagai kondisi dimana anak tidak memiliki figur ayah yang hadir atau terlibat secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari baik secara fisik maupun emosional. Menurut State of the World’s Fathers 2023, tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di banyak negara, termasuk Indonesia, masih rendah dibanding ibu, terutama dalam aktivitas seperti berbicara, bermain, dan merawat anak sehari-hari.

Temuan ini sejalan dengan Indonesia Family Life Survey (IFLS 2021) yang menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas pengasuhan harian masih didominasi oleh ibu, bukan ayah. 

Ciri-ciri fatherless yang kerap terjadi, seperti:

  • Secara Fisik: Ayah tidak tinggal di rumah, sering absen dalam rutinitas keluarga, jam kerja sangat panjang (tidak ada cuti ayah), perceraian, kematian, dan kondisi lainnya yang membuat ayah tidak hadir secara fisik dalam mengasuh anak.
  • Secara Emosional/Relasional: Ayah mungkin hadir di rumah, tapi tidak terlibat dalam mengasuh anak seperti: jarang mengajak bermain, berbicara, mendengarkan, tidak menunjukkan kehangatan, dan rutinitas lain yang membangun bonding dengan anak.

Meskipun fenomena fatherless tidak selalu terlihat secara kasat mata, tapi dampaknya sangat besar dalam perilaku dan perkembangan anak. Mom & Dad harus peka terhadap masalah ini.

Mengapa Fenomena Fatherless Semakin Banyak Terjadi di Indonesia?

Fenomena fatherless di Indonesia tidak tumbuh sendirinya, meningkatnya fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti:

  • Budaya yang Menganggap Ayah Hanya Sebagai “Pencari Nafkah”
    Di Indonesia, ayah masih sering dianggap sebagai pencari nafkah utama, sementara tugas pengasuhan dianggap sepenuhnya tanggung jawab ibu. Pandangan ini membuat banyak ayah merasa cukup dengan bekerja keras untuk keluarga, tanpa menyadari bahwa kehadiran emosional juga sama pentingnya bagi anak dan keluarga. 
  • Jam Kerja Panjang dan Jarak Tempuh
    Data dari Badan Pusat Statistika (BPS) menunjukkan banyak pekerja di kota besar baru tiba di rumah setelah pukul 20.00. Waktu yang tersisa untuk berinteraksi dengan anak menjadi sangat minim, ditambah jarangnya perusahaan memberikan cuti khusus bagi seorang ayah. Kelelahan fisik dan mental akibat rutinitas kerja juga membuat seorang ayah kehilangan energi untuk terlibat dalam momen bersama anak.
  • Distraksi Digital dan Kelelahan Emosional
    Gadget, media sosial, dan hiburan digital kini menjadi pelarian orang dewasa setelah hari yang melelahkan, termasuk untuk seorang ayah. Tanpa disadari, hal ini dapat mengurangi waktu berkualitas bersama keluarga. Anak yang mendapati ayah yang lebih sering menatap layar dibanding wajahnya perlahan belajar bahwa perhatian ayah kepadanya bukanlah prioritas.
  • Minimnya Edukasi Parenting untuk Ayah
    Sebagian besar program parenting di Indonesia berfokus pada peran ibu, padahal ayah juga ingin terlibat lebih aktif. Hal ini menjadikan para ayah tidak tahu harus mulai dari mana. Penelitian menunjukkan bahwa ayah cenderung pertama kali mencari informasi terkait kesehatan ibu hamil, bukan tentang aspek pengasuhan ataupun bonding dengan anak.

Mengapa Peran Ayah Sangat Penting di Usia Balita?

Peran ayah tidak hanya memberi nafkah, tapi juga terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Mom & Dad harus ingat bahwa mengasuh anak itu bukanlah tugas satu pihak saja, tapi ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama sebagai orang tua.

Peran ayah penting bagi tumbuh kembang anak, terutama saat balita di mana pada periode ini, anak berkembang dengan pesat dan itu butuh dukungan dari ayah. Pada tahap ini, peran ayah sangat berpengaruh langsung terhadap berbagai aspek perkembangan anak, seperti:

  • Aspek Emosional
    Ayah yang responsif membantu anak mengenal dan mengelola emosinya. Misalnya saat anak kecewa karena ia kalah dalam permainan, cara ayah menenangkan dan membimbing juga mendukung anak membentuk kemampuan regulasi emosi yang baik sejak dini. Penelitian juga menunjukkan anak yang tumbuh dengan ayah yang responsif dan suportif akan memiliki percaya diri yang lebih baik, stabil secara emosional, dan tidak mudah cemas. 
  • Aspek Sosial
    Ayah seringkali menjadi figur yang mendorong anak untuk berani mencoba dan bereksplorasi. Melalui permainan fisik, petualangan kecil, atau sekedar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar—anak dapat belajar tentang kepercayaan, kerjasama, serta cara berinteraksi dengan orang lain. Anak yang memiliki hubungan positif dengan ayah cenderung lebih mudah bersosialisasi dan membangun pertemanan yang sehat.
  • Aspek Kognitif dan Bahasa
    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan ayah yang terlibat aktif dalam keseharian anak akan memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik, prestasi akademik yang bagus, dan daya pikir yang lebih kritis. Saat ayah berbicara, bercerita atau bermain yang melibatkan kemampuan pemecahan masalah bersama anak, akan melatih cara anak berpikir logis, kreatif, dan kemampuan problem solving anak.
  • Identitas dan Karakter Anak
    Bagi anak, ayah adalah model peran pertama yang mengajari mereka tentang bagaimana menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat. Dari caya ayah berbicara, berperilaku, hingga memperlakukan orang lain, anak belajar tentang nilai, tanggung jawab, harga diri dan juga batasan diri. Kehadiran ayah memberi arah bagi pembentukan karakter anak di masa depan.

Dampak Fatherless pada Anak Usia Dini

Fenomena fatherless memberikan dampak bagi anak, baik dampak jangka pendek hingga dampak jangka panjang bagi kehidupan anak:

  Aspek yang Terpengaruh Dampak
Jangka Pendek (Balita) Perilaku & Emosi Anak lebih mudah marah, agresif, dan tantrum. Kehadiran ayah membantu anak belajar mengelola emosi dan perilaku.
Regulasi Emosi Anak kesulitan menenangkan diri dan memahami perasaan. Ayah berperan penting dalam membantu anak mengenali dan mengelola emosi. Ketidakhadiran emosional ayah dapat membuat anak lebih reaktif dan kurang mampu menenangkan diri.
Sosialisasi & Eksplorasi Anak cenderung pasif dan kurang percaya diri berinteraksi. Tanpa figur ayah yang aktif mengajak bermain dan bereksplorasi, anak kehilangan kesempatan belajar menghadapi tantangan sosial dan lingkungan dengan aman.
Jangka Panjang Kesehatan Mental Risiko depresi lebih tinggi. Penelitian menunjukkan anak tanpa kehadiran ayah di usia dini akan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gejala depresi di usia 24 tahun dibandingkan dengan anak yang tumbuh dengan ayah yang hadir secara fisik dan emosional.
Pendidikan & Sosial-Ekonomi Potensi putus sekolah dan masalah perilaku meningkat. Studi “Dads Matter” (Mississippi Auditor) menunjukkan bahwa keterkaitan fatherlessness berhubungan dengan meningkatnya angka putus sekolah, kejahatan remaja, kehamilan usia dini, serta beban ekonomi sosial.
Hubungan Sosial & Emosional Dewasa Sulit membangun hubungan stabil dan sehat. Anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang terlibat, sering kali mengalami kesulitan mempercayai orang lain, menunjukkan empati, dan menjaga hubungan emosional yang stabil di masa dewasa.

Bagaimana Orang Tua Bisa Mencegah Fatherless ?

Mencegah fatherless berarti membangun keterlibatan ayah secara aktif, konsisten, dan hangat, serta memastikan Mom & Dad bekerja sama dalam pengasuhan anak.

Berikut beberapa tips yang dapat Mom & Dad lakukan:

Tips untuk Ayah Tips untuk Ibu
  • Sediakan waktu harian untuk quality time. Tidak perlu lama, 10–15 menit konsisten setiap hari sudah berarti besar. Gunakan waktu ini untuk benar-benar hadir: bermain, bercakap, atau sekadar mendengarkan cerita anak.
  • Libatkan diri dalam rutinitas anak. Jadilah bagian dari keseharian anak: memandikan, menyuapi, membacakan buku, atau menemani tidur.
  • Dengarkan anak dengan empati. Saat anak berbicara, dengarkan tanpa menginterupsi. Tunjukkan bahwa perasaannya penting dan valid. Anak belajar berempati dari cara ayah mendengarkannya.
  • Jadilah teladan nilai-nilai positif. Tunjukkan sikap menghargai, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Anak belajar lebih banyak dari contoh nyata dibanding nasihat.
  • Gunakan teknologi secara positif. Jika bekerja jauh, manfaatkan video call untuk menjaga koneksi. Namun, saat berada di rumah, prioritaskan interaksi tatap muka tanpa gangguan gadget.
  • Tingkatkan wawasan pengasuhan. Ikuti pelatihan, baca buku, atau berdiskusi dengan guru dan orang tua lain. Edukasi parenting membantu ayah memahami kebutuhan anak di setiap tahap tumbuh kembangnya.
  • Dukung peran ayah dalam pengasuhan. Beri kesempatan bagi ayah untuk terlibat tanpa mengkritik atau membandingkan.
  • Komunikasikan visi pengasuhan bersama. Diskusikan pembagian peran, nilai yang ingin ditanamkan, dan cara menjaga konsistensi pola asuh antara ayah dan ibu.
  • Apresiasi setiap usaha ayah. Hargai keterlibatan ayah, sekecil apa pun. Apresiasi meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi untuk terus berperan aktif.
  • Kurangi beban “ibu serba bisa”. Jangan merasa harus mengurus segalanya sendiri. Libatkan ayah dalam keputusan, rutinitas, dan aktivitas anak secara setara.
  • Bangun kerjasama sebagai tim. Jadilah partner pengasuhan yang baik: saling berbagi cerita tentang anak, memantau perkembangan bersama, dan mencari dukungan profesional jika diperlukan.

Mom & Dad, perjalanan menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup. Tidak ada orang tua yang sempurna, yang terpenting adalah kesediaan untuk hadir dan terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik. 

Setiap pelukan, tatapan, dukungan dari sosok seorang ayah akan menjadi dasar yang kokoh bagi masa depan anak. 

Mari menjadi ayah yang aktif dan hadir dalam setiap proses tumbuh kembang anak!

Sumber:

Antara News. (2024). Indonesia tackles 21% fatherless rate with new parenting initiative. Diakses pada tanggal 97 November 2025. https://en.antaranews.com/news/365353/indonesia-tackles-21-fatherless-rate-with-new-parenting-initiative

Cabrera, N. J., Fitzgerald, H. E., Bradley, R. H., & Roggman, L. (2014). The ecology of father-child relationships: An expanded model. Journal of Family Theory & Review, 6(4), 336-354. https://doi.org/10.1111/jftr.12054

Equimundo & MenCare. (2023). State of the World’s Fathers 2023: Centering care in a world in crisis. Diakses pada tanggal 07 November 2025. https://www.mencare.org/wp-content/uploads/2023/07/State-of-the-Worlds-Fathers-2023.pdf

Jeong, J., Bartoli, B., & McCann, J. K. (2024). Development and validation of a measure for father involvement during early childhood in a resource-limited context. BMC Public Health, 24, Article 2970. https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12889-024-20344-9

Narasi TV. (2023). Indonesia Peringkat 3 Fatherless Country di Dunia, Mempertanyakan Keberadaan ‘Ayah’ dalam Kehidupan Anak. Diakses pada tanggal 07 November 2025. https://narasi.tv/read/narasi-daily/indonesia-peringkat-3-fatherless-country-di-dunia-mempertanyakan-keberadaan-ayah-dalam-kehidupan-anak

Mississippi Economic Inclusion Coalition (2022). Coalition: Auditor’s ‘Fatherlessness’ Report ‘Irresponsible,’ Blames Individuals Over Systems. Diakses pada tanggal 07 November 2025. https://www.mississippifreepress.org/coalition-auditors-fatherlessness-report-irresponsible-blames-individuals-over-systems/#:~:text=State%20Auditor%20Shad%20White%20recently,%2C%20639%20and%20636%E2%80%94respectively

Puglisi, N., Rattaz, V., Favez, N., & Tissot, H. (2024). Father involvement and emotion regulation during early childhood: A systematic review. BMC Psychology, 12, Article 675. https://doi.org/10.1186/s40359-024-02182-x

RAND Corporation. (2021). Indonesia Family Life Survey (IFLS) Wave 5. in crisis. Diakses pada tanggal 07 November 2025. https://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/working_papers/WR1100/WR1143z1/RAND_WR1143z1.pdf

Van der Gaag, N., Heilman, B., Gupta, T., Nembhard, C., & Barker, G. (2019). State of the World’s Fathers: Unlocking the power of men’s care. Diakses pada tanggal 07 November 2025. https://www.mencare.org/wp-content/uploads/2019/06/SOWF_ES_004_WEB.pdf

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop