Cara Mengontrol Pola Makan Anak saat Lebaran agar Tetap Sehat

Reading Time: 8 minutes

Lebaran memang identik dengan melimpahnya berbagai hidangan lezat, seperti kue kering, minuman manis, serta makanan bersantan. Bagi anak, situasi ini menghadirkan lingkungan yang penuh dengan stimulasi makanan yang menarik perhatian mereka. Tidak jarang, Mom & Dad berada dalam dilema, jika anak terlalu dibatasi, mereka khawatir anak akan marah atau tantrum. Tapi jika dibiarkan, ada kekhawatiran anak akan makan berlebihan tanpa kontrol.

Artikel ini akan mengajak Mom & Dad memahami cara bijak mendampingi anak makan di momen Hari Raya sehingga anak tetap dapat menikmati suasana Lebaran dengan sehat. Yuk kita bahas bersama!

Mengapa Anak Sulit Mengontrol Makan?

Mom & Dad mungkin pernah bertanya mengapa anak susah berhenti makan saat bertemu banyak makanan enak, padahal kita sudah mengingatkan berkali-kali agar tidak kebablasan. Sebenarnya, hal ini cukup wajar terjadi pada anak.

Pada usia balita, kemampuan anak untuk mengontrol diri masih dalam tahap berkembang. Mereka belum sepenuhnya mampu menahan keinginan atau menunda sesuatu yang mereka suka. Jika melihat makanan menarik dan rasanya enak, anak cenderung ingin makan dan memakannya lagi. Bukan karena anak tidak mau menurut ya Mom & Dad. Tapi, karena kemampuan mereka mengendalikan dorongan tersebut memang belum matang.

Selain itu, anak juga belum sepenuhnya mampu membedakan antara “masih ingin makan” dan “sudah cukup kenyang”. Bagi mereka, selama makanan terasa enak dan masih tersedia, mereka akan cenderung terus ingin mencicipinya. Jadi, yang mendorong mereka makan sering kali bukan rasa lapar, tapi rasa penasaran atau sekadar karena makanan tersebut terasa lezat.

Kue kering, minuman manis, atau makanan gurih juga memiliki rasa yang sangat kuat dan menyenangkan di lidah. Rasa manis dan gurih ini membuat otak anak merasa senang sehingga mereka ingin mengulang pengalaman tersebut. Akibatnya, anak sering merasa ingin makan lagi, meskipun sebenarnya perutnya sudah cukup.

Karena itu, Mom & Dad tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak “rakus” atau “tidak bisa diatur”. Dalam banyak kasus, anak memang masih belajar mengenali rasa lapar dan kenyang pada tubuhnya. Di sinilah peran Mom & Dad menjadi penting bukan untuk melarang secara keras, tapi mendampingi anak agar perlahan belajar mengontrol dirinya saat makan.

Risiko jika Anak Tidak Didampingi Makan saat Lebaran

Mom & Dad, jika anak tidak didampingi saat makan akan menimbulkan beberapa risiko baik kepada fisik maupun perilaku anak. Adapun risiko yang mungkin terjadi:

  • Gangguan Fisik
    Ketika anak makan terlalu banyak, terutama makanan manis, bersantan, atau berlemak, tubuhnya bisa merasa “kaget”. Perut anak bisa menjadi kembung, terasa mual, bahkan mengalami diare atau sembelit.

    Selain itu, konsumsi gula yang tinggi dalam waktu singkat juga bisa membuat energi anak naik dengan cepat lalu turun drastis. Akibatnya, anak bisa terlihat sangat aktif sebentar, lalu tiba-tiba menjadi lemas, mengantuk, atau mudah rewel.
  • Terbentuknya Pola Makan yang Tidak Sehat
    Mom & Dad, masa kanak-kanak adalah waktu ketika anak belajar mengenal hubungan mereka dengan makanan. Jika anak terbiasa mengambil makanan kapan saja tanpa pendampingan, ia bisa mulai makan bukan karena lapar, tapi karena alasan lain.

    Misalnya, makan karena bosan saat tidak ada kegiatan, makan karena sedang senang melihat banyak makanan, atau sekadar ikut-ikutan orang di sekitarnya. Jika kebiasaan ini terus terjadi, anak bisa kesulitan mengenali sinyal alami tubuhnya apakah ia benar-benar lapar atau sebenarnya sudah kenyang.


    Selain itu, jika kebiasaan makan manis berlebihan sering terjadi, anak bisa terbiasa dengan makanan yang tinggi gula. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini tidak baik bagi kesehatan dan bisa memengaruhi pola makan anak ketika ia tumbuh lebih besar. Para tenaga kesehatan anak juga sering mengingatkan agar Mom & Dad tetap memerhatikan konsumsi gula pada anak.
  • Drama Emosi dan Tantrum
    Ketika anak sudah terbiasa bebas mengambil makanan, larangan yang tiba-tiba bisa memicu konflik. Anak bisa merasa bahwa sesuatu yang ia inginkan “diambil” dari dirinya. Akibatnya, tidak jarang muncul drama emosi seperti menangis, marah, atau tantrum ketika orang tua mencoba membatasi makanan. Jika situasi ini sering terjadi selama momen Lebaran, konflik seputar makanan bisa terus terbawa bahkan setelah Hari Raya selesai.

Itulah mengapa kehadiran Mom & Dad sangat penting saat anak makan, terutama di momen seperti Lebaran. Bukan untuk melarang terus-menerus, tapi untuk membantu anak belajar mengenali kapan ia sudah cukup, dan bagaimana menikmati makanan dengan seimbang. Dengan pendampingan yang hangat, anak bisa tetap menikmati suasana Hari Raya tanpa harus mengalami masalah kesehatan atau kebiasaan makan yang kurang baik.

Mempersiapkan Anak sebelum Hari Raya untuk Belajar Menikmati Makanan tanpa Berlebihan

Pendampingan orang tua dalam mengatur kebiasaan makan anak sebenarnya dimulai sebelum Lebaran tiba. Ini akan membantu anak belajar mengendalikan diri saat melihat makanan yang melimpah dan menikmati makanan secukupnya. Beberapa langkah yang dapat Mom & Dad lakukan untuk mempersiapkan anak sebelum Hari Raya tiba!

  • Mengajarkan Anak Mengenal Konsep “Cukup”
    Mom & Dad dapat mulai mengajarkan anak bahwa makan bukan tentang menghabiskan semua makanan, tapi tentang makan secukupnya sampai kenyang. Misalnya, dengan mengatakan: “Kalau perut sudah kenyang, kita boleh berhenti makan ”. Pesan sederhana seperti ini membantu anak belajar memahami sinyal tubuhnya.

    Selain itu, penting juga mengajarkan anak untuk mengambil makanan secukupnya sejak awal. Mom & Dad dapat menjelaskan bahwa saat mengambil makanan termasuk kue atau camilan Lebaran sebaiknya tidak terlalu banyak agar tidak tersisa. Misalnya, dengan mengatakan “ Ambil sedikit dulu ya. Kalau masih mau, nanti boleh tambah lagi ”.

    Pendekatan ini tidak hanya membantu anak belajar mengontrol porsi makan, tapi juga mengajarkan nilai penting, yaitu menghargai makanan dan menghindari pemborosan. Anak belajar bahwa makanan adalah sesuatu yang perlu disyukuri sehingga sebaiknya diambil sesuai kebutuhan dan tidak terbuang sia-sia.
  • Menjaga Pola Makan Anak Tetap Teratur
    Menjelang Lebaran, suasana rumah sering kali menjadi lebih sibuk dengan berbagai persiapan. Penting bagi Mom & Dad untuk tetap menjaga pola makan anak agar tidak berubah drastis. Usahakan anak tetap memiliki jadwal makan yang teratur, seperti:
    • Sarapan;
    • Makan siang;
    • Makan malam;
    • Camilan sehat di sela waktu makan.

    Dengan pola makan yang stabil, anak tidak akan datang ke acara Lebaran dalam kondisi terlalu lapar, yang bisa membuat mereka makan berlebihan.

  • Mengajak Anak Membuat Kesepakatan sebelum Berkunjung
    Cara lain yang dapat membantu anak lebih siap menghadapi suasana Lebaran adalah dengan membuat kesepakatan sederhana bersama mereka sebelum berkunjung ke rumah keluarga. Alih-alih memberikan larangan mendadak ketika anak sudah melihat banyak makanan, Mom & Dad dapat mengajak anak berbicara lebih dulu. Pendekatan ini membuat anak merasa dilibatkan, bukan dikontrol sepenuhnya.

     

    Misalnya, Mom & Dad bisa mengatakan “ Nanti di rumah nenek pasti ada banyak kue. Kita boleh mencicipi, tapi secukupnya ya. Setelah itu kita bisa main dengan sepupu atau ngobrol bersama ” Kesepakatan kecil seperti ini membantu anak memiliki gambaran tentang apa yang boleh dilakukan. Ketika aturan dibuat bersama, anak biasanya lebih mudah menerima dan mengikuti karena mereka merasa dipercaya dan dihargai.

Dengan persiapan yang sederhana namun konsisten, Mom & Dad dapat membantu anak menikmati Hari Raya dengan lebih siap. Anak tetap bisa menikmati berbagai makanan khas Lebaran, tapi juga belajar mengenali batas tubuhnya. Pendekatan ini bukan hanya membantu anak selama momen Lebaran, tapi juga menjadi langkah penting dalam membangun kebiasaan makan yang sehat hingga mereka dewasa nanti.

Tips Mendampingi Anak Makan saat Hari Raya

  1. Sediakan Pilihan, Bukan Larangan Keras
    Daripada langsung mengatakan, “ Jangan makan itu! ”, orang tua bisa menawarkan pilihan kecil kepada anak. Misalnya dengan bertanya, “ Adik mau nastar satu atau dua? Atau mau satu nastar dan sepotong buah? ”. Memberi pilihan membuat anak merasa dihargai dan memiliki kendali. Biasanya anak juga menjadi lebih kooperatif dibandingkan jika langsung dilarang.
  2. Mulai dengan Porsi Kecil
    Memberikan porsi kecil dapat membantu anak belajar mengenali rasa kenyang. Misalnya, ambil dua atau tiga kue terlebih dahulu, jika masih lapar, anak boleh menambah. Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa makan bisa dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus banyak.
  3. Beri Jeda sebelum Menambah Porsi
    Setelah anak selesai dengan satu porsi, tidak perlu langsung menambah makanan lagi. Beri jeda sekitar 15 – 30 menit. Selama jeda ini, anak bisa melakukan aktivitas lain, seperti bermain dengan sepupu, bersalaman dengan keluarga, berjalan sebentar di halaman. Jeda membantu tubuh memproses sinyal kenyang sehingga anak lebih mudah berhenti jika sudah cukup.
  4. Membaca Sinyal Kenyang Anak
    Mom & Dad juga bisa memperhatikan tanda-tanda ketika anak mulai kenyang, seperti:
    • Makan menjadi lebih lambat;
    • Mulai memainkan makanan;
    • Mengeluh perut terasa penuh;
    • Kehilangan minat untuk makan.
    Ketika tanda-tanda ini muncul, Mom & Dad dapat dengan lembut berkata, “Sepertinya perutmu sudah cukup ya .”
  5. Hindari Menjadikan Makanan sebagai Hadiah
    Kadang tanpa sadar Mom & Dad mengatakan, “Kalau kamu duduk manis, nanti boleh makan kue ” . Kebiasaan ini membuat makanan manis terasa seperti hadiah yang sangat istimewa. Akibatnya, anak bisa semakin ingin mendapatkannya. Lebih baik menjadikan makanan sebagai bagian dari kebersamaan, bukan sebagai upah atau hadiah.

Contoh kalimat yang dapat Mom & Dad gunakan:

  • “Mama/Papa pilihkan 2 potong kue dulu. Kalau masih mau, bilang ya.”
  • “Kita coba makan pelan ya biar perut nggak kaget. Taruh garpu dulu, makan 3 gigitan, baru lanjut.”
  • “Kamu boleh pilih, mau nastar atau sepotong buah. Mana yang kamu mau sekarang?”
  • Saat menolak: “Aku tahu kamu ingin lagi, tapi perutmu sudah bilang cukup. Nanti setelah main kita lihat lagi ya.”

Cara Menghadapi Tantrum saat Membatasi Makan

Mom & Dad, saat anak dibatasi makan kue atau makanan lainnya saat Lebaran, tantrum mungkin bisa terjadi. Ini adalah hal yang wajar karena anak sedang belajar mengelola keinginan dan emosinya. Berikut beberapa tips yang dapat Mom & Dad lakukan ketika mengalami hal ini:

  • Tetap tenang dan empatik. Katakan: “Mama/Papa lihat kamu sedih karena belum dapat lebih banyak kue. Wajar sedih”. kalimat ini dapat membantu anak memahami kalau emosinya adalah wajar dan valid. 
  • Tegas pada batas, lembut pada perasaan. “Kita hanya ambil dua, ya. Kalau sudah habis, nanti kita main sama kakek dan nenek dulu sebentar ya”.
  • Alihkan fokus dengan aktivitas yang menarik. Cobalah mengajak anak melakukan aktivitas yang membuatnya merasa terlibat, misalnya menyapa tamu yang datang, bermain teka-teki atau permainan kecil dengan sepupu, maupun membantu menyusun piring kue di meja.
  • Tetap berada dekat dengan anak saat ia sedang kesal. Duduklah bersama anak, bantu ia menarik napas perlahan, dan tunggu sampai emosinya mulai mereda. Setelah itu, jelaskan kembali dengan tenang tentang batasan yang ada. Pendekatan ini membantu anak belajar menenangkan diri dengan dukungan orang tua.

Jika tantrum berkepanjangan dan berulang setiap acara makan, catat frekuensi dan konsultasikan ke dokter anak atau konselor jika perlu.

Dengan pendampingan yang hangat dan penuh kesabaran, Mom & Dad dapat membantu anak menikmati makanan dengan lebih seimbang tanpa harus merasa dibatasi secara berlebihan. Perlahan-lahan, anak juga belajar mengenali rasa lapar dan kenyang pada tubuhnya, serta memahami bahwa menikmati makanan tidak harus selalu dalam jumlah banyak.

Melalui langkah-langkah sederhana dan konsisten, Mom & Dad tidak hanya membantu anak tetap sehat selama Lebaran, tapi juga menanamkan kebiasaan makan yang baik untuk masa depannya. Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak dari Hari Raya bukan hanya makanannya, tapi juga kebersamaan dan perhatian dari orang tua.

Sumber:

Antara News. (2025). IDAI ingatkan orang tua tak beri anak makanan tinggi gula saat mudik. Diakses pada 10 Maret 2026. https://www.antaranews.com/berita/4732173/idai-ingatkan-orang-tua-tak-beri-anak-makanan-tinggi-gula-saat-mudik

CDC (Centers for Disease Control and Prevention). (n.d.). Signs your child is hungry or full. Diakses pada 10 Maret 2026. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/mealtime/signs-your-child-is-hungry-or-full.html

Eisenberg, N., Spinrad, T. L., & Eggum, N. D. (2010). Emotion-related self-regulation and its relation to children’s maladjustment. Annual Review of Clinical Psychology, 6, 495–525. https://doi.org/10.1146/annurev.clinpsy.121208.131208

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Tips sehat mengonsumsi hidangan Lebaran. Diakses 10 Maret 2026. https://ayosehat.kemkes.go.id/tips-sehat-mengonsumsi-hidangan-lebaran

NHS Fife. (n.d.). Portion sizes for children age 1–3. Diakses pada 10 Maret 2026. https://www.nhsfife.org/media/xmcrsmky/portion-sizes-for-children-age-1-3.pdf

Parapuan. (n.d.). Cara menjaga anak agar tidak makan berlebihan saat libur Lebaran. Diakses pada 10 Maret 2026. https://www.parapuan.co/read/534231726/cara-menjaga-anak-agar-tidak-makan-berlebihan-saat-libur-lebaran

Tentang Anak. (n.d.). Tips jitu agar si kecil tidak GTM. Diakses pada 10 Maret 2026. https://tentanganak.com/artikel/tips-jitu-agar-si-kecil-tidak-gtm/

Witek, K., Wydra, K., & Filip, M. (2022). A high-sugar diet consumption, metabolism and health impacts with a focus on the development of substance use disorder: A narrative review. Nutrients, 14(14), 2940. https://doi.org/10.3390/nu14142940

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop