Bullying pada Anak: Cara Mengenali, Menangani, dan Mengajarkan Anak Menjadi Upstander

Reading Time: 7 minutes

Mom & Dad, bagi anak, sekolah dan lingkungan bermain seharusnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan. Namun, pada kenyataannya, masih banyak anak yang mengalami perundungan atau bullying, baik secara fisik maupun verbal. Tindakan ini sering terjadi tanpa disadari orang dewasa. 

Perundungan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tapi juga dapat memengaruhi kesehatan emosional, rasa percaya diri, dan hubungan sosial anak.

Karena itu, penting bagi Mom & Dad untuk memahami tanda-tanda bullying, cara merespons dengan tepat, serta mengajarkan anak agar tidak menjadi pelaku dan berani menjadi upstander—anak yang membantu dan membela teman yang mengalami perundungan dengan cara yang aman dan penuh empati.

Apa Itu Bullying?

Bullying adalah perilaku sengaja untuk menyakiti atau merendahkan orang lain secara fisik maupun psikologis, berulang kali. Misalnya, seorang anak terus-menerus diganggu, diancam, atau dilecehkan oleh teman sebayanya. Sering kali pelaku merasa berkuasa dan melakukan intimidasi terhadap yang lemah. Dampak bullying bisa sangat serius. Korban dapat mengalami cedera fisik, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Bentuk Bullying Fisik dan Verbal

Bullying fisik dan verbal adalah bentuk yang paling mudah dikenali oleh anak maupun orang tua. 

Bullying fisik meliputi tindakan, seperti:

  • Memukul;
  • Menendang;
  • Mendorong;
  • Menarik atau menjambak;
  • Merusak atau mengambil barang milik orang lain;
  • Tindakan lain yang menyebabkan luka fisik.

Sementara itu, bullying verbal meliputi:

  • Mengejek atau menghina;
  • Memanggil dengan julukan yang menyakitkan;
  • Mengancam;
  • Mempermalukan anak di depan orang lain;
  • Candaan yang menyakiti perasaan.

Walaupun sering dianggap hanya bercanda, bullying verbal dapat berdampak besar terhadap kondisi emosional anak. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa luka emosional akibat bullying verbal dapat bertahan lebih lama dibandingkan luka fisik.

Tanda Anak Mengalami Bullying

Mom & Dad perlu peka terhadap perubahan pada anak. Beberapa tanda umum anak menjadi korban bullying adalah:

  • Enggan ke Sekolah: Anak tiba-tiba tidak mau berangkat sekolah atau sering mengeluh sakit tanpa alasan jelas.
  • Perubahan Emosi: Anak menjadi pendiam, murung, mudah marah, atau cemas berlebihan.
  • Luka Fisik Tak Biasa: Muncul memar, goresan, atau luka yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya.
  • Barang Hilang/Rusak: Barang pribadi, pakaian, atau gadget sering hilang atau rusak tanpa alasan.
  • Perubahan Sosial: Mendadak kehilangan teman, sering memilih menyendiri, atau ketakutan berada di keramaian.
  • Gangguan Tidur/Makan: Anak menjadi sulit tidur, sering mimpi buruk, atau pola makan berubah.

Jika Mom & Dad melihat tanda-tanda di atas, cobalah ajak bicara anak secara lembut. Kadang anak enggan bercerita, jadi diperlukan perhatian lebih dari orang tua untuk mengenali masalah ini.

Cara Orang Tua Merespons Bullying

Tidak semua anak langsung berani menceritakan pengalaman bullying yang dialami atau dilihatnya. Namun, ketika anak akhirnya terbuka, itulah momen penting bagi Mom & Dad untuk hadir sebagai pendengar yang aman bagi anak. 

Beberapa langkah yang dapat Mom & Dad lakukan untuk merespons anak:

  1. Dengarkan dengan Empati
    Saat anak bercerita, dengarkan dengan penuh perhatian dan jangan berusaha menginterupsinya. Misalnya: “Terima kasih sudah cerita ke Mom/Dad. Pasti ini tidak mudah buat kamu.” Kalimat sederhana seperti ini membantu anak merasa aman.
  2. Validasi Perasaan Anak
    Tunjukkan empati dan hargai keberanian anak mau terbuka. Ucapkan terima kasih atau pujian, misalnya: “Terima kasih sudah cerita sama Ayah. Ayah senang kamu mau bilang, kita cari solusi bersama ya.”
  3. Kumpulkan Informasi Lebih Banyak
    Tanyakan detail kejadian dengan lembut, seperti apa, siapa, kapan, di mana anak mengalami atau melihat kejadian bullying tersebut. Ini bukan untuk menyalahkan anak, tapi membantu memahami situasi. Jika memungkinkan, dokumentasikan (foto atau video) sebagai bukti jika dibutuhkan nanti.
  4. Kerjasama dengan Sekolah
    Segera beritahu guru atau pihak sekolah tentang kejadian bullying. Tanyakan rencana penanganan sekolah dan minta mereka turun tangan. Pastikan sekolah tidak saling menyalahkan, tapi mencari solusi. Keterlibatan sekolah penting untuk menghentikan siklus perundungan.
  5. Minta Bantuan Profesional
    Jika anak tertekan hebat atau trauma (fisik/psikis berkepanjangan), jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau dokter anak. Tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan psikologis yang anak butuhkan.

Dengan sikap penuh kasih dan perhatian, Mom & Dad membantu anak merasa didukung. Hal ini sangat krusial agar anak berani berbagi cerita dan bangkit rasa percaya dirinya.

Mencegah Anak Menjadi Pelaku Bullying

Selain melindungi anak dari bullying, orang tua juga perlu mengajarkan anak agar tidak menjadi pelaku bullying. Mom & Dad bisa mulai dengan:

  • Mengajarkan Empati Kepada Anak
    Mom & Dad bisa mulai dengan hal sederhana, misalnya:
    • Mengajak anak membayangkan perasaan temannya, “Kalau kamu diejek seperti itu, kira-kira kamu merasa bagaimana?”;
    • Mengajak anak mengenali emosi orang lain, “Temanmu terlihat sedih ya, menurutmu kenapa?”;
    • Membacakan cerita atau buku yang mengandung nilai empati, lalu mendiskusikannya bersama.
    Dengan latihan sederhana seperti ini, anak belajar memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang perlu dihargai.

  • Mencontohkan Cara Berbicara yang Menghargai
    Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar. Jika anak terbiasa melihat orang tua berbicara dengan nada lembut dan menghargai orang lain, mereka akan menirunya. Sebaliknya, jika anak sering mendengar ejekan, kritik keras, atau nada tinggi di rumah, anak bisa menganggap hal tersebut sebagai perilaku yang wajar.

  • Mengajarkan Bahwa Perbedaan Adalah Hal yang Wajar
    Bullying sering terjadi karena anak melihat perbedaan sebagai sesuatu yang “aneh” atau “tidak normal”. Padahal, setiap anak memiliki keunikan masing-masing, baik dari segi fisik, kemampuan, maupun latar belakang keluarga.

    Mom & Dad bisa membantu anak memahami hal ini dengan:
    • Menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan;
    • Mengajarkan anak menghargai perbedaan teman;
    • Menghindari komentar negatif tentang orang lain di depan anak.
    Misalnya, ketika anak melihat temannya berbeda, Mom & Dad bisa mengatakan: “Setiap orang itu berbeda, dan itu yang membuat dunia jadi lebih menarik.

  • Mengingatkan Anak Tentang Dampak Menyakiti Orang Lain
    Kadang anak tidak menyadari bahwa candaan atau tindakan yang dilakukan bisa menyakiti orang lain. Karena itu, penting bagi Mom & Dad untuk membantu anak memahami dampaknya.


    Mom & Dad bisa menjelaskan dengan cara sederhana:
    • “Kalau kamu mengejek temanmu, dia bisa merasa sedih dan tidak percaya diri.”
    • “Kalau kamu mengambil barang teman, dia bisa merasa tidak aman.”
    Ajarkan anak bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain.

  • Membiasakan Anak Bertanggung Jawab atas Perilakunya
    Jika anak melakukan kesalahan, penting untuk membantu anak bertanggung jawab, bukan hanya memberikan hukuman. Misalnya:
    • Mengajak anak meminta maaf kepada temannya;
    • Membantu anak memperbaiki kesalahan yang dibuat;
      Mendiskusikan bagaimana seharusnya anak bersikap.
    Dengan cara ini, anak belajar bahwa kesalahan adalah kesempatan untuk belajar, bukan sekadar sesuatu yang harus dihukum.

Cara Mengajarkan Anak Menjadi Upstander: Melawan Bullying

Mom & Dad, dalam situasi bullying, biasanya ada tiga peran yang muncul, yaitu pelaku, korban, dan juga penonton. Banyak anak berada pada posisi sebagai penonton, mereka melihat kejadian, tapi tidak tahu harus berbuat apa.

Di sinilah pentingnya bagi Mom & Dad mengajarkan anak menjadi upstander, yaitu anak yang berani membantu atau membela korban bullying dengan cara yang aman dan tepat.

Beberapa langkah yang dapat Mom & Dad terapkan:

  1. Ajarkan Anak Berani Berkata “Stop”
    Langkah pertama yang bisa Mom & Dad ajarkan adalah keberanian mengatakan bahwa tindakan tersebut tidak benar. Anak tidak perlu berkata panjang, cukup dengan kalimat sederhana yang tegas. Misalnya: 
    • “Stop, itu tidak baik.”
    • “Jangan begitu, itu menyakitkan.”
    • “Itu tidak lucu.”
    Kalimat sederhana ini dapat membantu pelaku menyadari bahwa tindakannya tidak didukung oleh teman-temannya. Banyak pelaku bullying berhenti ketika mereka merasa tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitar. Namun, Mom & Dad perlu mengingatkan bahwa anak tidak harus menghadapi situasi itu sendirian. Jika anak merasa takut atau situasi terlihat berbahaya, ajari anak untuk mencari bantuan atau melaporkannya kepada orang dewasa. Ingat, keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama.

  2. Ajarkan Anak Mendukung Korban
    Menjadi upstander tidak selalu berarti menghadapi pelaku secara langsung. Anak juga bisa membantu korban dengan cara yang lebih sederhana namun tetap bermakna. Anak bisa:
    • Mengajak korban bermain bersama;
    • Duduk bersama saat jam istirahat;
    • Mengajak teman bergabung dalam kelompok;
    • Menanyakan kabar temannya;
    • Memberikan dukungan seperti, “Tidak apa-apa, kamu tidak sendirian”;
    • Membantu korban melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.
    Tindakan kecil seperti ini dapat membuat korban merasa tidak sendirian dan lebih percaya diri. Dukungan sosial dari teman sebaya sangat membantu mengurangi dampak emosional akibat bullying.

  3. Ajarkan Anak Melapor kepada Orang Dewasa
    Sebagian anak menganggap melapor sebagai “mengadu”. Padahal, dalam situasi bullying, melapor justru merupakan tindakan yang bertanggung jawab. Mom & Dad perlu menjelaskan bahwa melapor bertujuan untuk menjaga keselamatan teman, menghentikan bullying lebih cepat, dan membantu orang dewasa mencari solusi.

    Anak bisa melapor kepada guru, orang tua, wali kelas, konselor sekolah maupun petugas sekolah. 


    Mom & Dad juga bisa membantu anak memahami kapan perlu melapor, misalnya:
    • Ketika terjadi kekerasan fisik;
    • Ketika korban terlihat sangat sedih atau takut;
    • Ketika bullying terjadi berulang;
    • Ketika anak merasa situasi tidak aman.
    Ajarkan anak bahwa meminta bantuan adalah tanda keberanian, bukan kelemahan.

  4. Ajarkan Bahwa Diam Bisa Membuat Bullying Terus Terjadi
    Kadang anak memilih diam karena takut ikut menjadi korban atau tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah hal yang wajar. Namun, penting bagi anak untuk memahami bahwa ketika tidak ada yang bereaksi, pelaku bisa menganggap perilakunya diperbolehkan.


    Mom & Dad bisa menjelaskan dengan sederhana, “Kalau tidak ada yang bilang itu salah, pelaku bisa merasa itu tidak apa-apa.”

    Namun, Mom & Dad juga perlu menekankan bahwa anak tidak harus mengambil risiko yang berbahaya. Jika situasi terlihat tidak aman, anak dapat:
    • Menjauh dari lokasi;
    • Mengajak korban menjauh;
    • Segera mencari bantuan orang dewasa.
    Menjadi upstander bukan berarti harus menjadi “pahlawan”, tapi membantu dengan cara yang aman dan sesuai kemampuan anak.

Mom & Dad, keberanian anak untuk menjadi upstander tidak muncul begitu saja. Anak membutuhkan dukungan dari rumah untuk membangun rasa percaya diri dan empati. Ketika anak merasa didukung di rumah, mereka akan lebih percaya diri untuk bersikap peduli terhadap lingkungan sekitarnya. 

Bullying mungkin tidak bisa dihilangkan semalam, namun dengan pemahaman, komunikasi terbuka, dan keberanian bertindak (baik oleh kita maupun anak), anak-anak akan lebih terlindungi. Jadi, selalu dengarkan cerita anak, bimbing mereka memahami perasaan orang lain, dan berikan contoh positif. Dengan begitu, kita membantu memutus rantai bullying dan membangun generasi yang saling peduli!

Sumber:

Global Indian International School. (n.d.). 10 creative ways to teach your child to be an upstander. Diakses pada 13 April 2026. https://globalindianschool.org/jp/tokyo/blogs/10-creative-ways-to-teach-your-child-to-be-an-upstander/ 

North Carolina State University – College of Agriculture and Life Sciences. (2024). Raising upstanders: Your guide to protecting kids from bullying. Diakses pada 13 April 2026. https://cals.ncsu.edu/agricultural-and-human-sciences/news/raising-upstanders-your-guide-to-protecting-kids-from-bullying/

StopBullying.gov. (n.d.). Warning signs. Diakses pada 13 April 2026. https://www.stopbullying.gov/bullying/warning-signs 

StopBullying.gov. (n.d.). What is bullying? Diakses pada 13 April 2026. https://www.stopbullying.gov/bullying/what-is-bullying

StopBullying.gov. (n.d.). Bystanders to bullying. Diakses pada 13 April 2026. https://www.stopbullying.gov/prevention/bystanders-to-bullying 

UNICEF. (n.d.). Bullying: What parents need to know. Diakses pada 13 April 2026. https://www.unicef.org/parenting/child-care/bullying

Westside Neighborhood School. (n.d.). How to talk to kids about being an upstander. Diakses pada 13 April 2026. https://www.wns-la.org/p/~board/blog/post/how-to-talk-to-kids-about-being-an-upstander

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop