Anak Anda Picky Eater?
Mari Pahami Penyebab & Cara Mendampinginya!

Reading Time: 8 minutes

Mom & Dad, menghadapi anak yang pilih-pilih makanan memang bisa terasa melelahkan dan memicu kekhawatiran akan risiko kesehatan anak. Berbagai pertanyaan muncul di benak Mom & Dad, “Apakah asupan gizinya cukup?”, “Bagaimana kalau kebiasaan ini berlanjut?”

Namun penting untuk dipahami, bahwa perilaku pilih-pilih makanan atau yang biasa disebut picky eater pada anak adalah perilaku yang cukup umum dialami oleh anak-anak di masa awal pengenalan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Melalui artikel ini, kita akan bersama-sama memahami alasan di balik perilaku tersebut, sekaligus membahas cara mendampingi anak menghadapinya dengan bijak, penuh empati, dan tanpa tekanan!

Mengenal Picky Eater pada Anak

Istilah picky eater digunakan untuk menggambarkan anak yang cenderung pilih-pilih makanan, misalnya sering menolak jenis makanan tertentu, hanya mau makan menu yang itu-itu saja, atau enggan mencoba makanan baru.

Berdasarkan penelitian berjudul “Overcoming picky eating: Eating enjoyment as a central aspect of children’s eating behaviors” yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite, diperkirakan sekitar 14 – 50 persen anak usia dini menunjukkan perilaku picky eating atau fussy eating. Angka ini menunjukkan bahwa perilaku pilih-pilih makanan cukup umum terjadi pada anak, terutama di usia balita dan prasekolah.

National Health Service (NHS) juga menjelaskan bahwa menolak makanan atau ragu mencoba makanan adalah hal wajar pada anak di bawah usia lima tahun. Selama anak tetap aktif, sehat, dan mengalami pertambahan berat badan sesuai usianya, kondisi ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika perilaku picky eater berlangsung lama dan terus menerus tanpa pendampingan yang tepat, kebiasaan ini akan terbawa hingga dewasa dan berpotensi meningkatkan risiko kekurangan gizi.

Beberapa ciri picky eater yang dapat Mom & Dad perhatikan:

  • Hanya mau mengonsumsi makanan favorit tertentu dan menolak variasi menu lain;
  • Tidak atau menolak mencoba makanan baru (food neophobia);
  • Memisahkan atau menyingkirkan makanan yang tidak disukai dari piringnya;
  • Menghabiskan waktu makan sangat lama atau lebih banyak bermain dengan makanan dari pada memakannya.

Memahami Alasan di Balik Perilaku Picky Eater

Mom & Dad, setelah mengenali picky eater dan ciri-cirinya, penting untuk memahami bahwa perilaku ini tidak muncul tanpa alasan. Dalam banyak kasus, picky eating berkaitan erat dengan tahap perkembangan anak dan bukan semata-mata anak sulit diatur. Beberapa alasan di balik perilaku picky eater:

  1. Faktor Perkembangan: Fase Alami dalam Tumbuh Kembang Anak
    Pada masa kanak-kanak awal, anak memang sering melewati fase memilih-milih makanan. Hal ini berkaitan dengan perkembangan alami dan rasa ingin tahu alami anak.

    Misalnya, balita cenderung ragu untuk mencoba makanan baru karena secara naluriah mereka waspada terhadap hal-hal yang belum dikenal. Perilaku ini sebenarnya berkaitan dengan mekanisme bertahan hidup yang terbentuk sejak awal evolusi manusia.

  2. Perkembangan Sensitivitas Indera Anak terhadap Rasa dan Tekstur
    Selain itu, seiring pertumbuhan anak, indra perasa mereka masih terus berkembang sehingga mereka menjadi lebih sensitif terhadap rasa, aroma, dan tekstur makanan. Kondisi ini membuat anak lebih mudah menolak makanan yang terasa asing atau tidak sesuai dengan preferensi mereka.

    Oleh karena itu, orang tua dan pengasuh perlu memahami faktor perkembangan ini dan bersikap sabar dalam mengenalkan makanan baru secara bertahap sehingga anak dapat membangun pengalaman yang positif dengan berbagai pilihan makanan.

  3. Pengaruh Psikologis dan Pengalaman Emosional Anak
    Faktor psikologis juga memiliki peran besar dalam memengaruhi pilihan makan anak. Pengalaman makan di masa awal, tekanan untuk menghabiskan makanan, atau pengalaman kurang menyenangkan saat MPASI dapat berkontribusi pada munculnya perilaku picky eater.

    Contohnya, anak yang pernah merasa tidak nyaman dengan tekstur makanan tertentu saat kecil dapat mengembangkan penolakan yang bertahan lama pada makanan tersebut. Selain itu, tekanan untuk makan sering kali menimbulkan kecemasan saat waktu makan, yang justru memperkuat perilaku menolak makanan.

    Karena itu, Mom & Dad dapat menciptakan suasana makan yang santai dan minim tekanan, serta memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan preferensinya tanpa rasa takut atau paksaan. Dengan memahami dan menangani faktor psikologis ini, anak dapat dibantu untuk memiliki sikap yang lebih tenang dan terbuka terhadap makanan baru.

  4. Pengaruh Lingkungan dan Contoh dari Orang Dewasa
    Lingkungan dan pengaruh sosial juga sangat memengaruhi kebiasaan dan preferensi makan anak. Kebiasaan makan bersama atau cara Mom & Dad mengarahkan perilaku makan, dapat membentuk pandangan anak terhadap makanan.

    Ketika anak melihat orang tuanya menikmati berbagai jenis makanan dengan sikap positif, anak cenderung lebih terbuka untuk mencoba. Makan bersama keluarga juga dapat mendorong anak untuk mencoba makanan yang sebelumnya ia tolak, terutama ketika melihat orang lain menikmatinya.

    Pengaruh teman sebaya juga tidak kalah besar karena anak sering terdorong untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Dengan menciptakan lingkungan makan yang suportif melalui kebiasaan makan bersama dan contoh positif dari orang dewasa, Mom & Dad dapat membantu anak membangun pola makan yang lebih sehat juga sikap yang lebih berani dan terbuka terhadap makanan baru.

Strategi Efektif dalam Menghadapi Picky Eater

Mom & Dad, menghadapi anak yang pilih-pilih makanan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang tua. Karena itu, Mom & Dad perlu strategi dalam menghadapi perilaku ini agar tidak menimbulkan resiko kesehatan bagi anak di kemudian hari. Beberapa strategi yang dapat Mom & Dad coba:

  1. Menciptakan Suasana Makan Positif dan Menyenangkan
    Mom & Dad, langkah pertama yang sangat penting adalah menciptakan suasana makan yang nyaman dan menyenangkan. Waktu makan sebaiknya menjadi momen kebersamaan, bukan ajang adu emosi.

    Makan bersama keluarga membantu anak merasa lebih aman dan rileks, sekaligus memberi contoh bahwa makan adalah aktivitas yang menyenangkan. Ketika suasana makan terasa santai dan penuh dukungan, anak akan lebih terbuka untuk mencoba makanan tanpa rasa takut atau tertekan.


  2. Hindari Paksaan dan Tekanan saat Anak Makan
    Memaksa anak untuk makan seringkali justru memperburuk perilaku picky eater. Tekanan dapat membuat anak mengaitkan waktu makan dengan perasaan cemas atau tidak nyaman. Pendekatan yang minim tekanan memberi anak kesempatan untuk mengenali dan mengeksplorasi pilihan makanannya secara mandiri sehingga pengalaman makan anak lebih sehat dan positif.

    Penelitian menunjukkan bahwa suasana makan yang positif tidak hanya meningkatkan kemauan anak untuk mencoba makanan baru, tapi juga membantu mengurangi kecemasan saat waktu makan.


  3. Kenalkan Makanan Baru secara Bertahap
    Mengenalkan makanan baru sebaiknya dilakukan secara bertahap. Alih-alih langsung menyajikan hidangan yang sepenuhnya asing, Mom & Dad dapat mulai dengan menambahkan porsi kecil makanan baru di samping makanan yang sudah familiar bagi anak. Cara ini membantu anak beradaptasi dengan rasa dan tekstur yang berbeda tanpa merasa terintimidasi.

    Paparan berulang terhadap makanan baru juga sangat penting karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak cenderung lebih menerima makanan yang sudah mereka lihat dan cicipi berkali-kali. Selain itu, penyajian makanan secara menarik dan kreatif dapat meningkatkan minat serta rasa ingin tahu anak untuk mencoba makanan tersebut.

  4. Libatkan Anak dalam Proses Menyiapkan Makanan
    Mom & Dad, melibatkan anak dalam menyiapkan makanan adalah cara sederhana, namun efektif untuk menumbuhkan minat anak terhadap makanan. Ketika anak ikut memilih bahan atau membantu proses memasak, mereka biasanya merasa lebih tertarik dan tidak ragu untuk mencoba makanan yang telah dibuat.

    Keterlibatan ini bisa dimulai dari hal-hal ringan, seperti mencuci sayuran, mengaduk adonan, atau memilih menu makan. Dengan cara ini, anak perlahan mengenal berbagai jenis makanan dan belajar menikmati variasi rasa. Selain itu, pendekatan langsung ini tidak hanya membangun sikap positif terhadap makanan, tapi juga membantu anak mempelajari keterampilan dasar memasak yang akan bermanfaat bagi mereka di masa depan.

Kesalahan Umum Orang Tua saat Menghadapi Picky Eater

Mom & Dad, tanpa disadari, niat baik orang tua justru kadang memperkuat perilaku picky eater. Beberapa kesalahan umum yang sering terjadi antara lain:

  1. Terlalu Memaksa atau Mengancam Anak untuk Makan
    Ancaman, seperti “Kalau tidak habis, tidak boleh main”, dapat membuat anak semakin menolak makan dan merasa tertekan. Atau mungkin dengan ancaman, anak akan makan. Namun dalam jangka panjang, cara ini berisiko menciptakan hubungan negatif antara anak dan makanan.

  2. Langsung Menyerah dan Selalu Menyediakan Makanan Favorit
    Ketika anak menolak makanan, orang tua kadang langsung menggantinya dengan menu favorit agar anak mau makan. Jika dilakukan terus-menerus, anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar menerima variasi makanan.


  3. Memberi Label “Anak Ini Memang Susah Makan”
    Label, seperti “susah makan”, “picky banget”, atau “tidak mau makan apa-apa”—baik yang diucapkan langsung kepada anak, maupun dalam percakapan dengan orang lain—dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Anak bisa merasa bahwa perilaku tersebut adalah bagian dari dirinya sehingga semakin sulit untuk berubah. Label negatif juga dapat menurunkan kepercayaan diri anak saat makan.

  4. Membandingkan Anak dengan Anak Lain
    Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain yang dianggap lebih lahap sering kali dilakukan dengan harapan anak termotivasi. Namun, perbandingan justru dapat membuat anak merasa tertekan, malu, atau tidak cukup baik. Setiap anak memiliki tempo perkembangan dan preferensi yang berbeda, termasuk dalam hal makan.

Dengan pendekatan yang sabar, konsisten, dan penuh empati, Mom & Dad dapat membantu anak perlahan mengembangkan sikap yang lebih terbuka terhadap makanan. Ingat, menghadapi picky eater adalah proses, bukan perlombaan. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa dampak besar jangka panjang.

Tips Mendorong Balita Mau Mencoba Makanan Baru

Mom & Dad, seperti kita tahu perilaku picky eater memiliki ciri enggan mencoba makanan baru. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita, banyak kekhawatiran yang menghantui Mom & Dad. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan usaha yang konsisten dari hati, kebiasaan ini bisa kita atasi bersama. Berikut beberapa tips yang dapat Mom & Dad terapkan agar balita mau mencoba makanan baru untuk melengkapi nutrisinya:

  1. Buat Tampilan Makanan Menarik dan Menyenangkan
    Membuat makanan terlihat menyenangkan dan menarik merupakan strategi penting untuk mendorong balita mencoba makanan baru. Ketika makanan disajikan dengan cara yang menarik, anak cenderung lebih penasaran dan tertarik dengan apa yang ada di piring mereka.

    Penyajian kreatif bisa dilakukan dengan membentuk buah dan sayur menjadi bentuk lucu atau menyusun makanan dengan warna-warna cerah yang merangsang selera makan anak.

  2. Biarkan Anak Berinteraksi Langsung dengan Makanan
    Membiarkan balita berinteraksi langsung dengan makanannya, misalnya menggunakan cetakan kue untuk membentuk roti atau sandwich dapat mengubah waktu makan menjadi pengalaman bermain yang menyenangkan. Hal ini membuat anak lebih terbuka untuk mencicipi makanan yang sebelumnya terasa asing.

    Pendekatan ini tidak hanya menciptakan suasana positif saat makan, tapi juga mendorong anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen dengan berbagai jenis makanan, yang penting dalam membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.

  3. Sajikan Variasi Rasa dan Tekstur secara Bertahap
    Setiap anak memiliki preferensi sensorik yang berbeda. Mengenalkan berbagai rasa dan tekstur, mulai dari makanan yang lembut hingga yang lebih renyah dapat membantu anak menemukan makanan yang cocok sesuai seleranya. Akan lebih efektif, jika makanan baru disajikan berdampingan dengan makanan yang sudah familiar bagi anak sehingga anak tetap merasa aman sambil terdorong untuk mencoba hal baru. Misalnya, menyajikan sayuran dengan berbagai bentuk favorit anak. Paparan bertahap terhadap berbagai rasa dan tekstur ini dapat memperluas selera makan anak seiring waktu, sehingga peluang anak menikmati makanan baru pun semakin besar.

  4. Libatkan Anak dalam Proses Menyiapkan Makanan
    Melibatkan anak dalam menyiapkan makanan, seperti memilih sayuran di pasar atau membantu mencuci bahan, dapat meningkatkan ketertarikan anak terhadap makanan tersebut. Ketika anak merasa memiliki peran, ia cenderung lebih mau mencoba hasil masakan yang ia bantu siapkan.

  5. Jadilah Teladan dalam Kebiasaan Makan Sehat
    Memberi contoh yang baik sebagai orang tua atau pengasuh merupakan salah satu cara paling efektif untuk membentuk kebiasaan makan sehat pada balita. Anak adalah peniru yang ulung dan sering mencontoh perilaku orang dewasa di sekitarnya. Ketika orang tua secara konsisten mengonsumsi beragam buah dan sayur serta menunjukkan ekspresi menikmati makanan tersebut, anak akan lebih terdorong untuk menirunya.

  6. Bangun Suasana Makan yang Hangat bersama Keluarga
    Makan bersama keluarga juga memberi kesempatan bagi balita untuk melihat langsung perilaku makan yang positif, sekaligus menegaskan bahwa mencoba makanan baru adalah hal yang wajar saat waktu makan. Selain itu, ajaklah anak berbincang tentang makanan. Manfaatnya, rasanya, atau pengalaman mencoba hidangan tertentu—dapat meningkatkan motivasi anak untuk lebih terbuka terhadap makanan baru dan menjadikan pola makan sehat sebagai nilai bersama dalam keluarga.

Mom & Dad, di balik setiap penolakan makanan, sebenarnya ada anak yang sedang belajar mengenal tubuh, rasa, dan batasannya sendiri. Picky eater bukan tanda kegagalan orang tua, dan bukan pula bukti bahwa anak “susah diatur”. Perjalanan ini mungkin terasa pelan dan melelahkan, namun setiap usaha kecil, setiap suasana makan yang hangat, dan setiap respons penuh kasih adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan fisik dan emosional anak. 

Alih-alih terburu-buru mengejar piring kosong, mari fokus membangun hubungan anak dengan makanan! 

Karena anak yang merasa dihargai dan dipahami hari ini, akan tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri, berani mencoba, dan memiliki pola makan yang sehat di masa depan.

Sumber:

Child Mind Institute. (2025, 1 April). More than picky eating. Diakses pada 12 April 2026. https://childmind.org/article/more-than-picky-eating 

Crystal Karges Nutrition. (n.d.). Picky eater: How to talk with your child dealing with food challenges. Diakses pada 12 April 2026. https://www.crystalkarges.com/blog/picky-eater-how-to-talk-with-your-child-dealing-with-picky-eating 

HealthyChildren.org. (n.d.). 10 tips for parents of picky eaters. Diakses pada 12 April 2026. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Picky-Eaters.aspx

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). (2015, 19 Agustus). Pilih-pilih makanan. Diakses pada 12 April 2026. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pilih-pilih-makanan 

Taylor CM, Emmett PM (2019, Mei). Picky eating in children: causes and consequences. Proc Nutr Soc, 78 (2), 161-169. doi: 10.1017/S0029665118002586

Parents. (n.d.). How to get a picky eater to try new foods. Diakses pada 12 April 2026. https://www.parents.com/recipes/nutrition/picky-eater-strategies/

Primaya Hospital. (n.d.). Picky eater, tips menghadapi dan mencegahnya. Diakses pada 12 April 2026. https://primayahospital.com/anak/picky-eater 

Whiz Kidz Early Learning Centres. (n.d.). Strategies for introducing new foods to picky eaters. Diakses pada 12 April 2026. https://www.whizkidz.com.au/strategies-for-introducing-new-foods-to-picky-eaters/ 

Within Health. (2023, 24 Agustus). Understanding picky eaters. Diakses pada 12 April 2026. https://withinhealth.com/learn/articles/understanding-picky-eaters

Small knowledge is a great danger

Close Welcome Bar
0
0
Your Cart
Your cart is emptyReturn to Shop