Bagi orang tua, menitipkan anak di daycare atau tempat penitipan anak bukanlah keputusan yang mudah. Di satu sisi, banyak keluarga membutuhkan bantuan daycare untuk menjaga anak saat para orang tua bekerja. Di sisi lain, muncul rasa cemas akan keamanan dan kenyamanan anak selama dititipkan di daycare. Kekhawatiran tersebut dipicu oleh meningkatnya kasus kekerasan pada anak di daycare dalam beberapa tahun terakhir. Kasus-kasus ini membuka pandangan bahwa sistem pengawasan daycare di Indonesia masih perlu dievaluasi.
Namun, penting untuk dipahami bahwa menitipkan anak di daycare bukanlah sesuatu yang salah. Banyak daycare yang dikelola secara profesional dan menjadi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Yang perlu dilakukan orang tua adalah lebih selektif dalam memilih daycare dan membangun komunikasi yang baik dengan para pengasuhnya.
Artikel ini akan membahas hal-hal yang perlu diperhatikan oleh Mom & Dad agar dapat memilih daycare yang aman dan terpercaya demi keamanan dan optimalnya tumbuh kembang anak.
Mengapa Orang Tua Perlu Lebih Selektif Memilih Daycare?
Kekhawatiran orang tua saat menitipkan anak di daycare sangat beralasan jika melihat meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di daycare. Pada 2024, kasus dugaan kekerasan terhadap balita dilaporkan terjadi di daycare di Cimanggis, Depok, dan mendapat pendampingan dari KPAI. Pada tahun yang sama, kasus serupa juga terungkap di Pekanbaru, di mana anak diduga mengalami perlakuan tidak layak seperti kaki diikat saat makan dan tidak diberi makan dalam periode tertentu, serta di Medan, ketika rekaman CCTV menunjukkan tindakan kekerasan yang dilakukan pengasuh terhadap balita.
Bahkan pada 2026, polisi mengungkap kasus yang melibatkan puluhan anak di sebuah daycare di Yogyakarta, dengan temuan praktik pengikatan, cubitan, dan tamparan terhadap anak. Rangkaian kasus ini menunjukkan bahwa risiko kekerasan di daycare merupakan persoalan nyata yang perlu mendapat perhatian serius sehingga Mom & Dad harus lebih selektif dalam memilih lingkungan pengasuhan yang aman dan mendukung kesejahteraan anak.
Anak usia dini merupakan kelompok yang sangat rentan karena belum mampu mengungkapkan pengalaman yang mereka alami secara jelas. Ketika mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, anak sering kali hanya menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih mudah menangis, takut ditinggalkan, atau menolak datang ke daycare. Kondisi ini membuat Mom & Dad perlu lebih aktif mengamati keseharian anak dan tidak hanya mengandalkan cerita anak untuk mengetahui apa yang terjadi selama mereka berada di daycare.
Karena itu, daycare tidak boleh hanya dipandang sebagai sekadar “tempat menitipkan anak” secara fisik. Lebih dari itu, daycare adalah lingkungan krusial yang harus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Memastikan anak berada di tempat yang menjamin keselamatan fisik maupun kestabilan emosionalnya adalah tanggung jawab utama Mom & Dad sebelum membuat keputusan menitipkan anak di daycare.
Ciri-Ciri Daycare yang Aman & Layak Dipercaya
Sebelum memilih daycare untuk menitipkan anak, ada beberapa aspek yang perlu Mom & Dad cek untuk memastikan anak aman dan nyaman selama diasuh di daycare tersebut:
|
Aspek yang Perlu Diperhatikan |
Penjelasan |
|
Daycare yang baik memiliki izin operasional sesuai ketentuan yang berlaku, struktur pengelolaan yang jelas, serta prosedur perlindungan anak. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga memiliki standar dan tanggung jawab dalam menjalankan layanan. |
|
Pengelola bersedia menjelaskan aktivitas harian anak, aturan keamanan, serta mekanisme pelaporan, jika terjadi suatu kejadian. Jika tersedia CCTV atau laporan harian, orang tua dapat memantau perkembangan anak dengan lebih tenang. |
|
Mengasuh anak membutuhkan keterampilan khusus. Pengasuh yang baik mampu menghadapi tangisan, tantrum, maupun perilaku aktif anak dengan pendekatan yang positif tanpa menggunakan kekerasan fisik ataupun verbal. Mereka juga sebaiknya telah mendapatkan pelatihan pengasuhan dan pertolongan pertama pada anak. |
|
Perhatikan kebersihan ruangan, kamar mandi, tempat makan, serta keamanan alat bermain. Ventilasi yang baik, area bermain yang sesuai usia, dan tidak adanya benda berbahaya merupakan indikator lingkungan yang aman bagi anak. |
|
Jumlah pengasuh harus sebanding dengan jumlah anak sehingga setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup. Jika satu pengasuh harus menangani terlalu banyak anak, kualitas pengawasan dapat menurun. |
|
Daycare bukan hanya tempat menitipkan anak, tapi juga tempat belajar dan bermain. Pilih daycare yang memiliki jadwal kegiatan yang mendukung perkembangan motorik, bahasa, sosial, dan emosional sesuai usia anak. |
|
Daycare yang berkualitas memberikan informasi mengenai aktivitas, pola makan, waktu tidur, hingga kondisi kesehatan anak secara rutin. Orang tua juga diberi kesempatan untuk berdiskusi mengenai perkembangan anak. |
|
Tanyakan bagaimana prosedur jika anak sakit, mengalami kecelakaan, atau terjadi keadaan darurat, seperti kebakaran atau bencana. Daycare yang baik memiliki SOP yang jelas dan dapat menjelaskannya kepada orang tua. |
|
Pastikan daycare tidak menggunakan hukuman fisik, bentakan, ancaman, atau mempermalukan anak sebagai bentuk disiplin. Pengasuhan yang positif membantu anak belajar mengelola perilaku dengan cara yang sehat. |
|
Daycare yang profesional tidak keberatan apabila orang tua ingin melakukan survei, bertanya mengenai pengasuhan, atau berdiskusi tentang perkembangan anak. Sikap terbuka menunjukkan adanya budaya transparansi dan akuntabilitas. |
|
Daycare yang baik memiliki aturan tertulis mengenai pencegahan kekerasan, pelecehan, perundungan, serta mekanisme pelaporan apabila terjadi dugaan pelanggaran. Seluruh staf memahami dan menerapkan kebijakan tersebut. |
|
Salah satu indikator terbaik adalah respons anak-anak yang berada di sana. Anak-anak tampak berinteraksi dengan nyaman, pengasuh bersikap hangat, dan suasana lingkungan terasa positif, bukan penuh tekanan atau ketakutan. |
Sebelum memutuskan memilih daycare, lakukan minimal dua kali kunjungan pada waktu yang berbeda, misalnya pagi dan siang. Cara ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai suasana sehari-hari, interaksi antara pengasuh dan anak, serta kualitas pelayanan daycare sebenarnya, bukan hanya saat daycare sedang menerima tamu.
Pentingnya Membangun Kepercayaan dengan Pengasuh Anak
Setelah memastikan daycare aman dan terpercaya, langkah selanjutnya yang perlu Mom & Dad lakukan adalah membangun hubungan yang sehat dengan para pengasuh. Kepercayaan tidak muncul begitu saja, tapi dibangun melalui komunikasi yang terbuka, konsisten, dan saling menghargai.
Agar kerja sama berjalan dengan baik, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan Mom & Dad:
|
Langkah Praktis |
Penjelasan |
|
Kenali pengasuh dan lingkungan daycare |
Luangkan waktu untuk mengenal orang yang setiap hari mendampingi anak, serta memahami cara mereka mengasuh. |
|
Sampaikan kebiasaan dan kebutuhan anak |
Beritahukan rutinitas tidur, pola makan, alergi, atau cara menenangkan anak agar pengasuhan lebih sesuai dengan kebutuhannya. |
|
Bangun komunikasi rutin |
Biasakan bertukar informasi mengenai aktivitas, kondisi kesehatan, maupun perubahan perilaku anak setiap hari. |
|
Samakan ekspektasi pengasuhan |
Diskusikan aturan atau nilai yang diterapkan di rumah sehingga anak mendapatkan pola pengasuhan yang konsisten. |
|
Tetap lakukan pemantauan |
Kepercayaan bukan berarti melepas tanggung jawab. Orang tua tetap perlu memperhatikan kondisi fisik, emosi, dan cerita anak setelah pulang dari daycare. |
Pada akhirnya, hubungan yang baik antara orang tua dan pengasuh adalah bentuk kerja sama untuk memberikan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Percaya itu penting, tapi tetap disertai komunikasi yang terbuka dan pemantauan yang berkelanjutan.
Tanda-Tanda Kekerasan pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
Anak usia dini sering kali belum mampu menceritakan dengan jelas apa yang dialami atau bahkan belum memahami perlakuan yang diterimanya pantas atau tidak. Karena itu, Mom & Dad perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku maupun kondisi anak setelah berada di daycare.
Beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian antara lain:
- Anak tiba-tiba takut ke daycare, menangis berlebihan atau menolak saat akan dititipkan, padahal sebelumnya tidak pernah mengalami hal tersebut.
- Terjadi perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, lebih mudah takut, atau terlihat cemas tanpa alasan yang jelas.
- Pola tidur atau nafsu makan berubah, misalnya anak sulit tidur, sering mimpi buruk, atau makan jauh lebih sedikit dari biasanya.
- Muncul luka, memar, atau cedera yang tidak dapat dijelaskan secara jelas atau penjelasan yang diberikan tidak konsisten.
- Anak menunjukkan perubahan emosional saat bertemu pengasuh tertentu, misalnya terlihat takut, menghindar, atau menangis ketika melihat orang tersebut.
- Pihak daycare atau pengasuh sulit diajak berkomunikasi, tidak terbuka mengenai aktivitas anak, atau cenderung menghindari pertanyaan dari orang tua.
Namun, penting untuk diingat bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anak mengalami kekerasan. Perubahan perilaku juga bisa dipengaruhi oleh proses adaptasi, kondisi kesehatan, ataupun faktor lain.
Meski demikian, jika Mom & Dad melihat satu atau beberapa tanda di atas terjadi secara berulang, jangan diabaikan. Cari tahu penyebabnya dengan berdiskusi dengan baik dengan pihak daycare, mengamati kondisi anak, dan bila diperlukan meminta bantuan tenaga profesional atau melaporkannya kepada pihak yang berwenang.
Apa yang Harus Dilakukan jika Menemukan Dugaan Kekerasan?
Beberapa langkah yang dapat Mom & Dad lakukan apabila menemukan tanda-tanda kekerasan pada anak:
- Utamakan keselamatan anak. Jika anak terlihat tidak aman atau mengalami trauma, hentikan sementara penitipan dan jauhkan anak dari situasi yang diduga berisiko.
- Dengarkan cerita anak dengan tenang. Berikan kesempatan anak bercerita dengan bahasanya sendiri tanpa memaksa. Tanyakan dengan lembut, misalnya, “Hari ini ada yang membuat kamu sedih?” atau “Boleh cerita apa yang terjadi?”.
- Catat dan dokumentasikan setiap temuan. Simpan foto luka atau memar, rekam medis, serta catatan mengenai tanggal, waktu dan perilaku anak.
- Berdiskusi secara langsung dengan pihak daycare. Mintalah penjelasan terbuka mengenai kejadian yang diduga terjadi dan lihat bagaimana pihak daycare merespons, serta menyelesaikan permasalahan tersebut.
- Periksakan kondisi anak ke tenaga kesehatan. Jika terdapat luka fisik atau keluhan kesehatan, segera bawa anak ke dokter. Apabila anak menunjukkan perubahan emosi atau perilaku yang menetap, konsultasikan dengan psikolog atau tenaga profesional.
- Laporkan kepada pihak berwenang apabila terdapat dugaan kekerasan. Orang tua dapat melapor ke:
- Kepolisian, termasuk Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Unit PPA);
- UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di daerah setempat;
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI); atau
- Layanan SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk mendapatkan informasi dan pendampingan.
Memilih daycare adalah keputusan penting bagi Mom & Dad, dan tentunya si kecil karena tempat tersebut bukan hanya sekadar tempat penitipan anak, melainkan lingkungan yang turut membentuk kepribadian dan mendukung tumbuh kembang anak. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus kekerasan pada anak, Mom & Dad perlu lebih cermat dalam memilih daycare serta aktif membangun komunikasi dengan pengasuh dan pengelola.
Dengan tetap terlibat, membangun komunikasi yang baik dengan pengasuh, dan peka terhadap kebutuhan anak, Mom & Dad dapat membantu memastikan si kecil tumbuh dengan aman, nyaman, dan optimal!
Sumber:
Belsky, J., Vandell, D. L., Burchinal, M., Clarke-Stewart, K. A., McCartney, K., Owen, M. T., & NICHD Early Child Care Research Network (2007). Are there long-term effects of early child care?. Child development, 78(2), 681–701. https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.2007.01021.x
Brightwheel. (n.d.). What is high-quality child care? Diakses pada 13 Juni 2026. https://mybrightwheel.com/blog/what-is-high-quality-child-care
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Essentials for parenting toddlers and preschoolers. Diakses pada 13 Juni 2026. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/about/index.html
ChildCare.gov. (n.d.). Find and choose quality child care. Diakses pada 13 Juni 2026. https://childcare.gov/consumer-education/find-and-choose-quality-child-care
Child Care Provider Resource Network (CCPRN). (n.d.). Building a relationship with your caregiver. Diakses pada 13 Juni 2026. https://ccprn.com/building-a-relationship-with-your-caregiver/
HealthyChildren.org. (n.d.). Making child care choices count for your family. Diakses pada 13 Juni 2026. https://www.healthychildren.org/English/family-life/work-and-child-care/Pages/making-child-care-choices-count-for-your-family.aspx
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2026, 27 April). KPAI soroti kekerasan daycare berulang di Indonesia, desak penegakan hukum dan evaluasi menyeluruh. Diakses pada 13 Juni 2026. https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-soroti-kekerasan-daycare-berulang-di-indonesia-desak-penegakan-hukum-dan-evaluasi-menyeluruh
National Association for the Education of Young Children (NAEYC). (n.d.). What to look for in a program. Diakses pada 13 Juni 2026. https://www.naeyc.org/our-work/families/what-look-program
Reuters. (2026, 10 Juni). Outcry in Indonesia after police find toddlers tied up at daycare centre. Diakses pada 13 Juni 2026. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/outcry-indonesia-after-police-find-toddlers-tied-up-daycare-centre-2026-06-10/
UNICEF. (n.d.). How to recognize signs of distress. Diakses pada 13 Juni 2026. https://www.unicef.org/parenting/child-care/how-to-recognize-signs-of-distress


