Mengasuh anak adalah perjalanan bersama yang penuh dinamika. Dalam praktiknya, tidak jarang Mom & Dad memiliki pandangan atau pendekatan yang berbeda dalam membesarkan si kecil. Perbedaan ini sebenarnya wajar karena setiap orang tua membawa latar belakang, pengalaman, dan nilai yang unik. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan tersebut bisa memengaruhi konsistensi pengasuhan dan perkembangan anak.
Yuk, kita pahami bersama apa yang menjadi akar perbedaan ini, dampaknya bagi anak, serta bagaimana cara menyelaraskannya dengan hangat dan bijak!
Mengapa Orang Tua Bisa Berbeda Pendekatan dalam Mengasuh Anak?
Perbedaan gaya pengasuhan umumnya tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor kuat di baliknya:
- Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya sangat memengaruhi perbedaan pendekatan yang diambil orang tua dalam membesarkan anak-anak mereka. Setiap budaya memiliki nilai, tradisi, dan harapan unik yang membentuk gaya pengasuhan. Ada budaya yang menekankan kebersamaan, kepatuhan, dan harmoni keluarga, sementara yang lain lebih mendorong kemandirian dan kebebasan berekspresi.
Akibatnya, Mom & Dad mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda tentang disiplin, pendidikan, atau cara anak mengekspresikan emosi. Memahami perbedaan ini membantu kita lebih bijak dalam melihat sudut pandang pasangan. - Pengalaman Masa Kecil
Sering kali, cara kita mengasuh adalah refleksi dari bagaimana kita dulu diasuh. Misalnya, orang tua yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh perhatian mungkin lebih cenderung mengadopsi pendekatan yang empatik dan suportif, sedangkan orang tua yang dibesarkan dalam rumah tangga yang ketat mungkin cenderung menggunakan metode otoriter atau tegas dalam mendisiplinkan anak.
Perbedaan pengalaman ini bisa memunculkan cara pandang yang tidak selalu sejalan. Karena itu, penting bagi Mom & Dad untuk mengakui, saling berbagi cerita dan memahami latar belakang masing-masing. - Nilai dan Keyakinan Pribadi
Nilai dan keyakinan yang berbeda tentang pengasuhan juga memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana orang tua berinteraksi dengan anak-anak mereka. Nilai-nilai ini, yang dapat berasal dari keyakinan agama, filosofi pendidikan, atau pengalaman pribadi, dapat menyebabkan ketidaksepakatan tentang keputusan pengasuhan yang penting.
Jika tidak dibicarakan, perbedaan ini bisa membuat anak menerima pesan yang berbeda-beda. Di sinilah pentingnya komunikasi terbuka, mendiskusikan nilai-nilai dan keyakinan mereka, serta mencari titik temu yang menghargai kedua perspektif. Pendekatan kolaboratif ini tidak hanya memperkuat kerja sama dalam pengasuhan, tetapi juga memberikan anak-anak lingkungan yang lebih konsisten dan mendukung.
Dampak Perbedaan Gaya Pengasuhan pada Anak
Perbedaan gaya pengasuhan tidak selalu buruk. Jika tidak dikelola, bisa berdampak pada anak. Beberapa dampak yang mungkin terjadi:
- Perkembangan Emosional dan Perilaku
Anak yang tumbuh dalam pola asuh hangat namun tegas (otoritatif) cenderung lebih mampu mengelola emosi dengan baik. Mereka biasanya lebih tenang, mudah diarahkan, dan memiliki perilaku yang lebih positif.
Sebaliknya, pola asuh yang terlalu keras (otoriter) atau terlalu bebas (permisif) bisa membuat anak kesulitan mengontrol emosi dan lebih mudah memberontak atau justru menarik diri. Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak juga membantu:- Mengurangi masalah perilaku
- Memperkuat ikatan emosional
- Membuat anak merasa aman dan dipahami
- Prestasi Akademik dan Hubungan Sosial
Selain aspek emosional, gaya pengasuhan dapat sangat memengaruhi prestasi akademik dan hubungan sosial anak. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung kemandirian dan eksplorasi biasanya lebih percaya diri dan termotivasi dalam belajar. Mereka terbiasa mencoba, tidak mudah menyerah, dan lebih terbuka terhadap pengalaman baru.
Di sisi lain, keterlibatan Mom & Dad dalam proses belajar anak sekecil apa pun memberikan dampak besar terhadap prestasi akademiknya. Tidak hanya itu, pola asuh yang suportif juga membantu anak mengembangkan keterampilan sosial yang baik. Anak menjadi lebih mudah bergaul, mampu bekerja sama, dan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik di lingkungan sekitarnya. - Harga Diri dan Kemandirian
Efek jangka panjang dari perbedaan gaya pengasuhan juga patut diperhatikan, terutama menyangkut harga diri dan kemandirian anak. Anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan permisif atau lalai sering kali diberikan kebebasan yang luas, namun minim batasan dan arahan. Kondisi ini dapat membuat anak tampak mandiri karena terbiasa mengambil keputusan sendiri, tapi sebenarnya belum memiliki kesiapan emosional dan kemampuan pengendalian diri yang matang.
Akibatnya, anak dapat mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan, kurang percaya diri terhadap keputusan yang diambil, serta bergantung pada situasi karena tidak terbiasa dengan struktur yang jelas.
Sebaliknya, dalam pengasuhan otoritatif, anak diberikan ruang untuk belajar mandiri secara bertahap, disertai dengan batasan yang konsisten dan dukungan emosional. Pendekatan ini membantu anak membangun kemandirian yang lebih matang sekaligus menjaga harga diri yang positif.
Mom & Dad harus memahami bahwa perbedaan dalam pengasuhan memang tidak bisa dihindari. Namun, penting untuk tetap menjaga keseimbangan dan konsistensi agar anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang mendukung perkembangannya secara optimal.
Mengatasi Perbedaan Gaya Pengasuhan Anak di Antara Orang Tua
Mom & Dad, perbedaan dalam pengasuhan adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah menyikapinya dengan bijak agar sejalan demi kebaikan anak. Beberapa cara yang dapat Mom & Dad lakukan:
- Bangun Komunikasi yang Terbuka dan Jujur
Membangun komunikasi terbuka antara orang tua sangat penting untuk mengatasi perbedaan pendekatan pengasuhan anak. Cobalah untuk saling berbagi tentang keyakinan, nilai, dan harapan dalam mengasuh anak tanpa saling menyalahkan. Ketika Mom & Dad saling mendengarkan dengan empati, akan tumbuh rasa saling memahami.
Dari sini, kerja sama pun menjadi lebih mudah terbangun. Selain itu, komunikasi yang sehat juga memberi contoh positif bagi anak tentang bagaimana menyelesaikan perbedaan dengan cara yang baik. Lingkungan di mana kedua orang tua merasa didengar dan dihargai akan membantu mengurangi kesalahpahaman, sekaligus menciptakan pola pengasuhan yang lebih selaras. - Temukan dan Sepakati Nilai-Nilai Inti
Mom & Dad tentunya memiliki tujuan yang sama meski cara pengasuhan anak berbeda. Perbedaan latar belakang dan pengalaman memang bisa memengaruhi cara pandang, tapi dengan menemukan nilai inti yang disepakati bersama, perbedaan tersebut bisa dijembatani.
Misalnya, jika sama-sama mengutamakan pendidikan atau kesehatan emosional anak, maka langkah-langkah pengasuhan bisa diarahkan ke tujuan tersebut. Dengan adanya keselarasan ini, anak akan menerima pesan yang lebih konsisten sehingga merasa lebih aman dan tidak bingung dalam memahami harapan orang tuanya. - Bekerja Sama dalam Menentukan
Pengasuhan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama. Oleh karena itu, penting bagi Mom & Dad untuk menyusun aturan dan strategi secara kolaboratif. Mulai dari hal sederhana seperti menetapkan batasan, menentukan konsekuensi, hingga menyepakati cara mendisiplinkan anak.
Ketika aturan dibuat bersama, anak akan lebih mudah memahami dan mengikuti karena ada konsistensi dari kedua orang tua. Kerja sama ini juga menciptakan rasa kebersamaan dalam keluarga. Anak juga melihat bahwa orang tuanya saling mendukung, bukan saling bertentangan. - Bersikap Fleksibel dan Bersedia Berkompromi
Sadari bahwa tidak ada gaya pengasuhan yang sempurna dan fleksibilitas adalah kuncinya. Jika salah satu orang tua cenderung lebih santai sementara yang lain lebih menyukai keteraturan, cobalah mencari jalan tengah yang tetap nyaman untuk semua.
Misalnya, Anda mungkin menyepakati waktu tidur rutin, tapi mengizinkan pengecualian sesekali pada akhir pekan. Kemampuan beradaptasi ini tidak hanya mengurangi konflik, tapi juga mengajarkan anak-anak tentang negosiasi dan fleksibilitas dalam hubungan. - Pertimbangkan Dukungan Profesional jika Diperlukan
Jika perbedaan dalam pengasuhan mulai terasa berat, sering menimbulkan konflik, atau bahkan membuat anak menjadi bingung, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan dari pihak profesional.
Terapis keluarga atau konselor pengasuhan dapat membantu Mom & Dad melihat situasi dari sudut pandang yang lebih objektif. Mereka juga dapat memberikan strategi yang sesuai dengan kondisi keluarga, sehingga solusi yang diambil terasa lebih tepat dan realistis.
Yang terpenting, langkah ini bukan berarti gagal sebagai orang tua, melainkan bentuk kepedulian dan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan harmonis bagi anak.
Mom & Dad, tidak ada orang tua yang sempurna dalam mengasuh anak. Perbedaan dalam pengasuhan adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana Mom & Dad menyikapinya dengan penuh pengertian dan kerja sama. Ketika perbedaan dikelola dengan baik, justru bisa menjadi kekuatan dalam membangun pola asuh yang lebih seimbang.
Pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan bagaimana Mom & Dad bisa berjalan bersama membesarkan anak yang bahagia, percaya diri, dan siap menghadapi masa depannya!
Sumber:
Derrick, G.E., Chen, PY., van Leeuwen, T. et al. The relationship between parenting engagement and academic performance. Sci Rep 12, 22300 (2022). https://doi.org/10.1038/s41598-022-26258-zÂ
GoodTherapy. (n.d.). When parents clash: Managing differences in parenting style. Diakses pada 12 April 2026. https://www.goodtherapy.org/blog/when-parents-clash-managing-differences-in-parenting-style-0616187
Hirata, H., & Kamakura, T. (2018). The effects of parenting styles on each personal growth initiative and self-esteem among Japanese university students. International Journal of Adolescence and Youth, 23(3), 325–333. https://doi.org/10.1080/02673843.2017.1371614Â
Life Science Global. (n.d.). Parenting styles and child health and nutrition. Diakses pada 12 April 2026. https://lifescienceglobal.com/pms/index.php/ijchn/article/view/9543/4993
National Center for Biotechnology Information (NCBI). (n.d.). Parenting styles. Diakses pada 12 April 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK568743/
Qian, Wenxu. (2024). Exploring the Impact of Parenting Styles on Children’s Academic and Mental Health. Journal of Ecohumanism, 3 (7), 5067–5073. https://www.researchgate.net/publication/385572026_Exploring_the_Impact_of_Parenting_Styles_on_Children’s_Academic_and_Mental_HealthÂ
Raden Intan State Islamic University. (n.d.). Parenting style dalam perspektif pendidikan anak. Diakses pada 12 April 2026. https://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/al-athfaal/article/download/21109/7197/69174
Sumargi, A. M., Prasetyo, E., & Ardelia, B. W. (2020). Parenting Styles and Their Impacts on Child Problem Behaviors. Jurnal Psikologi, 19(3), 269-285. https://doi.org/10.14710/jp.19.3.269-285Â
Therapy House. (n.d.). Different parenting approaches and how successful they are. Diakses pada 12 April 2026. https://www.therapyhouse.com.au/workshops/circle-of-security-parenting-program/parenting-styles-parenting-tips/Â
United Community Solutions. (n.d.). Understanding different parenting styles and their psychological impacts. Diakses pada 12 April 2026. https://unitedcommunitysolution.com/blog/understanding-different-parenting-styles-and-their-psychological-impacts/


