Banyak orang tua membayangkan matematika sebagai pelajaran yang baru dimulai ketika anak membuka buku, mengerjakan lembar kerja, atau duduk serius di meja belajar. Padahal, sebenarnya anak sudah bertemu matematika jauh sebelum itu. Seperti saat menyusun balok, menghitung anak tangga, membagi kue dengan saudara, bermain congklak, atau memperhatikan motif batik yang berulang, mereka sedang membangun dasar kemampuan matematika tanpa menyadarinya.
Menariknya lagi, banyak aktivitas yang dekat dengan budaya Indonesia ternyata menyimpan konsep-konsep matematika. Cara belajar inilah yang dikenal sebagai etnomatematika, sebuah pendekatan yang membantu anak memahami matematika melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupannya.
Yuk, kenali bagaimana budaya dan aktivitas sederhana di rumah dapat menjadi sarana belajar matematika yang menyenangkan bagi si kecil!
Mengenal Etnomatematika
Istilah etnomatematika pertama kali dikenalkan oleh matematikawan asal Brasil, yaitu Ubiratan D’Ambrosio, untuk menggambarkan hubungan antara matematika dengan budaya. Menurut konsep ini, setiap kelompok masyarakat memiliki cara tersendiri dalam menggunakan ide-ide matematika untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, matematika bukan hanya tentang angka di buku pelajaran. Matematika juga hadir dalam cara masyarakat menghitung hasil panen, membuat anyaman, membangun rumah adat, mengatur pola tenun, berdagang di pasar, hingga bermain permainan tradisional.
Pendekatan ini sangat sesuai diterapkan pada anak usia dini. Para ahli perkembangan anak menjelaskan bahwa anak belajar paling baik melalui pengalaman yang nyata dan bermakna. Mereka lebih mudah memahami konsep ketika dapat melihat, menyentuh, mencoba, dan mengalami sendiri, dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan yang bersifat abstrak.
Konsep Matematika dalam Budaya & Aktivitas Sehari-hari
Sering kali kita tidak menyadari bahwa matematika hadir dalam setiap aktivitas yang dilakukan anak. Misalnya, ketika anak mengamati motif batik atau tenun, mereka sebenarnya sedang melihat berbagai pola yang berulang, simetri, bentuk geometri, hingga proses pengulangan (repetition). Semua itu merupakan konsep dasar yang kelak dipelajari dalam matematika.
Begitu pula ketika melihat rumah adat, anak dapat mengenal berbagai bentuk bangun datar dan bangun ruang, seperti segitiga pada atap, persegi panjang pada dinding, atau susunan tiang dengan pola tertentu.
Kesempatan belajar juga bisa ditemukan saat berkunjung ke pasar tradisional. Anak dapat melihat bagaimana pedagang menghitung jumlah barang, menggunakan timbangan, memberikan uang kembalian, atau membandingkan harga. Aktivitas tersebut memperkenalkan konsep bilangan, pengukuran, dan perbandingan dalam situasi yang nyata.
Permainan tradisional pun menyimpan banyak unsur matematika, contohnya:
- Congklak melatih anak menghitung, membuat strategi, memperkirakan langkah, dan memecahkan masalah;
- Engklek membantu anak mengenal urutan angka, posisi, pola, dan koordinasi gerak;
- Lompat tali dapat digunakan untuk menghitung lompatan, mengenal ritme, serta memperkirakan urutan.
Tidak hanya itu, kesempatan belajar matematika sebenarnya hadir hampir setiap hari di rumah. Saat membantu Mom & Dad memasak, anak belajar mengukur bahan, membandingkan banyak dan sedikit, serta memahami konsep berat dan volume. Ketika menyusun piring di meja makan, mereka belajar mengelompokkan benda berdasarkan jumlah atau ukurannya. Saat mengelompokkan buah berdasarkan warna atau jenis, anak sedang belajar mengklasifikasikan objek. Bahkan ketika menghitung langkah menuju kamar atau memperkirakan waktu perjalanan, mereka mulai mengenal konsep bilangan dan pengukuran.
Tanpa disadari, semua pengalaman tersebut membantu anak membangun pemahaman matematika secara alami. Mereka belajar bukan karena diminta menghafal rumus, tapi karena matematika memang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Etnomatematika Bermanfaat bagi Anak?
Ketika matematika diperkenalkan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak, proses belajar terasa jauh lebih menyenangkan. Etnomatematika dapat membantu anak untuk:
- Memahami Konsep secara Lebih Konkret
Konsep, seperti jumlah, ukuran, pola, atau bentuk menjadi lebih mudah dipahami ketika anak melihat contohnya secara langsung. Hal ini membuat proses belajar terasa lebih masuk akal dibandingkan dengan hanya melihat gambar di buku. - Mengembangkan Kemampuan Berpikir Logis dan Pemecahan Masalah
Saat bermain congklak, menyusun balok, atau memperkirakan jumlah bahan makanan, anak belajar mengamati, membandingkan, membuat prediksi, hingga mencari solusi. Kemampuan-kemampuan ini merupakan fondasi penting dalam berpikir matematis. - Menumbuhkan Kecintaan terhadap Budaya
Ketika matematika dipelajari melalui batik, permainan tradisional, rumah adat, atau makanan khas daerah, anak tidak hanya belajar berhitung. Mereka juga mengenal warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa. - Membuat Matematika Terasa Menyenangkan
Banyak anak menganggap matematika sulit karena diperkenalkan dalam bentuk yang terlalu abstrak. Sebaliknya, ketika matematika hadir melalui permainan, cerita, dan aktivitas sehari-hari, anak cenderung lebih antusias dan percaya diri untuk belajar.
Dengan begitu, etnomatematika tidak hanya membantu mengembangkan kemampuan berpikir anak, tapi juga menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya lokal sejak dini.
Cara Orang Tua Menerapkan Etnomatematika di Rumah
Mom & Dad, momen-momen sederhana bersama keluarga dapat menjadi kesempatan terbaik untuk mengajarkan matematika kepada anak. Yuk, coba beberapa aktivitas berikut untuk menerapkan Etnomatematika di rumah!
- Mengajak Anak Menemukan “Matematika” dalam Aktivitas Sehari-hari
Keseharian anak sebenarnya penuh dengan kesempatan belajar matematika. Yang dibutuhkan hanyalah mengajak anak untuk memperhatikan dan berdiskusi tentang konsep matematika.
Melalui percakapan sederhana dan rutinitas harian, Mom & Dad dapat membantu anak mengembangkan kemampuan menghitung, mengelompokkan, membandingkan, mengenali pola, mengukur, dan memecahkan masalah tanpa harus membuat suasana belajar seperti di ruang kelas.Aktivitas Sehari-hari
Kalimat Ajakan untuk Anak
Naik atau turun tangga
“Yuk, kita hitung, ada berapa anak tangga sampai ke atas? Kalau turun lagi, jumlahnya tetap sama atau beda ya?”
Membagikan camilan
“Kalau kita makan bertiga, supaya semua mendapat bagian yang sama, harus dibagi bagaimana ya?”
Berjalan atau bepergian
“Menurutmu, mana yang lebih dekat, rumah nenek atau supermarket? Kira-kira kita butuh berapa menit sampai di sana?”
Merapikan mainan
“Yuk, kelompokkan mainan ini. Mana yang bentuknya sama? Mana yang paling banyak? Mana yang paling sedikit?”
Membantu memasak
“Kita butuh tiga butir telur. Boleh bantu hitung? Tepungnya lebih banyak atau gulanya ya?”
Mengamati batik atau anyaman
“Coba lihat motifnya. Pola apa yang berulang? Bisa temukan bentuk lingkaran, segitiga, atau persegi?”
- Gunakan Budaya Lokal sebagai Media Belajar
Salah satu kekuatan etnomatematika adalah menghubungkan pembelajaran yang akrab dengan anak. Misalnya, ketika melihat motif batik atau kain tenun, ajak anak mencari pola yang berulang. Mom & Dad dapat mengajak anak berdiskusi: “Bagian mana yang bentuknya sama?” , “Pola ini berulang setiap berapa gambar?”
Saat melihat anyaman bambu atau tikar pandan, anak dapat mengamati garis yang saling bersilangan, bentuk persegi, atau pola yang terbentuk. Rumah adat juga bisa menjadi media belajar. Anak dapat mengenali bentuk segitiga pada atap, persegi panjang pada dinding, atau menghitung jumlah tiang penyangga. Bahkan ketika membuat makanan tradisional bersama, anak dapat belajar mengukur, menghitung, membandingkan ukuran, dan mengenal konsep pecahan sederhana.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menghubungkan matematika dengan budaya membuat pembelajaran terasa lebih bermakna karena anak belajar melalui sesuatu yang mereka kenal dan alami sendiri. - Hidupkan Kembali Permainan Tradisional
Permainan tradisional bukan hanya menyenangkan, tapi juga kaya akan konsep matematika yang dapat diajarkan kepada anak. Misalnya:- Congklak (dakon) melatih anak menghitung biji, membuat strategi, memperkirakan langkah berikutnya, serta memecahkan masalah;
- Engklek membantu anak mengenal urutan angka, posisi, bentuk, dan koordinasi gerak;
- Lompat tali dapat digunakan untuk menghitung jumlah lompatan, mengenali ritme, dan membandingkan hasil;
- Petak umpet mengenalkan konsep menghitung urutan, waktu menunggu, dan orientasi ruang.
- Biasakan Anak Mengamati, Membandingkan, dan Bertanya
Belajar matematika bukan hanya tentang menemukan jawaban yang benar, tapi juga tentang melatih cara berpikir. Oleh karena itu, biasakan anak untuk mengamati lingkungan sekitar dan mengajukan pertanyaan sederhana.
Misalnya ketika berjalan-jalan, Mom & Dad dapat bertanya:- “Mana pohon yang lebih tinggi?”
- “Ada berapa roda pada kendaraan ini?”
- “Bentuk jendelanya seperti apa?”
- “Menurutmu, mana yang lebih berat?”
- “Pola apa yang kamu lihat?”
- “Kalau kita tambah satu lagi, jumlahnya jadi berapa?”
- Hargai Cara Berpikir Anak dan Apresiasi Anak
Mom & Dad, dalam pendekatan etnomatematika, proses berpikir anak jauh lebih penting daripada sekadar memperoleh jawaban yang benar. Anak didorong untuk menjelaskan bagaimana mereka menemukan jawaban berdasarkan pengalaman dan pengamatannya.
Misalnya ketika anak mengatakan ada lima apel, Mom & Dad dapat bertanya: “Kamu menghitungnya bagaimana?”, “Mengapa kamu memilih jawaban itu?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar mengomunikasikan proses berpikirnya. Selain memperkuat pemahaman konsep matematika, anak juga belajar bahwa setiap orang dapat memiliki cara berpikir yang berbeda selama alasannya masuk akal. Hal ini sejalan dengan semangat etnomatematika yang menghargai beragam cara masyarakat memahami dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. - Jadikan Matematika sebagai Bagian dari Budaya Keluarga
Etnomatematika bukanlah kegiatan belajar yang harus dijadwalkan secara khusus. Sebaliknya, pendekatan ini mengajak keluarga untuk menjadikan matematika sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Saat berbelanja di pasar, memasak bersama, berkebun, membuat kerajinan, menghadiri acara adat, atau menikmati pertunjukan budaya, selalu ada kesempatan untuk mengajak anak mengenali jumlah, bentuk, pola, ukuran, waktu, maupun hubungan antarbenda.
Semakin sering anak melihat matematika hadir dalam budaya dan kehidupan keluarganya, semakin mudah mereka memahami bahwa matematika bukanlah sesuatu yang asing atau menakutkan.
Mom & Dad, buku latihan dan lembar aktivitas tentu tetap penting untuk membantu anak berlatih dan menguasai kemampuan matematika secara bertahap. Namun, jangan lupa bahwa kesempatan belajar juga ada di sekitar kita.
Melalui pendekatan etnomatematika, anak dapat mengenal konsep berhitung, pola, bentuk, ukuran, hingga simetri saat bermain permainan tradisional, berkunjung ke pasar, atau mengamati motif kain dan bangunan khas daerah.
Pengalaman-pengalaman sederhana ini membuat anak menyadari bahwa matematika bukan hanya pelajaran di sekolah, tapi juga bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari. Saat pengalaman tersebut dipadukan dengan latihan yang konsisten melalui buku dan lembar aktivitas, pemahaman anak menjadi lebih kuat karena mereka tidak hanya tahu cara mengerjakan soal, namun juga memahami mengapa konsep tersebut penting dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan nyata!
Sumber:
Baroody, A. J. (2017). The use of concrete experiences in early childhood mathematics instruction. In Advances in Child Development and Behavior, 53, 43–87. https://doi.org/10.1016/bs.acdb.2017.03.001
Batiibwe, M. S. K. (2025). Ethnomathematics as a pedagogical tool for mathematics education: Opportunities and challenges. SN Social Sciences, 5, 221. https://doi.org/10.1007/s43545-025-01260-0
Batiibwe, M. S. K. (2024). The role of ethnomathematics in mathematics education: A literature review. Asian Journal for Mathematics Education, 3(4), 383–405. https://doi.org/10.1177/27527263241300400
D’Ambrosio, U. (2001). In My Opinion: What Is Ethnomathematics, and How Can It Help Children in Schools? Teaching Children Mathematics, 7, 308–310. https://doi.org/10.5951/tcm.7.6.0308
Global Conference Institute (GCI). (2019). Ethnomathematics as a culturally based approach in mathematics learning. Diakses pada 14 Juli 2026. https://series.gci.or.id/article/143/12/icestech-2019
Hartono, dkk. (2026). The Integration of Ethnomathematics Into Mathematics Teaching In Inclusive Education: Study Literature Research. International Journal of Mathematics and Science Education, 3 (2), 10–14. https://international.arimsi.or.id/index.php/IJMSE/article/view/333
Mathematical Association of America (MAA). (2025, 18 September). Ethnomathematics: A culturally responsive approach to learning. Diakses pada 14 Juli 2026. https://maa.org/math-values/ethnomathematics-a-culturally-responsive-approach-to-learning/
Mustika, Juitaning. (2022). Oemah Matematika: Pendampingan Pembelajaran Matematika Berbasis Etnomatematika Untuk Anak-Anak Di Kelurahan Yosorejo. Journal of Social Sciences and Technology for Community Service (JSSTCS), 3 (1), 101–107. https://ejurnal.teknokrat.ac.id/index.php/JSSTCS/article/view/1899/849
Oodles Math. (n.d.). Creating a math-friendly home environment: Tools and resources for parents. Diakses pada 14 Juli 2026. https://www.oodlesmath.com/blog/creating-a-math-friendly-home-environment-tools-and-resources-for-parents/
Rohmah, Naili., Utami, Tiara Nurul. (2026). Etnomatematika untuk Mengenalkan Numerasi Anak Usia Dini: Systematic Literature Review. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(1), 1346–1356. https://murhum.ppjpaud.org/index.php/murhum/article/view/1910


